UMUR DAN PENDAMPINGAN SUAMI DENGAN LAMA PERSALINAN KALA II PADA IBU PRIMIPARA

Yuliza Sofya Wati 1, Yuni Kusmiyati 2, Siti Tyastuti 3

ABSTRAK 

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)  di Indonesia  cukup tinggi, yaitu 228 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH). Kematian Meternal di Indonesia disebabkan oleh partus lama 9% yang dapat terjadi pada kala II lama yang sangat berisiko bagi ibu dan janin. Prevalensi Persalinan Kala II lama di Kabupaten Wates Kulon Progo pada tahun 2011 menempati  urutan tertinggi   yaitu sebesar 12,58%. Berdasarkan studi pendahuluan di RSUD Wates pada tahun 2010 jumlah kala II lama banyaknya 1 %  meningkat 4,5 % pada tahun 2011, ibu bersalin dan usia risti ( > 35 tahun ) sebanyak 2,7 %. Diketahuinya hubungan umur dan pendampingan suami  dengan lama persalinan primipara di RSUD Wates Kulon Progo 2012. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasional dengan desain studi cohort. Teknik pengambilan sampel adalah purvosive sampling. Untuk mengetahui variabel umur dan pendampingan terhadap variabel lama nya persalinan pada kala II pada ibu bersalin primipara di RSUD Wates Kulon Progo. Terdapat  64  responden. Hasil uji chi square p – value 0,010 yang berarti ada hubungan umur dengan kejadian lama kala II. Terdapaat 4 (12,5%) Ibu bersalin  yang didampingi bersalin  >2jam.  (87,5%) ibu bersalin yang didampingi   bersalin ≤ 2 jam dengan hasil p- value 0,000 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara pendampingan dengan kejadian lama kala II. Analisis multivariat  koefisien regresi determinan sebesar 0,340 . Ada hubungan antara umur dan pendampingan suami dengan kejadian lama kala II nilai p- value 0,010. Umur memiliki risiko 4 kali dan pendampingan memiliki risiko 12 kali untuk mengalami lama kala II. Koefesien regresi determinan  dapat disimpulan variabel lama kala II dapat dijelaskan oleh variabel umur dan pendampingan sebesar 34%.

Kata kunci : Umur Ibu Bersalin Primipara, Pendampingan suami, Lama kala II

Type : Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak

Bibliografi : JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK, Vol. 3, No. 1, Juli 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 28-10-2013

HUBUNGAN KEJADIAN KURANG ENERGI KRONIS (KEK) DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL TRIMESTER I DI PUSKESMAS MANTRIJERON TAHUN 2011

Huriyah1, Siti Tyastuti2, Suherni3

ABSTRAK

Data Direktorat Kesehatan Keluarga menunjukkan bahwa 40% penyebab kematian ibu adalah perdarahan. Risiko perdarahan diperberat apabila bumil menderita anemia. Faktor predisposisi terbesar terjadinya anemia adalah defisiensi gizi. Status gizi bumil dapat diukur melalui Lingkar Lengan Atas (LILA). LILA < 23,5 cm mencerminkan bumil menderita Kurang Energi Kronis (KEK). Angka prevalensi ibu hamil dengan KEK di Puskesmas Mantrijeron tahun 2011 (30,8%) disertai dengan tingginya angka prevalensi ibu hamil dengan anemia (37,55%). Tujuan penelitian diketahuinya hubungan kejadian KEK dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester I di Puskesmas Mantrijeron tahun 2011. Metode  penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah semua bumil yang tercatat dalam register Puskesmas Mantrijeron Tahun 2011 sebanyak 245 orang. Teknik sampling menggunakan consecutive sampling dengan sampel sebanyak 146 orang. Uji analisis menggunakan chi square dengan α 5%. Hasil: sebanyak 29,5% ibu hamil menderita KEK dan 43,2% ibu hamil mengalami anemia. Terdapat hubungan antara kejadian KEK dengan kejadian anemia pada ibu hamil Trimester I di Puskesmas Mantrijeron Tahun 2011 (X2 hitung=9,584 p-value=0,002). Rasio Prevalensi sebesar 1,748 menunjukkan bahwa KEK merupakan faktor risiko terjadinya anemia.

