PERAWATAN RESTORATIF KELOMPOK SEBAGAI MODEL INTERVENSI KEPERAWATAN UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS FUNGSIONAL LANSIA

      

PERAWATAN RESTORATIF KELOMPOK SEBAGAI MODEL INTERVENSI KEPERAWATAN UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS FUNGSIONAL LANSIA

BondanPalestin’, Maryana’, Sugeng’, BudhyErmawan’

 INTISARI

Perawatan restorative merupakan bentuk intervensi keperawatan yang berfokus pada upaya membantu lansia dalam proses pemulihan dan atau pemeliharaan kapasitas fungsional fisiknya serta memberikan bantuan kepada lansia untuk mengkopensasikan kemunduran funsional fisiknya sehingga mencapai derajat fungsional yang optimal dan mampu memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri. Model Perawatan Restoratif Berbasis Kelompok (PRBK) dikembangkan untuk tatanan komunitas. Intervensi tersebut diharapkan dapat  meningkatkan kapasitas fungsional fisik kelompok lansia sehingga memiliki kemandirian dan produktifitas hidup yang lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kapasitas fungsional lansia berdasarkan efek perawatan restorative secara individu dan kelompok mengendalikan factor kapasitas fungsional lansia sebelum intervensi, umur, depresi dan dimensia.

Desain penelitian menggunakan quqsi-eksperimen dengan pendekatan pengukuran sebelum dan sesudah pada dua kelompok intervensi yang berbeda (the nonequivalent group design with pretest and posttest). Sampel penelitian adalah 55 lansia di PSTW Budi Luhur dan panti Wredha Hanna Yogyakarta. Data dianalisis dengan uji t, uji product moment dan uji ANCOVA dengan kemaknaan (α) 0,05.

Penelitian menyimpulkan, bahwa: (1) Prilaku lansia sebelum tidak berbeda dengan sesudah mengikuti perawatan restorative individu. (2) Prilaku lansia sebelum berbeda dengan sesudah mengikuti perawatan restotatif berkelompok. (3) Prilaku lansia setelah mengikuti perawatan restorati individu berbeda secara signifikan dengan perawatan restorative berkelompok. (5) Dukungan kelompok behubungan dengan status depresilansia. (6) Dukungan kelompok tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan skor kapasitas fungsional lansia; (7) Kapasitas fungsional lansia sebelum dan sesudah mengikuti perawatan restorative individu tidak berbeda secara signifikan; (8) Kapasitas fungsional sebelum dan sesudah mengikuti perawatan restorative individu tidak berbeda secara signifikan; (8) Kapasitas funsional sebelum dan sesudah mengikuti perawatan restorative berkelompok berbeda secara signifikan; (9) Variabel variable kapasitas fungsional lansia sebelum intervensi, status depresi dan status dimensia merupakan sumber pengganggu (factor kovarian) dalam uji perbedaan kapasitas funsional lansia berdasarkan efek perawatan restorative secara individu dan berkelompok, sedangkan variable umur bukan sebagai sumber penggangu.

Keywords: Kapasitasfungsionallansia, PerawatanRestoratifBerbasisKelompok.

Pengaruh Penambahan Berbagai Konsentrasi Tepung Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) terhadap Jumlah Bakteri Probiotik Lactobacillus casei secara In Vitro

ABSTRAK

Anugrasari Agitya Darma1;Nur Amaliawati2;Suyana3

 Latar Belakang: Probiotik adalah bakteri yang hidup di usus yang bermanfaat dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Prebiotik merupakan makanan yang tidak dapat dicerna yang mampu menstimulasi pertumbuhan bakteri yang bermanfaat di dalam usus manusia.Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang banyak dikenal dan sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Ubi ini mengandung oligosakarida yang berpotensi sebagai prebiotik, salah satunya adalah rafinosa.

Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh penambahan berbagai konsentrasi tepung ubi jalar terhadap jumlah bakteri probiotik Lactobacilluscasei.

Jenis penelitian: Penelitian eksperimen dengan desain penelitian post test with control group, subyek penelitian berupa bakteri Lactobacillus casei galur murni. Bakteri ini diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Pusat Antar Universitas (PAU) Universitas Gajah Mada , Yogyakarta. Obyek penelitian ini adalah ubi jalar varietas sukuh berumur 3 – 5 bulan yang diperoleh dari desa Ropoh, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo yang dibuat tepung dengan konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4%, 5%,6%, 7%, 8%, 9% dan 10% yang ditambahkan pada media de Man Rogosa Sharpe (MRS) dan diinokulasikan strain bakteri L. casei , kemudian dihitung jumlah bakteri L. casei tersebut.

