ASUPAN KALSIUM, VITAMIN D, FOSFOR, DAN AKTIVITAS FISIK SEBAGAI FAKTOR RISIKO OSTEOPENIA PADA VEGETARIAN

 

Iklima Nurrahmah1, I Made Alit Gunawan 2, Nurul Huda Syamsiatun 3

                                                                                                                                                         1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi no. 3 Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email: iklima.03@gmail.com)

ABSTRACT

Background : More and more people began to revamp the dining habit become a vegetarian for health reasons. A vegetarian diet is associated with bone mass. The low intake of calcium, vitamin D and phosphorus, as well as the lack of physical activity leads to osteopenia risky vegetarian.

Objective: This research aims to analyze the intake of nutrients (calcium, vitamin D, phosphorus) and physical activity as risk factor osteopnia on vegetarian.

Method: This study used a case control design in the Vihara Bodhicitta Maitreya Yogyakarta. Sample research are vegetarian totalling 30 cases and 30 controls. The sample is determined by purposive sampling criteria are willing to be a sample of research, can read and write, women who have not menopause, and not being pregnant. The independent variables are the intake of nutrients (calcium, vitamin D, phosphorus) and physical activity, whereas the dependent variables is osteopenia. The Intake of nutrients obtained by method of Food Frequency Semi Quantitative (FFQ), physical activity using International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), and the osteopenia used Quantitative Ultrasound Densitometry. Analysis of risk factors using statistical test of Chi Square and Odd Ratio (OR).

Result: Vegetarians in the group with low calcium intake of cases (80%), low vitamin D intake (70%), low phosphorus intake (23.3%), and lack physical activity (83.3%). Vegetarian in the control group with enough calcium intake (53.3%), enough vitamin D intake (56.7%) enough phosphorus intake (86.7%), and of high physical activity (60%). There are a connections with a calcium intake of bone mass (p=0,007; OR= 4,571), vitamin D intake (p=0,037; OR =3,051), the ratio of calcium and phosphorus intake (p=0,020; OR=3,455), physical activity (p=0,001, OR=7,5). There are no significan relathionship of phosphorus intake with bone mass.

Conclusion: Intake of calcium, vitamin D, calcium and phosphorus intake ratios , as well as physical activity is a risk factor of osteopenia in vegetarian. Phosphorus intake is not a risk of osteopenia in vegetarians.

 Keywords:Vegetarian,intakeofcalcium,vitaminDintake,phosphorusintake,physicalactivity.

ABSTRAK

Latar Belakang :Semakin banyak orang mulai merubah kebiasaan makannya menjadi vegetarian karena alasan kesehatan. Diet vegetarian berhubungan dengan massa tulang. Rendahnya asupan kalsium, vitamin D, dan fosfor, serta kurangnya aktivitas fi sik menyebabkan vegetarian berisiko osteopenia.

Tujuan Penelitian :Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis asupan zat gizi (kalsium, vitamin D, fosfor) dan aktivitas fi sik sebagai faktor risiko osteopnia pada vegetarian.

Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain case control di Vihara Bodhicitta Maitreya Yogyakarta. Sampel penelitian adalah vegetarian yang berjumlah 30 kasus dan 30 kontrol, usia diatas 18 tahun dengan jenis kelamin laki-laki dan wanita. Sampel diitentukan secara purposive sampling dengan kriteria bersedia menjadi sampel penelitian, dapat membaca menulis, perempuan yg belum menaupause dan tidak sedang hamil. Variabel bebas adalah asupan zat gizi (kalsium, vitamn D, fosfor) dan aktivitas fisik, sedangkan variabel terikatnya osteopenia. Asupan zat gizi diperoleh dengan metode Food Frequency Semi Quantitative (FFQ), aktivitas fi sik menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) dan osteopenia menggunakan Quantitative Ultrasound Densitometry. Pengumpul data adalah mahasiswa prodi D IV yang telah mendapatkan keterampilan dan pembekalan dalam mengumpulkan data. Analisis faktor risiko menggunakan uji statistik chi square dan Odd Ratio (OR).