Kata Kunci:  KEK,  anemia, ibu hamil trimester I

Type : Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak

Bibliografi : JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK, Vol. 3, No. 1, Juli 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 28-10-2013

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN KEIKUTSERTAAN DALAM POSYANDU LANSIA

Restia Cahyaningrum1 , Siti Tyastuti2, Sabar Santoso3

ABSTRAK

Sensus Amerika (berdasar angka BPS Indonesia) Indonesia mengalami kecenderungan naiknya jumlah penduduk berusia diatas 65 tahun. Dari sebaran penduduk lansia menurut provinsi, persentase penduduk lansia di provinsi D.I. Yogyakarta 14,02%, Jawa Tengah 10,99%, Jawa Timur 10,92% dan Bali 10,79%. Angka kesakitan (morbiditas) penduduk lanjut usia meningkat, 28% pada tahun 2003, 29.9% pada 2005, 31.1% pada 2007, dan 30,4% pada 2009. Peningkatan mutu dari segi biologi maupuan psikososial sangat dibutuhkan agar mereka dapat menikmati hidup lebih baik, dan ikut menunjang tindakan preventif, serta promotif kesehatan dalam Primary Health Care sesuai Paradigma sehat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan program posyandu lansia. Posyandu Lansia (Kelompok Usia Lanjut) merupakan suatu wadah pelayanan kepada usia lanjut di masyarakat dimana proses pembentukan dan pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM), lintas sektor pemerintah dan non-pemerintah, swasta, organisasi sosial dan lain-lain, dengan menitik beratkan pelayanan pada upaya promotif dan preventif. Dalam kegiatan posyandu ini pengetahuan dan sikap lansia sangat berpengaruh terhadap keaktifan kehadiran posyandu.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap lansia terhadap keikutsertaan  ke posyandu lansia.Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian studi korelasi (Correlation Study) dengan rancangan/desain observasional/survey. Sampel dalam penelitian berjumlah 67 lansia yang ada di Posyandu Lansia RW 4 Kelurahan Wirogunan. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner dan data sekunder atau dokumentasi. Analisa data secara multivariate menggunakan uji regresi ligistik.Hasil analisis adalah nilai PR hubungan tingkat pengetahuan dan sikap lansia dengan keikutsertaan di Posyandu Lansia melalui uji Regresi Logistik menunjukkan angka 3,252 untuk tingkat pengetahuan dan 2,990 untuk sikap. Secara statistik dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat pengetahuan 3,252 kali lebih berhubungan dengan keikutsertaan Posyandu lansia dibandingkan sikap yang hanya berhubungan 2,990 kali.

Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Keikutsertaan, Posyandu lansia

Type : Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak

Bibliografi : JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK, Vol. 2, No. 2, November 2012

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 28-10-2013

HUBUNGAN KENAIKAN BERAT BADAN AKSEPTOR DENGAN LAMA PENGGUNAAN KB PIL DAN SUNTIK DI RB BINA SEHAT BULAN JANUARI 2005

Asmar Yetti Zein, Yani Widyastuti,Sari Hastuti, Anita Rahmawati

ABSTRACT

Back ground: The side effect contraception oral pill and injection is the increase of the weight. The contraception using steroid hormone can cause increasing weight for certain people. This is mainly influenced by the component of the progesterone hormone in the contraception (FK UGM, 1989). The components in the progesterone hormone trigger the raising of the appetite, cause increasing weight for the clients who use hormone.

The objectives of the research is to know the increasing of the weight on the Oral Pil acceptor and injections in RB Bina Sehat in January 2005, and to know the relationship between the increasing of the acceptors weightwith the length of using Oral Pit and injection.

Methodology: The method is descriptive by using cross sectional approach, using secondary data (documentation) and primary data. The research was brought about on January 1 st, 2005 to January 31, 2005. The numbers of the subjects are 90 respondents.