Hasil Penelitian: Rerata jumlah bakteri L. casei pada penambahan berbagai konsentrasi tepung ubijalar 1%-10% (jumlah bakteri x 1010 CFU/ml) berturut turut adalah131,67 ; 461,33 ; 639,33 ; 793,67 ;2581,67 ;2848,33 ;3101,00 ;  3473,67 ; 6091,67; dan8621,33 CFU/ml. Hasil Uji ANOVA satu jalan didapatkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05.

Kesimpulan: Ada pengaruh bermakna penambahan berbagai konsentrasi tepung ubi jalar terhadap jumlah bakteri probiotik L. casei.

Kata Kunci: Pengaruh, Ubi jalar, Jumlah bakteri probiotik, In vitro

Type : Jurnal Teknologi Laboratorium

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI  LABORATORIUM, Vol. 3, No.2, September 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 11-11-2013

FAKTOR PENGHAMBAT DALAM PENGGUNAAN AKBK PADA ASEPTOR KB DI PUSKESMAS MANTRIJERON KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2007

Asmar Yetti Zein 1, Sari Hastuti2

 ABSTRACT

Background : Health Departement’s Policy in the effect to speed up decrease maternal morality rate is by Safe Motherhood Program, until right now, there is mo one contracepation method thjat 100% ideal. Subcutan Device is one of the effective Chosen Contraseption Method. The lowest Subcutan Device acceptor ini Yogyakarta is in Yogyakarta city that is 3,23%. Sub district of Mantrijeron is the lowest Subcutan Device acceptor for compare with another subdictrct in Yogyakarta city that is 0,49%

The objective of Research : To known factors that inhibitor Subcutan Device using in contraception acceptor in Mantrijeron Public Health Yogyakarta city 2007.

Research Method : A description research with cross-sectional approach. Subject of the research is comprehensive  contraception acceptor those using contaraception exept Subcutan Device who visiting in Public Health centre when research be done. Instrument research by questioner.

Result : The research appointed that inhibitor factors in using Subcutan Device in B quadran’s as prominent priority wife and husband is experience with pass contraception, health disturb, phisical examination, cost, accustomed to, and value Subcutan Device. Over for wife in A quadran”s is husband’s attitude, menstruation disturb, side effect, detriment, complication, job and behavior Subcutan Device. Over for husband in D quadrant’s is age, sexual frequency, nothing husband’s permissions, husband’s attitude, menstruation stories, effectiveness, detriment and religion train Subcutan Device and low priority in C quadrant’s is age, sexual frecuency, totally family want, health status physical examination.

Conclusion : Inhibitor factor in using Subcutan Device there is in A quadrant’s 56,78%, im B quadrant’s 61,35% and D quadrant’s 51,85%, where as in C quadrant’s inhibitor less in using Subcutan Device.

Key word: inhibitor factor, Subcutan Device, contraception’s acceptor

Type : Jurnal Teknologi Kesehatan

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI  KESEHATAN, Vol. 3, No.3, November 2007

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 11-11-2013

HUBUNGAN JARAK KEHAMILAN, UMUR, DAN PARITAS IBU TERHADAP KEJADIAN ABORTUS DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

Fatem Hamama1, Suherni2, Asmar Yetti Zein3

INTISARI

AKI di Indonesia ,mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2007. Salah satu penyebabnya adalah perdarahan antara lain abortus berkisar 10-15 %. Abortus merupakan salah satu masalah kesehatan yang menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Tujuan penelitian: untuk mengetahui adakah hubungan jarak kehamilan, umur ibu, dan paritas dengan kejadian abortus pada ibu hamil di RSUD Panembahan Senopati Bantul tahun 2010. Metode penelitian observasional, dengan rancangan cross sectional. Lokasi penelitian di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Populasi penelitian adalah semua ibu hamil tahun 2010. Pengambilan sampel dengan random sampling dengan 323 responden. Analisis menggunakan uji regesi logistic. Hasil: proporsi kejadian abortus RSUD Panembahan Senopati Bantul sebesar 5,4 %. Dari sampel 323 orang ibu hamil diketahui perhitungan variable independen yang berhubungan sebagai variable predictor terhadap kejadian abortus adalah paritas OR=0,714 p-value=0,0293 (p-value < 0,05). Umur dan jarak kehamilan dalam penelitian ini tidak memiliki hubungan terhadap kejadian abortus karena umur memiliki nilai p-value=0,4873 dan jarak memiliki nilai p-value =0,5624 (p-value < 0,05). Variable umur dan jarak dalam penelitian ini dikatakan sebagai variable moderator, yaitu variable yang berpengaruh terhadap variable paritas untuk terjadinya abortus.