Hasil: Vegetarian pada kelompok kasus dengan asupan kalsium rendah (80%), asupan vitamin D rendah (70%) asupan fosfor rendah (23,3%), dan aktivitas fisik ringan (83,3%). Vegetarian pada kelompok kontrol dengan kalsium cukup (53,3%), asupan vitamin D cukup (56,7%) asupan fosfor cukup (86,7%), dan aktivitas fisik tinggi (60%). Ada hubungan asupan kalsium dengan massa tulang (p=0,007; OR= 4,571),Asupan Vitamin D (p=0,037; OR =3,051), rasio asupan kalsium dan fosfor (p=0,020; OR=3,455), aktivitas fi sik (p=0,001, OR=7,5). Tidak ada hubungan asupan fosfor dengan massa tulang (p=0,317; OR=1,978).

Kesimpulan: Asupan kalsium, vitamin D, rasio asupan kalsium dan fosfor, serta aktivitas fisik merupakan faktor risiko osteopenia pada vegetarian, namun asupan fosfor bukan merupakan risiko osteopenia pada vegetarian.

KataKunci: Vegetarian, Asupan kalsium, asupan vitamin D, asupan fosfor, aktivitas fisik

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Gizi Klinik

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

VARIASI CAMPURAN TEPUNG TERIGU DAN BEKATUL PADA PEMBUATAN KUE NASTAR DITINJAU DARI SIFAT FISIK,ORGANOLEPTIK DAN KADAR SERAT

 

Marlinda Fitrihastuti1, Waluyo2, Noorti Fauzah3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email: waluyogizijogja@ymail.com)

ABSTRACT

BackgroundRice consumption in Indonesia ivery highBy product orice milling are rice branRice bran hamanadvantages and contains many nutrients such as vitamins, minerals and fiber. Utilization of rice bran as food is very low. Fiber intake may provide health benefit such as decreasingcholesterol level, glucose level and prevent constipation. Nastar is popular cookies of all classes insociety. Mixture of rice bran in nastar can enrich fiber content, so that the cookies has more complete nutritional value. Therefore, it is necessary to study the variation of bran mixture on nastar cookies

Objective : To know the influence of variation of wheat flour and rice bran in nastar on physical properties, organoleptic and ber content.

Method: This research was experimental study using simple random design with four treatments (0%, 25%, 30% and 35%) duplicate and three units. The physical and organoleptic test by observation, fiber level test by gravimetric method. Physical properties of data were analyzed descriptively. Data of organoleptic were analyzed with Kruskal Wallis test and Mann-Whitney. Data of fiber content were analyzed with Anova test.

Result: Rice bran mixture variation affect the fiber content of nastar. Highest of fiber content is nastar with 35% bran mixture. Rice bran mixture also affects the physical properties of cookies, there are marked differences in color, flavor, texture and flavor of nastar. The variation of bran mixture decrease level of acceptance includes color, flavor, texture and flavor of nastar. Highest Mean Rank at treatment 25% bran mixture.

Conclusion: Based on of physical properties, organoleptic and fiber content nastar cookies with a mixture of rice bran showed a difference for each treatment. Suplementation of 25% rice bran in nastar cookies give the best physical and organoleptic properties, so that it could be developed as the new variation of nastar cookies.

ABSTRAK

LatarBelakang: Konsumsi beras di Indonesia sangatlah tinggi. Salah satu limbah pengolahan beras dari penggilingan padi adalah bekatul, memiliki banyak manfaat dan mengandung banyak zat gizi seperti vitamin, mineral dan serat. Namun demikian pemanfaatan bekatul sebagai bahan pangan sangatlah rendah. Asupan serat dapat memberikan manfaat bagi kesehatan diantaranya menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar glukosa darah dan mencegah konstipasi. Kue nastar merupakan kue yang digemari masyarakat dari semua golongan. Adanya campuran bekatul pada pembuatan kue nastar dapat memperkaya kandungan serat pada kue nastar sehingga memiliki nilai gizi yang lebih lengkap. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang variasi campuran bekatul pada kue nastar.

Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh campuran bekatul dan tepung terigu pada produk kue nastar ditinjau dari sifat fi sik, organoleptik dan kadar serat.

Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan yaitu eksperimental dengan empat perlakuan (bekatul 0%, bekatul 25%, bekatul 30% dan bekatul 35%), dua kali ulangan dan tiga unit coba. Sifat fisik dan organoleptik diuji secara observasi, kadar serat ditentukan menggunkana metode gravimetri. Data sifat fisik dianalisis secara deskriptif. Data organoleptik dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan Mann-Whitney. Data kadar serat dianalisis dengan uji Anova.

Hasil: Campuran bekatul pada kue nastar berpengaruh terhadap kadar serat kue nastar. Kadar serat paling tinggi yaitu pada campuran bekatul 35% yaitu 1,35 g%. Campuran bekatul juga berpengaruh terhadap sifat fisik kue nastar, ada perbedaan yang nyata pada warna, aroma, rasa dan tekstur terhadap kontrol. Campuran bekatul pada kue nastar berpengaruh terhadap penurunan penerimaan panelis yang meliputi warna, aroma, rasa dan tekstur. Mean Rank tertinggi yaitu pada perlakuan campuran bekatul 25%.

Kesimpulan: Hasil analisis sifat fisik, organoleptik dan kadar serat kue nastar dengan campuran bekatul menunjukkan adanya perbedaan untuk tiap perlakuan. Produk yang dapat dikembangkan yaitu kue nastar dengan campuran bekatul 25%.

KataKunci: Bekatul, Nastar, Sifat fisik, Organoleptik, Serat

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Teknologi Pangan

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

TINJAUAN KEAMANAN PANGAN PADA MIE LETHEK BERDASARKAN SKOR KEAMANAN PANGAN (SKP) DAN ANGKA KUMAN

Desty Tiasari 1, Supartuti2, Elza Ismail3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No 3, Banyuraden Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email : destytiasari@yahoo.com)

 

ABSTRACT

Background:Food safety in big industry and local or traditional food industry icurrently being promoted bthe government. One of the local food industry to note is the use of raw material stubers starchy (starchy foods) that contain lots of fiber and ittakes the body, such as the use of cassava in the manufacture of Mie Lethek. Food safety in Mie Lethek can be identified based on the security using the assessment Food Safety Score or Skor Keamanan Pangan (SKP) and the test method number germs.

Objective: to know food safety of Mie Lethek based Food Safety Score or Skor Keamanan Pangan (SKP) and the number of bacteria Mie Lethek.

Method: This study is an observational study with analytic descriptive research through cross-sectional approach. The object in this study were two factory Mie Lethek in Srandakan, Bantul, Yogyakarta. The location and time of this research was carried out in two factory Mie Lethek Srandakan Bantul Yogyakarta, in June 2014, the date of 4th, 6th, and June 11th, 2014 in Factory A and the 5th, 8th and June 12th, 2014 in Factory B. Score Food Safety or Skor Keamanan Pangan (SKP) conducted direct observation in both factory and number bacteria testing of Mie Lethek carried in Balai Labroratorium Kesehatan (BLK) Yogyakarta.

Result: Food Safety Score or Skor Keamanan Pangan (SKP) in Mie Lethek A was 62.77%, based in the category of assessment SKP Prone, But Safe for Consumption, while at SKP Mie Lethek B was 61.72, in the category of Vulnerable, But Not Safe for Consumption. Number of bacteria on Mie Lethek A of 4.5 x 105 colonies / g, in the category Safe, while the number of bacteria in Mie Lethek B of 2.0 x 106 colonies / g, in the category of Not Safe.