The result of the research. The descriptions of the respondents who use Oral Pil are 2030 years old (76,7%), Moslems (93,3%), high school graduated (83,3 %) laborer and house wife (23,4 %). The descriptions of respondences KB Injection are 20-30 years old 68,3%, Moslems 86,7%, high school graduated 71, 7% labourer 26, 7%. From bivariate analysis, it is found pairet test sample West for Oral Pil P=0,002 (P<0,05), so there is difference of the weight before and after using injection. From the two pairet test and sample West. It is know that there is relationship between the using Oral Pil and injection with increasing of weigh. Beside on the independent sample West it is known P=0,797 (P>0,05) so there is no significant difference on the increasing of the weight between the pill users and injection users. The multivariate analysis with partial correlation test. It is known P=0,771 (P>0,05) so there is no difference on increasing weight between using pill and injection base on the length of using contraception means. So it can be said that the length of using pill and injection as contraception means is not meaningful in influencing the increasing the weigh.

Conclusion: There is meaningful difference between the former weight of the acceptors using pill and injection with the last weight. There is no significant difference of the increasing the weight of pill users and injections. There is no difference of increasing of the weight between pill user and injection user ones beside on the length of using the contraception means.

Keyword: contraception oral pill and injection, increase of the weight

Type : Jurnal Teknologi Kesehatan

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN, Vol. 3, No. 2, Juli 2007

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 28-10-2013

HUBUNGAN KADAR HAEMOGLOBIN DAN PARITAS DENGAN BERAT BAYI LAHIR DI PUSKESMAS MERGANGSAN KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2005

Asmar Yetti Zein, Sari Hastuti, Yani Widyastuti,Anita Rahmawati

ABSTRACT

Back Ground: One of the causes of the high index of maternal mortality in Indonesia is anemia gravidarum. It is know that suffering anemia during the pregnancy influences the infants’ weight being born. In the Public Health Centre of Mergangsan Yogyakarta in 2004, there is 25,6% of pregnant women suffering anemia. This is caused by the paritas toward the perinated death.

The Objective of the research: This research is aimed to know the relationship between the anemia gravidarum and paritas with Birth Weight Baby in the Public Health Centre of Mergangsan Yogyakarta 2005

The Methodology: This research belongs to an analytical descriptive one by applying cross sectional approach. It consists of two independent variables and one dependent variable with nominal scale. To know the correlation of both is used the chi-square test. Meanwhile, to know which independent variable that has greater influence, is used logistic regression analysis.

The result of the research: The number of women giving birth in the Public Health Centre of Mergangsan 2005 is 812. Of the women giving birth with haemoglobin percentage less than 11 gr %, there are 649 (79,9%) with average of haemoglobin percentage 10,3 gr%. On the paritas 1 and = 5, there are 425(52,3%), with average of paritas 2,10. Mean while, on the category of weight less than 2500 gr, there are 57 (7%), with average of weight 30 34 gr %. Women with percentage of the haemoglobin during the pregnance < 11gr % give low Birth Weight Baby than them who have normal percentage of the haemoglobin, X2= 8,38, P = 0,0004 les than P=0,05. Paritas 1 and = 5 will give Birth Weight Baby that is lower than paritas 2-4 X2=7,88, P=0,005 les than P=0,05. The risk of the haemoglobin percentage factor increases the risk of low Birth Weight Baby greater than the risk of paritas, RR haemoglobin 4,698, RR paritas 2,210

Conclusion: There is positive relationship between the haemoglobin percentage during the pregnancy with the Birth Weight Baby, and there is positive relationship between the paritas with the infants’ weigh being born. The factor of anemia risk (4,698) more probably causing the risk of low Birth Weight Baby than the factor or paritas risk (RR 2,210)

Keyword: hemoglobin, pregnant,paritas, Birth Weight Baby

Type : Jurnal Teknologi Kesehatan

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN, Vol. 3, No. 2, Juli 2007

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 28-10-2013

HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI DENGAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA 6-24

