VARIASI PENAMBAHAN TEPUNG TAPIOKA SEBAGAI PENGGANTI “BLENG” (BORAKS) DALAM PEMBUATAN KERUPUK GENDAR DITINJAU DARI SIFAT FISIK, ORGANOLEPTIK DAN MASA SIMPAN

Dewi Nur Hijrahati1, Joko Susilo2, Nurul Huda Syamsiatun3

 1,2,3Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (email : deenhjr@gmail.com atau jokosusilo_gizi@yahoo.com)

 ABSTRACT

 Background : Crisply of Gendar represent product processof rice which circulating many in society. Traditionally making of crisply of gendar use rice raw material and salt of “bleng” or borax . Borax prohibited to be used in making of food product, so that to replace borax used by flour of tapioka which enabled and more peaceful.

Objectives : The knowing of influence of addition variation of flour of tapioka in the place of “bleng” ( borax) to nature of physical, organoleptik and a period to keeping crisply of gendar.

Methods : The study was quasy experimental study by simple random of 4 treatment and 2 times restating and also 3 attempt unit. Sampel tested by 25 panelist rather train. The data of physical was analysis by descriptive analysis. The data of organoleptik was analysis by statistically nonparametrik use test of Kruskal-Wallis and if there difference having a meaning of to be continued with test of Mann-Whitney.

Results : Addition of flour of tapioka and of “bleng” result crisply of gendar with nature of different physical that was feeling. Nature of colour physical, and flavor of texture crisply of gendar with flour addition of tapioka did not differ from crisply of gendar with “bleng”. Nature of physical of texture objectively owning equation with crisply of gendar with addition of “bleng” that was crisply of gendar addition of flour of tapioka 25%. Pursuant analyze of Kruskal-Wallis there no difference have a meaning of with panelist atitude to colour, flavor, feel and crisply texture of gendar. A period to keeping crisply with addition of flour of tapioka 30% differing from other crisply, that is experiencing of change of flavor become not deliciouse at fourth week.

Conclusion : Addition variation of flour of tapioka in the place of “bleng” had an influence in with the nature of crisply physical of gendar that was flavor and texture objectively of gendar. There were no influences of addition variation of flour of tapioka to nature of crisply organoleptik of gendar. There were influences at addition variation of flour of tapioka to a period to keeping crisply of gendar. Additional of flour of tapioka according to for substitution of “bleng” that is 25%.

Keyword : Tapioka Flour, “bleng”, Physicial Properties, Nature Of Organoleptik, A Period To Keeping, Crisply of Gendar.

 

ABSTRAK

 Latar Belakang : Kerupuk Gendar merupakan produk olahan dari beras yang banyak beredar di masyarakat. Secara tradisional pembuatan kerupuk gendar menggunakan bahan baku beras dan garam ““bleng”” atau boraks. Boraks dilarang digunakan dalam pembuatan produk makanan, sehingga untuk menggantikan boraks digunakan tepung tapioka yang diperbolehkan dan lebih aman. Tujuan Penelitian : Diketahuinya pengaruh variasi penambahan tepung tapioka sebagai pengganti “bleng” (boraks) terhadap sifat fisik, organoleptik dan masa simpan pada kerupuk gendar.

Metode Penelitian : Studi eksperimen semu dengan Rancangan Acak Sederhana dengan 4 perlakuan dan 2 kali ulangan serta 3 unit percobaan. Sampel diuji pada 25 panelis agak terlatih. Analisis data sifat fisik dan masa simpan secara deskriptif. Analisis data sifat organoleptik secara statistik nonparametrik menggunakan uji Kruskal-Wallis dan jika ada perbedaan yang bermakna dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney.

Hasil Penelitian : Penambahan tepung tapioka dan “bleng” menghasilkan kerupuk gendar dengan sifat fisik yang berbeda yaitu pada rasa. Sifat fisik warna, aroma dan tekstur kerupuk gendar dengan tambahan tepung tapioka tidak berbeda dengan kerupuk gendar dengan “bleng”. Sifat fisik tekstur secara obyektif yang memiliki persamaan dengan kerupuk gendar dengan penambahan “bleng” yaitu kerupuk gendar penambahan tepung tapioka 25%. Berdasakan analisis Kruskal-Wallis tidak ada beda bermakna dengan sikap panelis terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur kerupuk gendar. Masa simpan kerupuk dengan penambahan tepung tapioka 30% berbeda dengan kerupuk lainnya, yaitu mengalami perubahan aroma menjadi apek pada minggu keempat.

Kesimpulan : Variasi penambahan tepung tapioka sebagai pengganti “bleng” berpengaruh pada sifat fisik kerupuk gendar yaitu aroma dan tekstur secara obyektif. Tidak ada pengaruh variasi penambahan tepung tapioka terhadap sifat organoleptik kerupuk gendar. Ada pengaruh pada variasi penambahan tepung tapioka terhadap masa simpan kerupuk gendar. Tambahan tepung tapioka yang sesuai untuk pengganti “bleng” yaitu 25%.

Kata Kunci : Tepung Tapioka, “bleng”, Sifat Fisik, Sifat Organoleptik, Masa Simpan, Kerupuk Gendar

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 1, Maret 2014

Subject : Teknologi Pangan

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 28-08-2014

VARIASI CAMPURAN TEPUNG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L) PADA PEMBUATAN ROTI TAWAR DITINJAU DARI SIFAT FISIK, SIFAT ORGANOLEPTIK DAN KADAR SERAT

Herni Oktaviana1, Joko Susilo2, Waluyo3

 1,2,3Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email : waluyogizijogja@ymail.com)

 ABSTRACT

 Background : Many efforts to lift the local beans in Indonesia, but the results have not been satisfactory. Red bean is one kind of nuts. Red bean has high fiber content and good for diabetics. So that red bean flour use to be mixed on ingredient in bread making, because the dependence on wheat is very high right now and can be a staple food for diabetics.