Kata Kunci: jarak kehamilan, Umur, Paritas, dan Kejadian Abortus.

Type : Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak

Bibliografi : JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK, Vol. 1, No.1, Juli 2012

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 11-11-2013

Pengujian Aktivitas Amoksisilin Generik dan Paten terhadap Staphylococcus aureus secara In Vitro

Untung Riantoko1, Suyana2, Narendra Yoga Hendarta3

INTISARI

 Latar Belakang: Sebagian masyarakat mengidentikkan obat paten lebih ampuh sehingga wajar jika harganya lebih mahal dibandingkan obat generik. Obat generik pun kerap dicap sebagai obat bagi kaum tidak mampu. Minimnya informasi seputar obat adalah salah satu faktor penyebab obat generik dipandang sebelah mata. Perlu diteliti dan dibuktikan potensi antara obat generik dan paten. Kandungan zat aktif yang sama seharusnya menghasilkan daya hambat yang sama pula.

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui perbedaan aktivitas Amoksisilin generik dan paten terhadap daya hambat pertumbuhan Staphylococcus aureus secara in vitro.

Metode Penelitian: Rancangan true experiment dengan uji laboratoris (in vitro) menggunakan pendekatan Post Test without Control Design. Penelitian ini menggunakan tiga kelompok eksperimen (generik, paten A, paten B) dan masing-masing dilakukan 30 kali pengulangan. Aktivitas Amoksisilin generik dan paten post experiment diukur menggunakan metode dilusi yang mencari Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) setiap jenis Amoksisilin terhadap daya hambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. Analisis data menggunakan statistik parametrik uji beda (Independent T Test) dengan significant level 0,05.

 Hasil: Ada perbedaan KHM antara Amoksisilin generik dan paten terhadap daya hambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil rerata KHM Amoksisilin generik, paten A dan B masing-masing 6,47 mg/ml; 5,20 mg/ml; dan 4,47 mg/ml. Persentase selisih perbedaan KHM Amoksisilin generik dengan paten A adalah 24,42 % sedangkan dengan paten B adalah 44,74 %.

 Kesimpulan: Ada perbedaan yang signifikan aktivitas Amoksisilin generik dan paten terhadap daya hambat pertumbuhan Staphylococcus aureus secara in vitro.

Kata Kunci: Amoksisilin generik, Amoksisilin paten, dilusi, KHM, Staphylococcus aureus.

Type : Jurnal Teknologi Laboratorium

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI  LABORATORIUM, Vol. 3, No.2, September 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 11-11-2013

PENGARUH HEPATOPROTEKTOR SEDUHAN TEH HIJAU (Camellia sinensis l) TERHADAP AKTIVITAS GAMMA GLUTAMYL TRANSFERASE (GGt) PADA RATTUS NORVEGICUS YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA

Marlinda Nur Hastuti1), Subiyono2), M. Atik Martsiningsih2)

ABSTRACT

Latar Belakang : Karbon tetraklorida (CCl4) merupakan senyawa toksik yang dapat menyebabkan kerusakan organ hati yang ditandai dengan peningkatan aktivitas Gamma Glutamyl Transferase (GGT) dalam darah. Kerusakan hati dapat dicegah dengan katekin sebagai antioksidan dalam teh hijau (Camellia sinensis L) yang berfungsi hepatoprotektor.

Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh hepatoprotektor seduhan teh hijau (Camellia sinensis L) terhadap aktivitas Gamma Glutamyl Transferase (GGT) serum tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl4).

Jenis Penelitian : penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain Post Test With Control Group Design. Subjek penelitian ini adalah 25 ekor hewan uji Rattus norvegicus jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan dengan pemberian seduhan teh hijau 0.25 gram/200 gram BB (A), 0.5 gram/200 gram BB (B) dan 1.0 gram/200 gram BB (C). Obyek penelitian ini adalah dosis seduahan teh hijau yang diberikan. Analisis data yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan analisis statistik menggunakan SPSS 17.0 for Windows.