Elfida, Emilda AS, Anita Rahmawati

ABSTRAK

Pemberian makanan pendamping ASI harus dilakukan secara bertahap dan berbeda dengan jenis perasaan masing-masing memperkenalkan makanan baru, mulai membentuk bubur kental, jus buah, buah segar, makanan krim, makanan ringan dan makanan akhirnya padat. bayi, termasuk yang paling mudah menderita gangguan gizi kelompok. Dari SDKI data menunjukkan 30% dari bayi di bawah usia enam bulan selain ASI diberi makanan, susu 18% payudara dan susu formula, susu dan 9% air dan susu 20% dan jus. Pemberian MP-ASI terkadang tidak memadai baik dari segi kuantitas dan kualitas. Menurut SDKI hanya 41,2% bayi usia 6-23 bulan diberi makan sesuai dengan saran bahwa ASI, lebih dari 3 (tiga) dan kelompok makanan dengan frekuensi minimal makan.

Tujuan: Untuk menentukan karakteristik hubungan ibu menyusui dengan memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi usia 6-24 bulan di Desa Alue Naga distrik Kuala Syiah kota Banda Aceh. Penelitian ini adalah pendekatan cross sectional deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 6-24 bulan yang telah tercatat di Desa Alue Naga, total 52 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total populasi, pengumpulan data dilakukan dengan cara interviews.Furthermore uji statistik dilkukan dipandu menggunakan uji chi-square dengan SPSS 16.0 dan pengujian hipotesis didasarkan pada nilai P <0,05. Hasil uji statistik dengan (chi-square) menunjukkan bahwa responden dengan pendidikan dasar memberikan makanan pendamping ASI yang tepat tidak dianjurkan oleh sebanyak 24 orang (82,2%) nilai P sebesar 0,001 (p <0,05), responden yang memiliki kurang pengetahuan memberikan makanan pendamping ASI yang tepat tidak dianjurkan oleh beberapa 19 orang (73,1%) nilai P dari 0,012 (p <0,05), dan responden yang memiliki paritas multigravida memberikan makanan pendamping ASI yang tepat tidak dianjurkan oleh sebanyak 17 orang (73, 9 %) nilai P dari 0,218 (p> 0,218). Kesimpulan: Ada hubungan tingkat pendidikan dengan pemberian makanan pendamping ASI, ada hubungan pengetahuan dengan pemberian makanan pendamping ASI dan tidak ada hubungan antara paritas dengan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi usia 6-24 bulan.

Kata kunci: MP-ASI, pendidikan ibu, pengetahuan, ibu menyusui paritas

Type : Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak

Bibliografi : JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK, Vol. 2, No. 2, November 2012

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 28-10-2013

HUBUNGAN FAKTOR IBU DAN FAKTOR JANIN DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN WATES

Ulfatuni’mah, Endah Marianingsih Theresia, Anita Rahmawati

ABSTRAK

Penyebab utama kematian perinatal usia 0-6 hari adalah gangguan pernafasan (37%). Asfiksia neonatorum disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor kesehatan ibu dan janin selama kehamilan dan persalinan. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan antara faktor ibu (KPD, kala satu lama, kala dua lama, hipertensi kronis, hipertensi dalam kehamilan dan pre eklamsi, persalinan patologis, PAP, dan infeksi ibu) dan faktor janin (usia kehamilan prematur, usia kehamilan posterm, gemelli, BBLR, dan kelainan kongenital) dengan kejadian asfiksia neonatorum. Penelitian dilaksanakan dengan desain cros sectional. Lokasi penelitian di RSUD Wates Kabupaten Kulonprogo Yogyakarta. Populasi penelitian adalah semua ibu bersalin di RSUD Wates Kulonprogo pada bulan Januari sampai Desember tahun 2011 berjumlah 2246 ibu. Sampel diambil dengan tehnik simple random sampling dengan jumlah sampel 350 sampel dan yang memiliki catatan medis lengkap sebanyak 336 sampel. Data diambil data sekunder dari rekam medis pasien. Analisa data menggunakan bivariat dengan program R.2.9.0 dengan taraf signifikasi 0,05. Hasil: Faktor ibu yang mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian asfiksia neonatorum adalah KPD (p-value 0,00), kala satu lama (p-value 0,00), kala dua lama (p-value 0,00), dan persalinan patologis (p-value 0,00). Faktor janin yang mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian asfiksia neonatorum adalah usia kehamilan prematur (p-value 0,00) dan BBLR (p-value 0,01). Sedangkan hipertensi kronis, hipertensi dalam kehamilan dan preeklamsi, PAP, penyakit infeksi, usia kehamilan posterm, gemelli, dan kelainan kongenital tidak mempunyai hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian asfiksia neonatorum. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara faktor ibu (KPD, kala satu lama, kala dua lama dan persalinan patologis) dan faktor janin (usia kehamilan prematur dan BBLR) dengan kejadian asfiksia neonatorum.