Objective : To determine the difference of variations of red bean flour mixture seen from physical properties, organoleptic properties and ber content.

Method : This study was a quasi-experimental research, with a simple random design using 4 treatments, 3 replicates and 3 units of the experiment. Treatment of variations of red bean flour mixture were 0%, 10%, 15% dan 20%. Observation of the physical properties were analyzed descriptively. Observations of the organoleptic properties were analyzed by Kruskall-Wallis test, if there was a difference followed by Mann-Whitney test. Observation on fiber content was analyzed by Anova test, if there was a difference followed by Tukey test.

Result : Based on the observation of the physical properties showed that the greater percentage of variation of red bean our mixture result : the brownies color, red bean dominant smell and flavor, the harder texture and overrun decreased. Results of the organoleptic properties in terms of color, aroma and flavor were that the most preferred was white bread with red bean flour mixed 15%, while in term of texture was white bread with red bean flour mixed 10%. Testing of fiber content showed that the highest fiber on white bread with red bean flour mixed 15%.

Conclusion : There was the difference of red bean flour blend variation on physical properties, organoleptic properties and ber content of white bread.

Keywords : Red bean flour, bread, physical properties, organoleptic properties, ber content.

 

ABSTRAK

Latar Belakang : Banyak usaha untuk mengangkat kacang-kacangan lokal di Indonesia, namun hasilnya belum memuaskan. Kacang merah merupakan salah satu jenis kacang-kacangan. Kacang merah mempunyai kandungan serat yang cukup tinggi dan bagus bagi penderita diabetes. Karena kandungan serat yang tinggi, maka tepung kacang merah diperhitungkan sebagai bahan campuran pada pembuatan roti tawar, mengingat saat ini ketergantungan masyarakat terhadap terigu sangat tinggi dan dapat menjadi makanan pokok penderita diabetes.

Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui perbedaan variasi campuran tepung kacang merah terhadap sifat fisik, sifat organoleptik dan kadar serat roti tawar.

Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan rancangan acak sederhana menggunakan 4 perlakuan, 2 ulangan dan 3 unit percobaan. Perlakuan variasi campuran tepung kacang merah adalah 0%, 10%, 15% dan 20%. Pengamatan terhadap sifat fisik dianalisis secara deskriptif. Pengamatan sifat organoleptik dianalisis dengan uji Kruskall-Wallis, jika ada perbedaan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Pengamatan terhadap kadar serat dianalisis dengan uji Anova, jika ada perbedaan dilanjutkan dengan uji Tukey.

Hasil : Berdasarkan hasil pengamatan fisik menunjukkan bahwa semakin besar persentase variasi campuran tepung kacang merah diperoleh hasil : warna semakin kecoklatan, aroma dan rasa semakin kuat kacang merah, tekstur semakin keras dan overrun semakin rendah. Hasil sifat organoleptik dari segi warna, aroma dan rasa yang paling banyak disukai adalah roti tawar dengan campuran tepung kacang merah 15%, sedangkan dari segi tekstur adalah roti tawar dengan campuran tepung kacang merah 10%. Hasil serat menunjukkan bahwa kadar serat tertinggi terdapat pada roti tawar dengan campuran tepung kacang merah 15%.

Kesimpulan : Ada perbedaan variasi campuran tepung kacang merah terhadap sifat fisik, sifat organoleptik dan kadar serat roti tawar.

Kata kunci : Tepung kacang merah, roti tawar, sifat fisik, sifat organoleptik, kadar serat

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 1, Maret 2014

Subject : Teknologi Pangan

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 28-08-2014

KARAKTERISTIK DAN KETRAMPILAN KADER DALAM PENIMBANGAN BALITA DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS GAMPING II SLEMAN YOGYAKARTA

Novvita Wahyu Sholehati1, Herawati2, Agus Wijanarka3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No.3, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta 55293 (Email : vita_bita69@ymail.com atau agusw_jogja@yahoo.co.id )

 ABSTRACT

 Background: Posyandu is one of Improvement of nutrition and family activities. The implementation is by cadres of posyandu. In conducting activities in posyandu every cadre must have skills of monitoring the of growth of children under five. The important skill that cadres should have in Posyandu is a skill in using the toddlers weight instrument. Cadre’s skill in weighing is influenced by three factors, they are predisposising factor, enabling and reinforcing factors factor. In fact, there are lots of cadre doing iniquity of weighing and registration. Many of them have less knowledge and unskilled in the weighing.

Objective: To know the characteristics and skill of the cadres of children under five weighing in Posyandu in Gamping II Public Health Center, Sleman, Yogyakarta.

Methods: This research was observational research with a crosssectional design. This research was conducted in 18 posyandus of 3 villages in Gamping on October and Desember 2013. The subject of this research were all cadres of Posyandu which were incharge in weighing children under five using dacin. Datas which collected were cadres characteristics data include age, education, employment, training and skills in children under five weighing data was the ability of cadres in weighing toddlers according to SOP (9 stages weighing) made by direct observation using checklist sheet.

Result: Based on the data analysis, it is revealed that of 51,52% of the cadres aged less than 45 years old, 48.48% are graduated from high school/vocational school, and 63,64% never attend weighing training. Most of the cadres (84,85 %) are unskilled in toddler weighing. There is no significant relationship between age, education and work with skill of a cadre in toddler weighing. There is a significant relationship between cadres training and skill in toddler weighing (p=0,047)

Conclusion: There is a significant relationship between cadres training and skill in children under ve weighing.

Keywords: cadre’s characteristic, training, weighing skills, posyandu’s cadre.