Conclusion: Under the circumstances it, show that the behavior at the time of processing affect the security of the resulting product.

Keywords:Food Safety, Food Safety Score or Skor Keamanan Pangan (SKP), Figures Germs, Mie  Lethek.

ABSTRAK

LatarBelakang: Keamanan pangan pada industri besar maupun industri pangan lokal dan tradisional saat ini sedang digalakkan pemerintah. Salah satu industri pangan lokal yang perlu diperhatikan adalah industri yang menggunakan bahan baku umbi-umbian berpati (starchyfoods) yang banyak mengandung serat dan dibutuhkan tubuh, seperti penggunaan ubi kayu pada pembuatan Mie Lethek. Keamanan pangan pada Mie Lethek dapat diidentifikasi berdasarkan penilaian Skor Keamanan Pangan (SKP) dan pengujian angka kuman.

Tujuan Penelitian: Diketahuinya keamanan pangan Mie Lethek berdasarkan Skor Keamanan Pangan (SKP) dan angka kuman Mie Lethek.

Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan jenis penelitian deskriptif analitik melalui pendekatan cross sectional. Obyek pada penelitian ini adalah dua pabrik Mie Lethek di Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di pabrik pembuatan Mie Lethek Kecamatan Srandakan Kabupaten Bantul Yogyakarta, pada bulan Juni tahun 2014, yaitu tanggal 4, 6, dan 11 Juni 2014 di Pabrik A dan tanggal 5, 8 dan 12 Juni 2014 di Pabrik B. Skor Keamanan Pangan (SKP) dilakukan dengan observasi langsung pada kedua pabrik Mie Lethek dan pengujian angka kuman dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Yogyakarta.

Hasil: SKP pada Mie Lethek A sebesar 62.77%, masuk dalam kategori Rawan, Tetapi Aman Dikonsumsi, sedangkan SKP pada Mie Lethek B sebesar 61.72% masuk dalam kategori Rawan, Tetapi Tidak Aman Dikonsumsi. Angka kuman pada Mie Lethek A sebesar 4.5 x 105 koloni/gr masuk dalam kategori Aman, sedangkan angka kuman pada Mie Lethek B sebesar 2.0 x 106 koloni/gr masuk dalam kategori Tidak Aman.

Kesimpulan: Berdasarkan keadaan tersebut, menunjukkan bahwa prilaku pada saat proses pengolahan mempengaruhi keamanan produk yang dihasilkan.

KataKunci: Keamanan Pangan, Skor Keamanan Pangan (SKP), Angka Kuman, Mie Lethek

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Teknologi Pangan

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

DAYA TERIMA DAN KUALITAS KUDAPAN PMT-AS PADA ANAK PRASEKOLAH DI TK MASYITOH DUKUH, IMOGIRI, BANTUL

 

Yulita Megawati 1, Tjaronosari 2, Sumirah 3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, JL Tata Bumi No 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email: ichimega@yahoo.co.id)

ABSTRACT

Background: The supplying ochild food school additional (PMT-AS) inutrition improvement program in kindergarten, elementary school and Raudhatul Atfal or Madrasah Ibtidayah. The minimum requirement of child food school additional is 300 calorie of energy and gram of protein. PMT-AS have aim to improve nutritional so make children familiar with healthy and nutritious foods from local foods. But actually in the PMT-AS menu, average protein just 3,76 gram and average energy just 228,14 calorie. In complete energy and protein adequacy with PMT-AS standard in PMT-AS menu can make children malnutrition. Moreover, children2-6 year old are nutrition critical age because children start eating difficult and picky with favorite food.

Objective: To know the effect quality of PMT-AS snack with acceptance for preschool children in Masyitoh Kindergarten, Dukuh, Imogiri, Bantul.