Kata Kunci: faktor ibu, faktor janin, asfiksia neonatorum

Type : Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak

Bibliografi : JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK, Vol. 2, No. 2, November 2012

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 28-10-2013

DUKUNGAN SOSIAL MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PASIEN HEMODIALISIS DI UNIT HEMODIALISIS RUMAH SAKIT PANEMBAHAN SENOPATI

Herlin Lidya1, Sutejo2, Masta Hutasoit3

ABSTRAK

Hemodialisis merupakan terapi pengganti fungsi ginjal. Pasien dengan hemodialisis jangka panjang sering merasa khawatir akan kondisi sakitnya yang tidak dapat diramalkan dan gangguan dalam kehidupannya, mereka biasanya mengalami masalah fi nansial, kesulitan dalam mempertahankan pekerjaan, depresi akibat sakit yang kronis dan ketakutan menghadapi kematian. Hal tersebut menyebabkan menurunnya kualitas hidup  pasien.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial terhadap kualitas hidup pasien hemodialisis di RS Panembahan Senopati, Bantul. Penelitian ini adalah penelitian cross sectional, yang dilakukan pada tanggal  9–14 April 2012 di unit hemodialisis RSUD Panembahan Senopati, Bantul, Yogyakarta.  Populasi adalah seluruh pasien yang menjalani hemodialisis, sedangkan sampel ditentukan purposive sebanyak 52 orang, dengan kriteria pasien gagal ginjal kronik, dapat membaca dan menulis, bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini, memiliki kondisi yang baik/ stabil  (sadar, tidak sesak, tidak mengeluh pusing dan lemas). Variabel bebas adalah dukungan sosial,  variabel terikatnya  kualitas hidup. Dukungan sosial mencakup sumber dukungan yaitu sumber primer, sekunder, dan tersier serta jenis dukungan sosial yang terdiri dari dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan informatif, yang dikembangkan dari  The Social Support Questionare oleh Sarason, sedangkan kualitas hidup menggunakan indeks kualitas hidup Spitzer. Data dianalisis dengan Spearman Rank test dengan tingkat signifi kansi <0,01. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefi sien korelasi antara dukungan sosial dengan kualitas hidup adalah p=0,760 dengan koefi sien determinan sebesar 55,76%. Sebanyak 96,2 % pasien mempunyai  dukungan sosial yang tinggi. Terdapat hubungan yang positif, kuat dan bermakna antara dukungan sosial dengan kualitas hidup pasien.

Kata kunci: hemodialisis, dukungan sosial dan kualitas hidup

Type : Jurnal Teknologi Kesehatan

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN, Vol. 9, No. 2, September 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 25-10-2013

PERMAINAN ULAR TANGGA SEBAGAI MEDIA GIZI DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU GIZI ANAK SD DI KOTA YOGYAKARTA