 

ABSTRAK

 Latar belakang: Posyandu adalah salah satu kegiatan UPGK (Usaha Perbaikan Gizi dan keluarga). Pelaksanaan posyandu dilakukan oleh kader posyandu. Di dalam melakukan kegiatan di posyandu setiap kader harus memiliki ketrampilan dalam melakukan pemantauan pertumbuhan balita. Ketrampilan yang harus dimiliki kader posyandu adalah ketrampilan dalam menggunakan alat menimbang berat badan balita. Ketrampilan kader dalam penimbangan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu predisposising factor, enabling factor dan reinforcing factor. Dalam pelaksanaanya masih banyak kader yang masih salah dalam penimbangan dan pencatatan. Banyak keder yang mempunyai pengetahuan kurang serta tidak terampil dalam penimbangan.

Tujuan penelitian: Untuk mengetahui karakteristik kader dan ketrampilan kader dalam penimbangan balita di posyandu wilayah kerja Puskesmas Gamping II Sleman Yogyakarta.

Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Lokasi penelitian ini adalah 18 posyandu dari 3 desa di wilayah kecamatan Gamping pada bulan oktober dan desember 2013. Subjek penelitian ini adalah semua kader posyandu yang bertugas melakukan penimbangan balita menggunakan dacin. Data yang di kumpulkan adalah data karakteristik kader meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, pelatihan dan data ketrampilan dalam penimbangan balita yaitu kemampuan kader dalam melakukan penimbangan balita sesuai SOP (9 tahap penimbangan) yang dilakukan dengan pengamatan langsung menggunakan lembar checklist.

Hasil penelitian: Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebesar 51,52% kader berumur < 45 tahun, sebagian besar (48,48%) kader berpendidikan SMA/SMK, sebanyak 78,79% kader adalah ibu rumah tangga dan sebanyak 63,64% kader tidak pernah mengikuti pelatihan penimbangan. Sebagian besar (84,85%) kader posyandu tidak terampil dalam penimbangan balita. Tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, pendidikan dan pekerjaan dengan ketrampilan kader dalam penimbangan balita. Ada hubungan yang signifikan antara pelatihan dan ketrampilan kader dalam penimbangan balita (p=0,047)

Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara pelatihan dan ketrampilan kader dalam penimbangan balita.

Kata kunci : karakteristik kader, pelatihan, ketrampilan penimbangan, kader posyandu

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 1, Maret 2014

Subject : Gizi Masyarakat

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 28-08-2014

PENDAMPINGAN IBU BALITA PENERIMA PMT (PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN) DAN PENINGKATAN STATUS GIZI BALITA DI PUSKESMAS PIYUNGAN

Ayu Dzurriyyana1, Weni Kurdanti2, Slamet Iskandar2

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email : wenigizi@yahoo.com)

 ABSTRACT

 Background: Supplementary Food Feeding Program is one of the government’s efforts to solve the problem of malnutrition that occurs when children’s age are under five years. Although the children had received PMT, raising of the children under ve nutritional status in Public Health Centre in Piyungan was not significant. One of its cause is giving incorrect Supplementary Food Feeding so that intake of energy and protein is still low. Feeding on children still depend on family, especially mother. Mothers whose children under five years received PMT should be given assistance so that the food intake of the children and the nutritional status is increased.

Methods: The study was quasi-experimental design with non randomized pre and post test without control group. The subject was 13 children whose age under five years PEM (z-scores <-2 SD) that were targeted Supplementary Food Feeding Program in Public Health Centre in Piyungan for 3 months. Observed variables included energy and protein intake, body weight and children under five nutritional status (z-score of W / A). Variables were measured in the beginning of mentoring, and the final advisory. Descriptive data analysis and statistical tests use Wilcoxon’s rank sign test on the variables of energy and protein intake, body weight and nutritional status of children under ve.

Results: There is differences in the energy intake of the children before and after mentoring PMT. Increasing of energy average is 271.13 calories (26.57%). There is no difference in protein intake before and after mentoring Supplementary Food Feeding. There is differences in mean weight of the children before and after the Supplementary Food Feeding, an increase of 454 grams in 3 months. There is an increasing in nutritional status (z-scores), before and after mentoring by a margin of 0.18 points.

Conclusion: Mentoring mothers of children under five that received Supplementary Food Feeding increasing energy intake, body weight and nutritional status of the children.

Keywords: mentoring Supplementary Food Feeding, energy intake, protein intake, weight, nutritional status

 ABSTRAK

 Latar Belakang: Program PMT (Pemberian Makanan Tambahan) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah gizi kurang yang terjadi pada usia balita. Meskipun telah mendapatkan PMT, peningkatan status gizi balita di Puskesmas Piyungan belum signifikan. Hal ini salah satunya disebabkan oleh tidak tepatnya pemberian PMT balita sehingga asupan energi dan protein balita masih rendah. Pemberian makan anak masih tergantung dari keluarga terutama ibu. Perlu adanya pendampingan ibu balita penerima PMT agar asupan makanan balita meningkat dan status gizi balita juga meningkat.

Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan desain penelitian non randomized pre and post test without control group. Subjek adalah anak balita KEP (z-skore <-2 SD) yang menjadi sasaran kegiatan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Puskesmas Piyungan yang dilaksanakan selama 3 bulan. Variabel yang diamati meliputi asupan energi dan protein, berat badan dan status gizi (z-skore BB/U) balita. Variabel diukur pada awal pendampingan, dan akhir pendampingan. Analisis data secara deskriptif serta uji statistik menggunakan wilcoxon’s rank sign test pada variabel asupan energi dan protein, berat badan dan status gizi balita.