Hasil Penelitian : Hasil analisa deskriptif didapatkan rerata aktivitas GGT kontrol negatif: 13.14 U/l, kontrol positif: 40.92 U/l, perlakuan A: 18.73 U/l, perlakuan B: 13.98 U/l, dan perlakuan C: 9.41 U/l. Uji One-Way ANOVA didapatkan p<0.05 yang menunjukkan adanya perbedaan antar kelompok. Uji LSD antara kelompok kontrol positif-perlakuan A (<0.05), kontrol positif-perlakuan B (<0.05), kontrol positif-perlakuan C (<0.05), kelompok perlakuan A-perlakuan B (<0.05), kelompok perlakuan A-perlakuan C (<0.05), kelompok perlakuan B-perlakuan C (<0.05).

Kesimpulan : Ada pengaruh hepatoprotektor seduhan teh hijau (Camellia sinensis L) terhadap aktivitas Gamma Glutamyl Transferase (GGT) serum tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl4).

Kata Kunci : Teh hijau, karbon tetraklorida, GGT, tikus putih

Type : Jurnal Teknologi Laboratorium

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI  LABORATORIUM, Vol. 3, No.2, September 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 11-11-2013

EFEK RENOPROTEKTIF PERASAN RIMPANG TEMULAWAK (Curcumma xanthorriza Roxb.) TERHADAP KADAR UREUM TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL

Endang Nur Utami ; Anik Nuryati, S.Si, M.Sc. ; M. Atik Martsiningsih, S.Si, M.Sc.

 INTISARI

Temulawak adalah salah satu obat tradisional yang sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia. Temulawak mengandung kurkumin yang bisa mencegah terjadinya kerusakan ginjal. Kurkumin merupakan zat antioksidan yang mampu menangkap radikal bebas didalam sel. Penggunaan parasetamol dengan dosis toksik akan menyebabkan kerusakan pada ginjal. Metabolisme Parasetamol melalui sitokrom P450 membuat Parasetamol mengalami N-hidroksilasi membentuk senyawa antara, N-acetyl-para-benzoquinoneimine (NAPQI), yang sangat elektrofilik dan reaktif.  Indikator terjadinya kerusakan ginjal salah satunya adalah peningkatan kadar ureum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek renoprotektif perasan rimpang temulawak (Curcumma xanthorriza Roxb) terhadap kadar ureum pada  tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi Parasetamol Penelitian ini merupakan pre-post test control group design dengan menggunakan tikus putih sebagai hewan uji sebanyak 24 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok, parasetamol 500 mg/kg BB digunakan untuk menginduksi tikus putih agar terjadi kerusakan pada ginjal. Perasan temulawak dosis 200, 400, dan 800 mg/kg BB diberikan pada masing-masing kelompok perlakuan. Setiap kelompok perlakuan diperiksa kadar ureum (pre-test dan post-test). Data dianalisis secara deskriptif dan statistik menggunakan uji AnovaOne Way dan uji regresi linear pada SPSS 16.0 for Windows. Rata-rata peningkatan kadar ureum tikus putih yang diinduksi parasetamol pada tikus putih yang diberi perasan temulawak dosis 200, 400, dan 800 mg/kg BB adalah 50.33; 35.89 ; 23.47 mg/dl. Hasil uji AnovaOne Way menunjukkan signifikan 0.000 yang berarti ada pengaruh pemberian perasan temulawak terhadap kadar ureum tikus putih yang diinduksi parasetamol.Hasil uji regresi linear adalah terdapat hubungan yang sangat kuat antara pemberian perasan  temulawak dengan penurunan kadar ureum. Penurunan kadar ureum diperkirakan 97.8 % karena perasan temulawak dan 2.2  % karena adanya faktor lain dan dapat disimpulkan bahwa setiap pemberian perasan temulawak dapat memberikan efek renoprotektif terhadap berkurangnya kadar ureum tikus putih yang diinduksi parasetamol sebesar 13.426 mg/dl. Terdapat efek renoprotektif perasan rimpang temulawak (Curcumma xanthorriza Roxb) terhadap kadar ureum pada serum tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi Parasetamol

Kata Kunci: Perasan temulawak, Parasetamol, kadar ureum, tikus putih.