Method : The research use descriptive observational with cross-sectional study. The research subject is preschool children in Masyitoh Kindergarten, Dukuh, Imogiri, Bantul (107 children). It takes by purposive sampling method with subject criteria is B1-B4 grade with 5-6 year old and the presence students when research proceeds. The research object is PMT-AS snack. The data of PMT-AS snack quality and children acceptance obtained with food weighing and subjective assessment researcher. The relationship between variables use Chi square test.

Result: The average quality of PMT-AS snack is good and average children acceptance is good. There is no relationship between energy adequacy (p=0,579) and protein adequacy (p=0,338) with children acceptance. There is relationship between performance (p=0,026), flavor and taste (p=0,001) with children acceptance.

Conclusion: The adequacy of energy and protein contents of PMT-AS snack does not affect children acceptance, while performance, flavor and taste PMT-AS snack affects children acceptance.

Keywords : PMT-AS acceptance snack and PMT-ASquality snack.

ABSTRAK

Latarbelakang: Penyediaan makanan tambahan anak sekolah (PMT-AS) adalah program perbaikan gizi peserta didik di jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar dan Raudhathul Atfal atau Madrasah Ibtidayah. Syarat minimal makanan tambahan ini adalah energi 300 Kalori dan protein 5 gram. PMT-AS bertujuan untuk meningkatkan gizi serta mengenalkan makanan sehat dan bergizi dengan pangan local kepada anak-anak. Namun pada kenyataannya rata-rata kandungan protein dalam menu PMT-AS hanya 3,76 gram dan energi 228,14 Kalori. Ketidaksesuaian pemenuhan kecukupn kandungan energi dan protein dengan standar PMT-AS dapat mengakibatkan malnutrisi pada anak. Apalagi anak usia 2-6 tahun merupakan usia rawan gizi karena anak mulai susah makan dan pilih-pilih terhadap makanan yang ia suka.

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengaruh kualitas kudapan PMT-AS terhadap daya terima kudapan PMT-AS pada anak prasekolah di TK Masyitoh Dukuh, Imogiri, Bantul.

Metode penelitian: Jenis penelitian ini deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian ini adalah anak-anak pra-sekolah di TK Masyitoh Dukuh, Imogiri, Bantul (107 anak) diambil dengan metode purposive sampling dengan criteria siswa kelas B1-B4 berumur 5-6 tahun dan kehadiran siswa dalam mengikuti pelajaran saat penelitian berlangsung. Obyek penelitian anak terhadap snack PMT-AS. Data kualitas kudapan PMT-AS dan penerimaan anak terhadap snack PMT-AS diperoleh dengan metode penimbanagn dan penilaian subjektif peneliti. Hubungan keduanya di uji dengan Chi square.

Hasil : Rata-rata kualitas kudapan PMT-AS adalah bagus dan rata-rata daya terima anak baik (sisa kudapan 0%). Tidak ada hubungan antara kecukupan kandungan energi (p=0,579) dan protein (p=0,338) kudapan PMT-AS dengan daya terima anak. Ada hubungan antara tampilan (p=0,026), aroma dan rasa (p=0,001) kudapan PMT-AS mempengaruhi daya terima anak terhadap kudapan PMT-AS.

Kesimpulan : Kecukupan kandungan energi dan protein kudapan PMT-AS tidak mempengaruhi daya terima anak terhadap kudapan PMT-AS sedangkan tampilan, aroma dan rasa kudapan PMT-AS mempengaruhi daya terima anak terhadap kudapan PMT-AS.

Katakunci: Daya terima kudapan PMT-AS dan kualitas kudapan PMT-AS.