Hasil: Ada perbedaan asupan energi balita sebelum dan sesudah pendampingan PMT, peningkatan rata-rata energi sebesar 271,13 kalori (26,57 %). Tidak ada perbedaan asupan protein sebelum dan sesudah pendampingan PMT. Ada perbedaan rata-rata berat badan balita sebelum dan sesudah PMT, peningkatan sebanyak 454 gram selama 3 bulan. Ada peningkatan status gizi (nilai z-score) sebelum dan sesudah pendampingan PMT dengan selisih 0,18 poin.

Simpulan: Pendampingan ibu balita penerima PMT meningkatkan asupan energi, meningkatkan berat badan dan status gizi balita.

Kata Kunci: pendampingan PMT, asupan energi, asupan protein, berat badan, status gizi.

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 1, Maret 2014

Subject : Food Service

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 28-08-2014

HUBUNGAN ANTARA LAMA WAKTU MENONTON TELEVISI DENGAN STATUS GIZI LEBIH SISWA SD KATOLIK SANTO YOHANES DON BOSCO KOTA PALANGKARAYA

Boy Crissandi1, Nila Susanti2

 1,2Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Palangka Raya Jl. George Obos No. 30 Palangkaraya (Email : boy_crissandi@yahoo.com)

 ABSTRACT

 Background: Nutritional problem is problem that exists in every country. Poor countries tend to be the less nutritional problems, and developing countries tend to be with more nutritional problems. Developing countries have given advances in the standard of life. However, the modernization also bring negative consequences that have steered the occurrence of irregularities diet and physical activities that are instrumental towards the emergence of obesity, such as the lack of playing activities, the children like playing computer/games, and watching television, compare with doing physical activities.

Objective: to know the relationship between the length of time in watching television with more nutritional status of students of St. John Don Bosco Catholic Elementary School, Palangka Raya.

Method: This research obtained using observational cross sectional research design. Population of this research was 580 students from 3rd to 4th grade, and the sample of this research was 55 samples. Sampling in this study was using Systematic Random Sampling. Result: Based on the research that most of samples are very fat nutrition (94,54 %), time in watching television, most samples > 2 hours/day (80%); physical activity, the sample mostly minor (80%); energy Intake, the samples ranged between 1467,3 3404,4 Kcal; protein intake, samples ranged between 56,8 148,1 gram; and fat intake, samples ranged between 37,7 151,6 grams. Conclusion: There is no relationship between the length of time in watching television with more nutritional status of students (p = 0,533), there is a significant relationship between physical activity and more nutritional status on students (p = 0,045), there is a significant relationship between energy intake and more nutritional status on students (p = 0.006), there is a signifi cant relationship between protein intake and more nutritional status on students (p = 0,009), there is no relationship between fat intake and more nutritional status on students (p = 0,115).

Keywords: length of time in watching television, physical activity, food intake, more nutritional status

 

ABSTRAK

 Latar Belakang : Masalah gizi merupakan masalah yang ada di tiap-tiap negara, Negara miskin cenderung dengan masalah gizi kurang, dan negara maju cenderung dengan masalah gizi lebih. Negara berkembang telah memberikan kemajuan dalam standar kehidupan. Akan tetapi, modernisasi juga telah membawa konsekuensi negatif yang telah mengarahkan terjadinya penyimpangan pola makan dan aktifi tas fisik yang berperan penting terhadap munculnya obesitas, seperti kurangnya aktifitas bermain, anak lebih senang bermain komputer/games, dan menonton televisi, dibandingkan melakukan aktifi tas fi sik.

Tujuan : Mengetahui hubungan antara lama waktu menonton televisi dengan status gizi lebih siswa SD Katolik Santo Yohanes Don Bosco Kota Palangka Raya.

Metode : Penelitian ini dilakukan secara observasional dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 580 siswa dari kelas III s/d VI, dan sampel penelitian ini berjumlah 55 sampel. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Systematic Random Sampling.

Hasil : Berdasarkan penelitian ini bahwa sebagian besar sampel berstatus gizi sangat gemuk (94,54%), Waktu menonton televisi sampel sebagian besar > 2jam/hari (80%), Aktifi tas fisik sampel sebagian besar ringan (80%), Asupan energi sampel berkisar antara 1467,3 Kkal s/d 3404,4 Kkal, Asupan protein sampel berkisar antara 56,8 gram s/d 148,1 gram, dan asupan lemak sampel berkisar antara 37,7 gram s/d 151,6 gram.

Kesimpulan : Tidak ada hubungan antara lama waktu menonton televisi dengan status gizi lebih siswa (p=0,533), Ada hubungan yang signifikan antara aktifi tas fisik dengan status gizi lebih siswa (p=0,045), Ada hubungan yang signifikan antara asupan energi dengan status gizi lebih siswa (p=0,006), Ada hubungan yang signifikan antara asupan protein dengan status gizi lebih siswa (p=0,009), Tidak ada hubungan antara asupan lemak dengan status gizi lebih siswa (p=0,115).

Kata Kunci : Lama waktu menonton televisi, aktifi tas fisik, asupan makanan, status gizi lebih

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 1, Maret 2014

Subject : Gizi Masyarakat

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 28-08-2014

PERUBAHAN STATUS GIZI PASIEN DEWASA SELAMA DIRAWAT INAP BERDASARKAN NUTRITION SERVICES SCREENING ASSESSMENT (NSSA) DI RUMAH SAKIT UMUM DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG

Eliza 1, Susetyowati 2, Nurul Huda Syamsiatun 3

 1 Jurusan Gizi Poltekkes Palembang, Palembang,

2 S1 Gizi FK UGM, Yogyakarta, Jl. Farmako no.1 Yogyakarta

3 Jurusan Gizi Poltekkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi no. 3 Gamping, Sleman, Yogyakarta (nurul_huda_gizi@yahoo.com)

 ABSTRACT

 Background : To prevent malnutrition, need screening to the patient with anamnesis, physic test, antropometry and biochemistry test. Nutrition screening takes from the first time patient come to hospital with simple and fast process to predict the possibility bad effect or goal that can happen as nutrition factor. This screening should do in every patient at third, sevent and fourtheent hospital care. Nutrition Services Screening Assessment (NSSA) is form questions related to nutrition problem that can used for clinical assessment. Objectives : To assess changes in nutritional status adult patients during hospital care based NSSA in dr. Mohammad Hoesin Palembang Hospital.