Agus Wijanarka, Weni Kurdanti, Setyowati, Nurul Huda Syamsiatun

ABSTRAK

Pendidikan gizi di sekolah mempengaruhi pemilihan makanan dan keamanan makanan.  Upaya untuk meningkatkan pengetahuan gizi dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, dengan media yang mudah dipahami oleh anak. Anak SD adalah anak yang suka belajar sambil bermain. Mereka lebih tertarik dengan obyek dan media belajar yang menyenangkan. Sebagian besar pendidikan gizi dilakukan dengan memberikan leafl et dan poster. Oleh karena itu perlu dikembangkan media pendidikan yang atraktif dan menarik untuk anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan gizi dengan  media permainan ular tangga terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku anak SD dalam  memilih makanan dan keamanan makanan. Penelitian ini adalah penelitian eskperimental semu dengan rancangan pre dan pos test, pada anak kelas 3,4,5, SD  SD Keputran 1, 4 dan 7 Yogyakarta, tahun 2012. Variabel bebas adalah permainan ular tangga, sedangkan variabel terikatnya adalah pengetahuan, sikap dan perilaku anak dalam memilih makanan dan keamanan makanan. Data yang dikumpulkan adalah karakteristik siswa,  pengetahuan, sikap dan perilaku tentang pemilihan makanan dan keamanan pangan. Data dianalisis dengan uji t dan  anova. Peningkatan skor sebelum dan setelah permainan ular tangga terhadap pengetahuan pemilihan makanan, pengetahuan keamanan makanan, sikap pemilihan makanan, sikap keamanan makanan, perilaku pemilihan makanan, dan perilaku keamanan makanan berturut-turut adalah 0,64 + 0,98, 1,13 + 1,16, 0,21 + 0,62, 0,19 + 0,11, 0,19 + 0,09 dan 0,33 + 1,09. Ada perbedaan yang signifi kan pemberian media gizi ular tangga dibandingkan dengan kelompok kontrol  (poster dan leafl et)  dalam meningkatkan pengetahuan pemilihan makanan dan keamanan makanan siswa kelas 4 dan 5 (p<0,05), namun tidak ada perbedaan yang signifi kan terhadap sikap dan perilaku pemilihan makanan dan keamanan makanan pada siswa kelas 3, 4 dan 5. Permainan ular tangga memberikan pengaruh yang signifi kan terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku pemilihan makanan dan keamanan makanan siswa SD (p<0,05). Ada perbedaan yang signifi kan permainan ular tangga dibandingkan dengan kelompok kontrol  yang diberi poster dan leafl et  dalam meningkatkan pengetahuan pemilihan makanan dan keamanan makanan siswa kelas 4 dan 5 (p<0,05).

Kata Kunci: media, pengetahuan, sikap, perilaku gizi.

Type : Jurnal Teknologi Kesehatan

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN, Vol. 9, No. 2, September 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 25-10-2013

INISIASI MENYUSU DINI (IMD) DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA STUNTED PADA ANAK USIA 0-24 BULAN

Asni Nurul Aini, Irianton Aritonang, Tri Siswati

ABSTRAK

Prevalensi anak pendek (stunted) di Indonesia masih tergolong tinggi (35,6%). Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) prevalensi stunted sebesar 22,5%, di Kabupaten Sleman mencapai 25,1%, dan di Kecamatan Moyudan sebesar 26,2%. Tingginya prevalensi tersebut diduga karena praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif yang masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan IMD dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian  stunted.  Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan case control. Lokasi penelitian di Kecamatan Moyudan pada bulan Mei-Juni 2013. Kasus  adalah 50 anak usia 0-24 bulan yang mengalami stunted, sedangkan kontrol adalah anak yang tidak stunted, dengan match by sex and age, dengan jumlah masing-masing 50 anak. Kriteria eksklusi adalah anak yang menderita kelainan fi sik/cacat dan lahir caesar.  Variabel bebas adalah  Praktik IMD dan riwayat ASI eksklusif, sedangkan variabel terikatnya adalah stunted. Data dianalisis dengan chi square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan praktik IMD dan riwayat pemberian ASI eksklusif merupakan faktor risiko terjadinya stunted.

Kata Kunci: Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI eksklusif, stunted.

Type : Jurnal Teknologi Kesehatan

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN, Vol. 9, No. 2, September 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 25-10-2013