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Food Service

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

MUTU MAKANAN BERDASARKAN KESESUAIAN SPESIFIKASI PADA PENYELENGGARAAN MAKANAN SISITEM OUT SOURCING DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SLEMAN

Eny Nurkhayati1, Yeni Prawiningdyah2, Tjarono Sari3

1,3 Jurusan Gizi Politeknik Kemenkes Yogyakarta,Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta 2 RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, Jl. Kesehatan No. 1 Yogyakarta (email:nurkhayati_eny@yahoo.com)

ABSTRACT

Background:food service aparonutrition service in hospital ian integral parohealing process. Good quality onutrition service will occurthequality of hospital service such as in crease the healing process, decrease the needed time to stay in hospital, and decrease hospitality fee.If there is problem during nutrition service such as the appearence of food is not good, the taste of food is not good, will decrease patients appetite and amount of food that consumed by the patients. This will make the healing process become longer than expected and effect the fee for hospitality. Toproduce high quality foods, specification of food is need edin process.

Objective : knowing the food quality that compatible with food specifi cation of nutrition service with out sourcing system in Rumah Sakit Umum Daerah Sleman.

Methode : this research was an observational research with cross sectional design. This rerearch was an analitic reasearch to know the relationship between food quality with compatibility of food specifi cation that used RSUD Sleman.

Result : there was 80% of fundamental foods that compatible with food specification. There was 60% side dish from animal that compatible with food specification. There was 50% side dish from plants that compatible with food specifi cation. There was 70% vegetables that compatible with food specification. There was 79% respondens that had a good perception of the food appearience. There was 63% respondens that had a good perception of the taste of the food. Chi square analysis result showed there was relationship between food appeareance with compatibility of food specification (p=0,014) and there was relationship between the taste of food with compatibility of food specifi cation (p=0,001).

Conclusion : there was relationship between food appeareance with compatibility of food specifi cation and of nutrition service with out sourcing system in Rumah Sakit Umum Daerah Sleman

 Keywords:Food Quality, Food Specification, Nutrition Service with OutSourcing

ABSTRAK

Latarbelakang: Pelayanan gizi di rumah sakit melalui penyediaan makanan merupakan bagian integral dari upaya penyembuhan penyakit pasien. Mutu pelayanan gizi yang baik akan mempengaruhi indikator mutu pelayanan rumah sakit, yaitu meningkatkan kesembuhan, memperpendek lama rawat inap serta menurunkan biaya perawatan. Penampilan makanan kurang menarik, rasa kurang sesuai dapat menyebabkan selera makan pasien kurang, sehingga zat gizi yang masuk ke tubuh tidak optimal, selanjutnya proses penyembuhan dan pemulihan kesehatan pasien akan berlangsung lebih lama. Hal ini akan berdampak pada biaya pengobatan yang ditanggung selama masa perawatan di rumah sakit. Untuk menghasilkan makanan yang bermutu dan dapat diterima oleh pasien, makanan yang disajikan harus sesuai dengan spesifikasi makanan yang telah ditetapkan.

Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu makanan berdasarkan kesesuaian spesifikasi pada penyelenggaraan makanan sistem out-sourcing di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman.

Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman, Yogyakarta pada bulan Desember 2013. Jumlah Sampel 92 subyek dengan kriteri inklusi : pasien yang mendapat makanan biasa, berusia 17-70 tahun, minimal sudah dirawat selama 2 hari, keadaan h stabil dan sudah dapat menerima makanan lengkap, pasien dapat berkomunikasi dengan baik, bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Kriteria ekslusi : pasien yang mendapatkan makanan dari luar rumah sakit, pasien yang mendapatkan makanan dengan diet khusus, pasien dalam perawatan di ruang ICU. Variabel yang diteliti meliputi kesesuaian spesifikasi diperoleh dariform kesesuaian spesifikasi selama 10 hari pengamatan dan mutu makanan yang diperoleh dari hasil kuesioner penilaian kepuasan responden terhadap mutu makanan. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan rasa dan penampilan makanan dengan kesesuaian spesifikasi digunakan uji Chi-square. Hasil: Sebesar 80% makanan pokok sesuai spesifikasi, 60% lauk hewani sesuai spesifikasi, 50% lauk nabati sesuai spesifi kasi, dan 70% sayur sesuai spesifikasi. Sebesar 79% responden memberikan persepsi yang baik terhadap penampilan makanan yang disajikan dan sebesar 63% responden memberikan persepsi yang baik terhadap rasa makanan yang disajikan. Hasil uji Chi Square hubungan penampilan makanan dengan kesesuaian spesifikasi diperoleh p=0,014 (p<0,05) sedangkan untuk hubungan rasa makanan dengan kesesuaian spesifikasi diperoleh p=0,001 (p<0,05).