Method : This study was using observed study with kohort prosfective study design. Independent variable is first nutritional status, dependent variable is changes of nutrional status at fifth and tenth hospital care. Data analysis was using Chi-Square test with CI 95% (α=0,05). To predict is there any difference in the change of nutritional status between first screening, second and third using Cochran test. To predict the difference change of nutritional status between first and second screening, second and third screening and rst with third screening using McNemar test.

Results : Based on characteristic there is no significant difference between characteristic with the malnutrition. Based on Cochran test p=0,044, its mean there is difference change of nutritonal status between three time measuranment. Statistic test using McNemar to the change of nutritional status between first and second screening p=0,132; change of nutritional status between second and third p=0,627 and change of nutritonal status between first and third p=0,009.

Conclutions :There is no significant difference change of nutritional status between first and second screening. There is no signifi cant difference change of nutritional status between second and third screening. There is significant difference change of nutritional status between first and third screening.

Keywords : Nutritional Screening, change of nutritional status, hospital malnutrition.

AB STRAK

 Latar Belakang: Untuk mencegah terjadinya malnutrisi, hendaknya selalu dilakukan skrining pada pasien, dimulai dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, antropometri dan pemeriksaan biokimia. Pemeriksaan awal dapat dengan cara sederhana dan dapat dilakukan oleh semua petugas kesehatan.Skrining gizi dilaksanakan pada awal pasien masuk rumah sakit dengan proses yang cepat dan sederhana untuk memprediksi kemungkinan dampak buruk atau keberhasilan yang dapat terjadi karena faktor gizi. Skrining ini seharusnya sudah dilaksanakan pada setiap pasien pada hari ketiga perawatan, dan diulangi pada hari ketujuh dan keempat belas, karena kejadian gangguan gizi timbul sering pada pasien yang dirawat selama 2 minggu atau lebih. Nutrition Services Screening Assessment (NSSA) adalah formulir yang berisi pertanyaan yang berhubungan dengan masalah gizi yang dapat digunakan untuk penilaian klinis.

Tujuan: Untuk mengetahui perubahan status gizi pasien dewasa selama perawatan dengan menggunakan form NSSA di rumah sakit dr. Mohammad Hoesin Hospital Palembang.

Metode: Penelitian ini menggunakan studi diamati dengan desain studi kohort prosfective. Variabel bebas adalah status gizi awal masuk, variabel terikat adalah perubahan status gizi pada perawatan di rumah sakit pada hari kelima dan kesepuluh. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan CI 95% (α = 0,05). Untuk memprediksi apakah ada perbedaan dalam perubahan status gizi antara skrining pertama, kedua dan ketiga menggunakan uji Cochran. Untuk memprediksi perubahan perbedaan status gizi antara pertama dan kedua screening, skrining kedua dan ketiga dan pertama dengan skrining ketiga menggunakan uji McNemar.

Hasil: Berdasarkan karakteristik tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok berisiko dan tidak berisiko malnutrisi. Berdasarkan uji Cochran p = 0,044, berarti ada perbedaan status nutritonal antara tiga waktu pengukuran status gizi. Uji statistik menggunakan McNemar didapatkan hasil tidak ada perbedaan perubahan status gizi antara pertama dan kedua pengukuran ( p = 0.132) ; perubahan status gizi antara kedua dan ketiga (p = 0.627 0 dan perubahan status gizi antara pertama dan ketiga (p = 0,009).

Kesimpulan: Tidak ada perbedaan yang signifikan perubahan status gizi antara pertama dan kedua screening. Tidak ada perbedaan yang signifikan perubahan status gizi antara skrining kedua dan ketiga. Ada perbedaan yang signifikan antara status gizi pertama dan ketiga screening.

Kata kunci: Screening Gizi, perubahan status gizi, malnutrisi di rumah sakit

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 1, Maret 2014

Subject : Gizi Klinik

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 28-08-2014

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KADAR KOLESTEROL DARAH PASIEN PENYAKIT JANTUNG RAWAT INAP DI RSUD BANYUMAS

Umi Musrifah 1, Setyowati 2, Sumirah 3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email : tikwa_gizi_yogya@yahoo.co.id)

 ABSTACT

 Background: One of the main risk factors that causes heart disease is high cholesterol levels. By controlling cholesterol levels and other risk factors can reduce the potential thus affected heart disease. Andi Wijaya Research in Laboratory information Prodia No. 6/1994, for three years towards 11.489 resident of Indonesia aged 20-70 years there were 32.4% with cholesterol levels less than 200 mg/dl; 32.8% with cholesterol levels between 200-240 mg/dl; and 34,8% cholesterol levels more than 240 mg/dl.

Objective: To know the relationship between hypertension, smoking, genetic, age, diabetes mellitus, and lifestyle (dietary) with blood cholesterol levels of patients with heart disease.

Method: Types of research included into observational research with retrospective research design. This research obtained in Banyumas Hospital on February 29th  April 2nd, 2011. The subject of research was heart patients in Hospitals whom have been vetted their blood cholesterol levels in Banyumas Hospitals. The subjects of the research were 37 people. Research subject retrieval using accidental sampling. Research variables were hypertension, smoking, genetic factors, age, diabetes mellitus, lifestyle (dietary fatty foods), and total cholesterol levels. Data analysis was using quadratic kai test.