Type : Jurnal Teknologi Laboratorium

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI  LABORATORIUM, Vol. 3, No.1, Februari 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 11-11-2013

PENGARUH VARIASI pH PENGENCER BUFFER GIEMSA TERHADAP HASIL PEWARNAAN Plasmodium falciparum PADA SEDIAAN APUS DARAH TIPIS

One Puji Indrasari1, Anik Nuryati2, Suryanta3

INTISARI

Latar Belakang : Malaria salah satu penyakit infeksi yang tersebar dengan kasus relatif tinggi khususnya di Kulon Progo. Standar baku emas diagnosis malaria adalah pemeriksaan secara mikroskopis pada sediaan darah tipis dan tebal dengan pengecatan Giemsa konsentrasi 10%, pengencer Giemsa Buffer Fosfat pH 7,2 dan waktu 20-30 menit. Pengencer aquades masih digunakan di lapangan dengan persyaratan jernih, tidak berbau dan pH 7,2. Perubahan pH pada larutan Giemsa berpengaruh pada sel-sel darah hasil pewarnaan terutama pH asam dan basa. Sehingga setiap pemeriksaan malaria pengencer Giemsa di cek pHnya dahulu untuk memenuhi persyaratan standar.

Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh variasi pH pengencer Buffer Giemsa terhadap hasil pewarnaan Plasmodium falciparum pada sediaan apus darah tipis. Metode Penelitian : Eksperimen dengan desain penelitian post test without control. Penelitian dilakukan di Laboratorium Parasitologi Jurusan Analis Kesehatan pada bulan Maret – Mei tahun 2012. Subjek penelitian pasien malaria dari Kulon Progo dengan kriteria positif malaria. Sampel darah positif malaria dibuat hapusan darah tipis kemudian diwarnai dengan cat Giemsa 10% menggunakan pengencer Buffer Fosfat variasi pH 6,4 hingga 8,0. Data yang didapat disajikan dalam bentuk tabel kemudian diuji secara deskriptif dan uji statistik Kruskal-Wallis.

Hasil : Hasil analisa deskriptif menunjukkan bahwa hasil pewarnaan makroskopis dan mikroskopis sediaan apus darah pada pengencer Buffer Giemsa pH 7,0 s.d. 7,4 dengan kategori baik, pada pH 6,4 s.d. 6,8 dan 7,4 s.d 8,0 dengan kategori tidak baik. Hasil uji normalitas data berdistribusi tidak normal dari uji Kolmogorov-Smirnov kemudian dilanjutkan uji Kruskal-Wallis dengan nilai Chi-Square sebesar 10.769 dengan nilai signifikasi 0,005 (0,005 < 0,05).

Kesimpulan : Ada pengaruh (p = 0, 005 < α = 0,05) variasi pH pengencer Buffer Giemsa terhadap hasil pewarnaan Plasmodium falciparum pada sediaan apus darah tipis.

Kata Kunci : pH pengencer Buffer Giemsa, Sediaan apus darah tipis dan Malaria

Type : Jurnal Teknologi Laboratorium

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI  LABORATORIUM, Vol. 3, No. 1, Februari 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 11-11-2013

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI GIEMSA TERHADAP HASIL PEWARNAAN SEDIAAN APUS DARAH TIPIS PADA PEMERIKSAAN Plasmodium sp

Suryanta1, Soebiyono2, Eni Kurniati3

INTISARI

Latar belakang : Pemeriksaan malaria dilakukan sediaan darah tebal dan sediaan darah tipis. Pewarnaan sediaan darah digunakan cat Giemsa stock yang harus diencerkan dengan konsentrasi tertentu, agar parasit dalam sel darah merah dapat menerima zat warna Giemsa sehingga memudahkan identifikasi parasit.

Tujuan Penelitian : mengetahui pengaruh variasi konsentrasi Giemsa terhadap hasil pewarnaan sediaan apus darah tipis pada pemeriksaan Plasmodium sp yang diperiksa secara makroskopis dan mikroskopis, mengetahui kualitas hasil pewarnaan berbagai variasi konsentrasi Geimsa dan mengetahui kualitas pewarnaan yang efktif untuk pewarnaan sediaan apus darah malaria.

Metode Penelitian : Jenis eksperimen, sediaan darah tipis yang mengandung Plasmodium sp dilakukan pewarnaan dengan variasi konsentrasi Giemsa 5%, 10%, 15%, 20%, 25% dan 30%.