Kesimpulan: Ada hubungan antara mutu makanan dengan kesesuaian spesifikasi pada penyelenggaraan makanan sistem out-sorcing di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman

KataKunci: Mutu Makanan, Spesifikasi Makanan, Penyelenggaraan Makanan Sistem Out-Sourcing

 

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Food Service

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

ANALISIS BEBAN KERJA DAN KEBUTUHAN NUTRISIONIS DALAM PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL DI RUMAH SAKIT KRAKATAU MEDIKA

Dhaifah Mulyanti1, Yeni Prawiningdyah2, Setyowati3

 1,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta, 2 RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, Jl. Kesehatan No. 1 Yogyakarta (Email : tikwa_gizi_yogya@yahoo.co.id)

 

ABSTRACT

Background:Hospital aone opubliservices in the health sector haan important role in improving publihealth. Nutrition service is one of the existing services in the hospital. Good nutrition service is realized by implementing minimum service standards. High quality of nutrition service need ssupport from human professionals resources, one of which is nutritionist. Inrealizing human resources according to the needs of the organization, there are several obstacle such as the distribution of employees that do not tthe job specifications and arrangement of the employee based one stimationalone. So the workload analysis needs to be done.

Objective:The study aim to analyse workload and the need of Nutritionist for achieving minimum service standards at Krakatau Medika Hospital.

Method : The study was observational and descriptive with cross-sectional design. Data was collected by using the guidelines of Permenkes number 53 in 2012. Subjects were Nutritionists who work at Krakatau Medika Hospital Banten Province. Data analysis is presented descriptively.

Result : The result of this study is totals of Nutrisionist Krakatau Medika have been adequate ( 3 people), the workload is 1700.23 for the head nutrition unit, 1961.28 for dietitian supervisor of food production and distribution and in 1909, 07 dietitian nutrition services for inpatient and outpatient care. Nutritionist working volume of Krakatau Medika hospital in 1816 for the head unit is nutrition, 2951 for dietisien suoervisor of food production and distribution and 2270 for dietitian nutrition services for inpatient and outpatient care. Achievement positions on all office holders classified in category A which is very good. The number of workload units is 5570.58 with the achievement in category A that is very good. The achievement of minimum service standards of nutrition units has been reached.

Conclusion : Total of Nutrisionist at nutrition unit Krakatau Medika Hospital has been enough and minimum service standards is achieved and this unit works effectively and effi ciently.

 Keywords:Workload,Nutritionist,Minimumservicestandard

ABSTRAK

LatarBelakang :Rumah sakit sebagai salah satu pelayanan publik di bidang kesehatan yang memiliki peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan gizi menjadi salah satu pelayanan yang ada di rumah sakit. Pelayanan gizi yang baik diwujudkan dengan melaksanakan standar pelayanan minimal (SPM) sehingga dapat mewujudkan kualitas pelayanan gizi yang bermutu baik. Pelayanan gizi yang berkualitas membutuhkan dukungan sumber daya manusia profesional, salah satunya adalah Nutrisionis. Dalam mewujudkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan organisasi terdapat beberapa hambatan seperti distribusi pegawai yang tidak sesuai dan penetapan pegawai berdasarkan perkiraan semata sehingga analisis beban kerja perlu dilakukan.

Tujuan Penelitian : Mengetahui gambaran beban kerja dan melakukan analisis kebutuhan Nutrisionis dalam pencapaian standar pelayanan minimal (SPM) di Rumah Sakit Krakatau Medika.