Result: The results shows 54,1% research subjects had high cholesterol levels. Research subjects with hypertension and high cholesterol levels 59,1%. The number of research subjects do not smoke with high cholesterol levels were 12 people. 61,1% of elderly subjects research have high cholesterol levels. Research subjects who did not have a genetic factor and had high cholesterol levels 53.1%. Research subjects who have a history of suffering from diabetes mellitus/and have high cholesterol levels 61,1%. Research subjects who have a pattern of consumption often consuming fatty food and have had high cholesterol levels 59,4%. Based on age and gender, the subjects with the adult age (19 55 years) more than elderly (51,4 %), while based on gender, female subjects more that have high levels of kholesterol than males (56,8%).

Conclusion: There is no relationship between hypertension, smoking, age, genetic factors, dibetes mellitus and lifestyle (consumption patterns) with the patient’s blood cholesterol levels heart disease (p > 0.05).

Keywords: cholesterol level and heart disease

 

ABSTRAK

 Latar Belakang : Salah satufaktor risiko utama penyebab penyakit jantung adalah tinggya kadar kolesterol. Dengan mengontrol kadar kolesterol dan faktor risiko lainnya maka dapat mengurangi potensi terkena penyakit jantung. Penelitian Andi Wijaya dalam Informasi Laboratorium – Prodia No. 6/1994, selama tiga tahun terhadap 11.489 orang penduduk Indonesia umur 20-70 tahun terdapat 32,4% dengan kadar kolesterol total kurang dari 200 mg/dl; 32,8% dengan kadar kolesterol-total antara 200-240 mg/dl; dan 34,8% kadar kolesterol-total sebesar lebih dari 240 mg/dl.

Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan hipertensi, merokok, genetik, usia diabetes mellitus dan gaya hidup (pola konsumsi) dengan kadar kolesterol darah pasien penyakit jantung.

Metode Penelitian: Jenis penelitian termasuk penelitian observasional dengan desain penelitian retrospektif. Penelitian dilakukan di RSUD Banyumas pada tanggal 29 Februari – 2 April 2011. Subyek penelitian adalah pasien jantung rawat inap di RSUD Banyumas yang sudah pernah diperiksa kadar kolesterol darahnya di RSUD Banyumas. Subyek penelitian berjumlah 37 orang. Pengambilan subyek penelitian menggunakan accidental sampling. Variabel penelitian adalah hipertensi, merokok, faktor genetik, usia, diabetes mellitus, gaya hidup (pola konsumsi makanan berlemak), dan kadar kolesterol total. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 54,1% subyek penelitian mempunyai kadar kolesterol tinggi. Subyek penelitian dengan hipertensi dan mempunyai kadar kolesterol tinggi sebesar 59,1%. Jumlah subyek penelitian tidak merokok dengan kadar kolesterol tinggi yaitu 12 orang. 61,1% subyek penelitian manula mempunyai kadar kolesterol tinggi. Subyek penelitian yang tidak mempunyai faktor genetik dan mempunyai kadar kolesterol tinggi yaitu 53,1%. Subyek penelitian yang mempunyai riwayat / menderita diabetes mellitus dan mempunyai kadar kolesterol tinggi sebesar 61,1%. Subyek penelitian yang mempunyai pola konsumsi sering menkonsumsi makanan berlemak dan mempunyai kadar kolesterol tinggi dengan presentase 59,4%. Berdasarkan umur dan jenis kelamin, subyek dengan umur dewasa (19 – 55 tahun) lebih banyak dibandingkan manula (51,4%), sedangkan berdasarkan jenis kelamin, subyek perempuan lebih banyak yang mempunyai kadar kholesterol tinggi dibanding laki-laki (56,8%).

Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara hipertensi, merokok, umur, faktor genetik, dibetes mellitus dan gaya hidup (pola konsumsi) dengan kadar kolesterol darah pasien penyakit jantung (p > 0,05).

Kata Kunci: kadar kolesterol total dan penyakit jantung

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 1, Maret 2014

Subject : Gizi Klinik

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 28-08-2014

ASUPAN NATRIUM, KALIUM DAN PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI RSUD MUNTILAN KABUPATEN MAGELANG

Amin1, Nurul Huda S2, Isti Suryani3

 1 RSUD Muntilan, Magelang, Jl. Kartini No. 13 Muntilan Kabupaten Magelang 2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta (Email: nurul_huda_gizi@yahoo.com

 ABSTRACT

 Background: Hypertension is one of degenerative disease which can be found in a society. Nowadays hypertension become a serious health problem. The condition can be found in a society where most of people consumed much natrium and less kalium. Objective: To determine the relationship between sodium and potasium with the blood pressure changes in hypertensive patients in Muntilan Magelang District Hospital.

Methods: This research was a quasi-experimental studies with the design of one group pre test and post test. This research was conducted from July and August 2012 in Muntilan District Hospital, Magelang. The research subjects were 35 hypertension patients, aged between 40-70 years and given a low-salt III diit in the form of rice porridge, soft rice or rice. The data was optained by comstock and food recall. Data was obtained then processed and analyzed using t-test.

Results: The results of t-test there is a effect of sodium intake to blood pressure changes indicated by the value of p =0.000 (p <0.05), there is effect of potassium intake on blood pressure changes indicated by the value of p = 0.000 (p <0.05).

Conclusion: There is an effect of sodium and potassium intake to blood pressure changes on hypertensive patients in Muntilan District Hospital, Magelang.

Keywords: Hypertension, Sodium and Potassium.

 

ABSTRAK

 Latar Belakang : Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang banyak dijumpai di masyarakat. Saat ini hipertensi menjadi masalah kesehatan yang serius. Keadaan hipertensi (tekanan darah tinggi) banyak ditemukan pada masyarakat yang banyak mengkonsumsi natrium dalam jumlah besar dan asupan kalium yang rendah.

Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan asupan natrium dan kalium terhadap perubahan tekanan darah pada pasien hipertensi di RSUD Muntilan Kabupaten Magelang.

Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian semu (quasi- eksperiment) dengan rancangan one group pre test and post test. Penelitian dilakukan bulan Juli sampai Agustus 2012 di RSUD Muntilan Kabupaten Magelang. Subyek penelitian sebanyak 35 orang pasien hipertensi, berumur antara 40-70 tahun dan diberikan diit rendah garam III dalam bentuk bubur nasi, nasi tim atau nasi biasa. Pengambilan data dilakukan dengan cara comstock dan food recall. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis menggunakan uji t-test.

Hasil : Hasil uji t-test ada hubungan asupan natrium terhadap perubahan tekanan darah ditunjukkan dengan nilai p=0,000 (p<0,05), ada hubungan asupan kalium terhadap perubahan tekanan darah ditunjukkan dengan nilai p=0,000 (p<0,05).

Kesimpulan : Ada hubungan asupan natrium dan kalium terhadap perubahan tekanan darah pada pasien hipertensi di RSUD Muntilan Kabupaten Magelang.

Kata Kunci : Hipertensi, Natrium dan Kalium.

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 1, Maret 2014

Subject : Gizi Klinik

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 28-08-2014

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PRODUSEN TENTANG KEAMANAN PANGAN DENGAN PENCAPAIAN SKOR KEAMANAN DAWET HITAM DI KABUPATEN PURWOREJO

Fitri Astuti Nugrahaningsih1, Nur Hidayat2, Tri Siswati3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email : zain_2468@yahoo.com)

 ABSTRACT

 Background: food safety, nutrition and health is a complex issue. This is mainly due to very lack of awareness and public responsibility in dealing with manufacturers and using food inappropriately. The importance of this issue of food safety, the knowledge about factors that could cause food poisoning should be considered by manufacturers

Objective: to know the relationship between the level of food safety knowledge with a score of black dawet in Purworejo

Methods: This study was an observational research with cross sectional design. The study was conducted in Purworejo with research subjects 14 producer. Data collection of knowledge level was using interview method and questionnaires. Data of food safety score was obtained using observation method by the researcher with checklist form of food safety. Hypothesis test was using Wilcoxon test non- perametric statistic.

Results: Knowledge of the average subject of food safety is 87.61% (high). Average score of food safety is 75.5% (vulnerable but safe to eat). There’s a significant relationship (p<0,05) of producer knowledge level on food safety with food safety score of black dawet in Purworejo.

Conclusion: score of food safety will have high cost along with the increasing of producer knowledge level.

Keywords: awareness, assessment, food safety, black dawet.

 

ABSTRAK

 Latar Belakang : Keamanan pangan, gizi dan kesehatan merupakan masalah yang komplek. Hal tersebut terutama dikarenakan masih kurangnya kesadaran dan tanggungjawab masyarakat produsen dalam menangani dan menggunakan bahan pangan yang tidak semestinya. Sebagian besar penjual di kantin (42%) dan di luar sekolah (56%) di wilayah Bogor memiliki skor pengetahuan gizi dan keamanan pangan dengan kategori kurang. Pengetahuan produsen makanan berhubungan dengan praktek kemanan pangan yang tergambarkan dari skor keamanan pangan.

Tujuan : Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan produsen dengan skor keamanan pangan dawet hitam di kabupaten Purworejo

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Purworejo dengan subyek penelitian berjumlah 14 produsen. Pengumpulan data tingkat pengetahuan menggunakan metode wawancara dengan alat bantu kuisioner. Data skor keamanan pangan diperoleh menggunakan metode observasi oleh peneliti sendiri dengan alat bantu form cek list keamanan pangan. Uji hipotesis menggunakan uji statistik non parametrik Wilcoxon.

Hasil : Rata-rata pengetahuan produsen tentang keamanan pangan adalah 87.61% (tinggi). Rata-rata skor keamanan pangan 75.5% (rawan tapi aman dikonsumsi). Ada hubungan yang bermakna (p < 0,05) tingkat pengetahuan produsen tentang keamanan pangan dengan skor keamanan pangan dawet hitam di kabupaten Purworejo.

Kesimpulan : Skor keamanan pangan akan semakin bernilai tinggi seiring dengan meningkatnya tingkat pengetahuan produsen.

Kata kunci : Tingkat pengetahuan, skor keamanan pangan, dawet hitam

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 1, Maret 2014

Subject : Gizi Masyarakat

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 28-08-2014

PENGARUH MODIFIKASI RESEP HIDANGAN LAUK TAHU DAN TEMPE TERHADAP TINGKAT PENERIMAAN MAKANAN PASIEN DI RS PANEMBAHAN SENOPATI, BANTUL, YOGYAKARTA

Setyowati1, Tjarono Sari2, Isti Suryani3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (email : tikwa_gizi_yogya@yahoo.co.id atau tjaronosari@yahoo.co.id)

 ABSTRACT

 Background: problems on food services for people whom suffered sickness are more complex than food services for healthy people. Vegetable side dish is often not spent by patients, so it needs some changes on side dish vegetable, one way to do a modifi cation/ development of the recipe ingredients, size, seasonings, or a way of processing without reducing nutrition value, with the purpose to enhance appearance and enhance taste of a dish that will ultimately improve acceptance rate of patient food and pushing the cost of leftovers.

Objective: to know the influence of vegetable side dishes recipe modication tofu and tempe against the patient’s food acceptance rate

Method: this type of research is quasy experiment research with pre and post test design. Research was conducted in Panembahan Senopati Hospital, Bantul. The subjects in this study was 1) Panelists consisting of nutritionists, cooks and party management; 2) patients whom hospitalized, 3rd class patients in June 2012, willing to participate in research. Data acceptance rate recipe Favorites test results obtained from panelists and patient. Data were analyzed descriptively.