Hasil : Penilaian makroskopis dan mikroskopis pewarnaan sediaan darah tipis menunjukkan konsentrasi 5% terdapat 4 sediaan darah dengan kriteria baik dan 1 sediaan kurang baik, konsentrasi 10%, 15% diperoleh semua sediaan dengan kriteria baik, sedangkan konsentrasi 20%, 25% dan konsentrasi 30% masing masing terdapat 4 sediaan yang baik dan 1 sediaan kurang baik.. Berdasarkan jumlah skor yang didapat, maka sediaan darah baik sebanyak 86,7% dan kurang baik sebanyak 13,3%. Dari hasil uji menggunakan uji Kruskall-Wallis didapatkan nilai Chi-square 2,231 dengan signifikan  0.816 (>0.05).

Kesimpulan : Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui nilai signifikansi  p=0,816 >0.05 artinya tidak ada pengaruh variasi konsentrasi Giemsa terhadap hasil pewarnaan sediaan apus darah tipis pada pemeriksaan Plasmodium sp, kualitas hasil pewarnaan sesuai standar konsentrasi Giemsa (10%) dan sesuai prosedur kerja dapat memberikan hasil yang baik dalam warna kromatin dan sitoplasma Plasmodium sp, kualitas pewarnaan yang efektif dengan menggunakan konsentrasi Giemsa 10% – 15% dengan lama pengecatan 30 menit memberi warna kromatin parasit merah dan siptoplasma biru.

Kata kunci : Variasi Konsentrasi, Giemsa, Gambaran Makroskopis dan Mikroskopis, Plasmodium sp

Type : Jurnal Teknologi Laboratorium

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI  LABORATORIUM, Vol. 3, No. 2, September 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 11-11-2013

PENGARUH VARIASI VOLUME DARAH PADA TABUNG VACUTAINER K3EDTA TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN

Nina Utami1, Ratih Hardisari2, Suryanta3

Latar belakang: National Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS) merekomendasikan penggunaan tabung vacutainer dalam pemeriksaan hematologi karena memiliki banyak kelebihan. Namun, vacutainer belum digunakan sesuai dengan prosedur dimana tenaga laboratorium mencabut tabung vacutainer dari jarum sebelum tabung selesai menghisap darah sesuai dengan kondisi vakumnya sehingga rasio perbandingan darah dengan antikoagulan menjadi tidak tepat lagi.

Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi volume darah pada tabung vacutainer K3EDTA terhadap kadar hemoglobin.

Metode penelitian: Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan eksperimen. Hasil yang diperoleh akan dianalisis secara deskriptif dan analitik. Variasi volume yang digunakan yaitu 1,0 ml; 1,5 ml; 2,0 ml; 2,5 ml; dan 3,0 ml. Hasil uji dianalisis menggunakan uji ANOVA One Way pada SPSS 16.0 for Windows.

Hasil: Kadar hemoglobin rata-rata 1,0 ml darah adalah 15,60 g%, kadar hemoglobin rata-rata 1,5 ml darah adalah 15,55 g%, kadar hemoglobin rata-rata 2,0 ml darah adalah 15,50 g%, kadar hemoglobin rata-rata 2,5 ml darah adalah 15,55 g%, dan kadar hemoglobin rata-rata 3,0 ml darah adalah 15,58 g%. Hasil uji ANOVA One Way menunjukkan nilai F hitung < F tabel (0,078<2.76). Nilai asymp sig lebih dari 0,05 (0,988>0,05) yang berarti tidak ada pengaruh variasi volume darah pada tabung vacutainer K3EDTA terhadap kadar hemoglobin.

Kesimpulan: Tidak ada pengaruh variasi volume darah pada tabung vacutainer K3EDTA terhadap kadar hemoglobin dengan asymp sig lebih dari 0,05 yaitu 0,988. Kadar hemoglobin rata-rata 1,0 ml darah adalah 15,60 g%, kadar hemoglobin rata-rata 1,5 ml darah adalah 15,55 g%, kadar hemoglobin rata-rata 2,0 ml darah adalah 15,50 g%, kadar hemoglobin rata-rata 2,5 ml darah adalah 15,55 g%, dan kadar hemoglobin rata-rata 3,0 ml darah adalah 15,58 g%.

Kata Kunci: Volume darah, K3EDTA, Kadar hemoglobin, Vacutainer

Type : Jurnal Teknologi Laboratorium

Bibliografi : JURNAL TEKNOLOGI  LABORATORIUM, Vol. 3, No. 2, September 2013

Posted by : ppmdirektorat

Posted on : 11-11-2013