Results: old recipes of vegetable side dish, tempe and tofu is a traditional spice of tempe and yellow spice tofu. These two recipes are modified into 4 kinds of new dishes. For tempe, modified become grilled tempeh satay, botok tempe, Coconut Curry of tempe and tempe croquette, while tofu is modified into pepes of mushrooms tofu, fried tofu skotel, grilled tofu Satay and tofu stews. Price of tempe traditional spice vegetable side dish Rp 650,-yellow spice tofu Rp 600,-. After a modification, the price changed to Rp 450 Rp. 800,-for tempe and Rp 500, Rp 650,- for tofu. The use of time processing on tempe and tofu is 30 minutes. After modified into 4 kinds of cuisine, the use of time processing on tempe or tofu between 30 45 minutes

Nutritional value of vegetable side dish tempe, after modified with 4 kinds of recipes: energy 75,8 -108,9 k.cal, protein: 4,9-10,9 grams, fat: 1,1-7 grams and carbohydrates: 3,9-8,4 grams. While for the vegetable side dish tofu, with 4 kinds of recipes, energy: 81,4 96,81 k.cal, protein: 4,19 5,8 grams, fat: 4,48 7,5 grams and carbohydrate: 9,14-1,25 grams. The acceptance level based on preferences on vegetable side dish tempe in a sequence for most preferred is tempe croquette, tempe satay, Coconut Curry of tempe and botok tempe. While the vegetable side dish for tofu: fried tofu skotel, grilled tofu satay, pepes of mushroom tofu, tofu stews. Overall, recipe modification of Tempe Croquette and fried tofu skotel can be proposed as new recipes and deserves to be given to the patient.

Conclusion: there is an influence on recipe modification of vegetable side dish tofu and tempeh toward the acceptance level of food patient

Keywords : recipe modification, vegetable side dish, acceptance level

 

ABSTRAK

 Latar Belakang : Masalah penyajian makanan untuk orang sakit lebih kompleks daripada penyajian makanan untuk orang sehat. Lauk nabati sering tidak dihabiskan oleh pasien, untuk itu perlu dilakukan sejumlah perubahan pada hidangan lauk nabati, salah satu caranya dengan melakukan modifikasi/pengembangan resep terhadap bahan, ukuran, bumbu, atau cara pengolahan tanpa mengurangi nilai gizinya, dengan tujuan untuk meningkatkan penampilan serta meningkatkan rasa hidangan yang pada akhirnya akan meningkatkan tingkat penerimaan makanan pasien dan menekan biaya dari sisa makanan.

Tujuan Penelitian : Diketahui pengaruh modifikasi resep hidangan lauk nabati tahu dan tempe terhadap tingkat penerimaan makanan pasien

Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah penelitian quasy experiment dengan rancangan pre and post test design. Penelitian dilakukan di RS Panembahan Senopati Bantul. Subyek dalam penelitian ini adalah 1) Panelis yang terdiri dari ahli gizi, juru masak dan pihak manajemen; 2) pasien yang merupakan pasien kelas III, dirawat pada bulan Juni 2012, bersedia ikut dalam penelitian. Data tingkat penerimaan resep diperoleh dari hasil uji kesukaan panelis dan pasien. Data dianalisis secara deskriptif.

Hasil Penelitian : Resep lama lauk nabati tempe dan tahu adalah tempe bumbu rujak dan tahu bumbu kuning. Kedua resep dimodifikasi menjadi 4 macam hidangan baru. Untuk tempe dimodifikasi menjadi sate tempe panggang, botok tempe, gulai tempe dan kroket tempe, sedangkan tahu dimodifikasi menjadi pepes tahu jamur, skotel tahu goreng, sate tahu panggang dan semur tahu. Harga makanan lauk nabati tempe bumbu rujak sebesar Rp 650,00 dan tahu bumbu kuning Rp 600,00. Setelah dilakukan modifi kasi harga lauk berubah menjadi Rp 450,00 – Rp 800,00 untuk tempe dan antara Rp 500,00 – Rp 650,00 untuk tahu.

Penggunaan waktu pengolahan tempe dan tahu adalah 30 menit. Setelah dimodifikasi menjadi 4 macam masakan, penggunaan waktu pengolahan untuk tempe maupun tahu berkisar antara 30 – 45 menit. Nilai gizi awal lauk nabati tempe setelah dimodifikasi dengan 4 macam resep : energi 75,8 – 108,9 k.kal, protein : 4,9 – 10,9 gram, lemak : 1,1 – 7 gram dan karbohidrat : 3,9 – 8,4 gram. Sedangkan untuk lauk nabati tahu setelah dilakukan modifikasi dengan 4 macam resep energi berkisar antara : 81,4 – 96,81 k.kal, protein antara : 4,19 – 5,8 gram, lemak antara : 4,48 – 7,5 gram dan karbohidrat antara : 1,25 – 9,14 gram.

Tingkat penerimaan berdasarkan kesukaan terhadap lauk nabati tempe secara berurutan yang paling disukai adalah kroket tempe, sate tempe, gulai tempe dan botok tempe.Sedangkan terhadap lauk nabati tahu : skotel tahu goreng, sate tahu panggang, pepes tahu jamur, semur tahu. Secara keseluruhan modifikasi resep Kroket Tempe dan Skotel Tahu goreng dapat diusulkan sebagai resep baru dan layak untuk diberikan pada pasien.

Kesimpulan : ada pengaruh modifikasi resep hidangan lauk nabati tahu dan tempe terhadap tingkat penerimaan makanan pasien

Kata Kunci : modifikasi resep, lauk nabati, tingkat penerimaan

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 1, Maret 2014

Subject : Gizi Klinik

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 28-08-2014