Metode Penelitian : Jenis penelitian adalah deskriptif dengan observasional dan menggunakan desain cross sectional. Pengumpulan data menggunakan pedoman Permenkes nomor 53 tahun 2012. Subjek penelitian adalah Nutrisionis yang bekerja di Rumah Sakit Krakatau Medika. Analisis data disajikan dalam bentuk deskriptif.

Hasil Penelitian : Jumlah Nutrisionis Rumah Sakit Krakatau Medika saat ini cukup (3 orang) dengan beban kerja yaitu 1700,23 bagi kepala unit gizi, 1961,28 bagi dietisien pengawas produksi dan distribusi makanan serta litbang dan 1909,07 bagi dietisien pelayanan gizi rawat inap dan rawat jalan. Volume kerja 1816 bagi kepala unit gizi, 2951 bagi dietisien pengawas produksi dan distribusi makanan serta litbang dan 2270 bagi dietisien pelayanan gizi rawat jalan dan rawat inap. Prestasi jabatan seluruh Nutrisionis dalam kategori A yaitu sangat baik. Jumlah beban kerja unit adalah 5570,58 dengan prestasi jabatan unit A yaitu sangat baik. Capaian standar pelayanan minimal unit gizi sudah tercapai.

Kesimpulan : Jumlah Nutrisionis unit gizi di Rumah Sakit Krakatau Medika sudah cukup dan standar pelayanan minimal unit gizi sudah tercapai. Unit ini bekerja secara efektif dan efi sien.

 KataKunci : Beban kerja, Nutrisionis, Standar Pelayanan Minimal

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Food Service

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

PELATIHAN TENTANG PERTUMBUHAN ANAK BALITA DAMPAKNYA TERHADAP PENGETAHUAN DAN KETRAMPILAN KADER POSYANDU DI KECAMATAN MOYUDAN SLEMAN YOGYAKARTA

Marinda Panca Pratiwi1, Irianton Aritonang2, Slamet Iskandar3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi No.3, Banyuraden, Gamping, Sleman (Email: maarindaa93@gmail.com)

 

ABSTRACT

Background:The growth monitoring is an important to preven tany disruption of the growth early of child under five year old. These activities include defining growth status and provide its follow-ups of the proceeds of growth status. Based data of Primary Health Care (Puskesmas) of Moyudan, that acoverage D/S posyandu is 69,12%, the prevalence of under nutrition of child under five year is 3.06%. Therefore, then ecessary training to enhance the knowledge and skills of cadres of posyandu.

Objective: The aims of study to know the effect of training determines the growth status of child under five year and its follow-ups to the knowledge and skills of cadres of posyandu in Moyudan district.

Method: The study is quasi experimental with pretest-posttest design. The study was conducted on May-July 2014, that a subject is a 26 cadres of posyandu selected randomly. The independent variables is training to determine the status of growth and follow-ups, and the dependent variables knowledge and skills of cadres of posyandu. Analysis data with a test of statistics paired sample t test by using a confidence level of 95%.

Result: Test result showed that the knowledge with t = 7,367 (< 0.05), and the result of skill with t = 9,162 (< 0.05).

Conclusion: A training of cadres about determine status growth of child under five year and its follow-up were in uence signifi cantly to increased knowledge and skills.

Keywords:GrowthStatus,Training,Knowledge,Skills,Posyandu,Cadres

 

 ABSTRAK

LatarBelakang: Pemantauan pertumbuhan balita sangat penting dilakukan untuk mencegah secara dini adanya gangguan pertumbuhan. Kegiatan ini diantaranya menentukan status pertumbuhan balita dan memberikan tindak lanjut dari hasil status pertumbuhan balita. Berdasarkan data Puskesmas Moyudan, cakupan D/S posyandu adalah 69,12%, prevalensi balita BGM sebesar 3,06% dan masih ada balita dengan status gizi buruk. Oleh sebab itu, diperlukan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu tentang penentuan pertumbuhan anak balita dan tindak lanjutnya.

Tujuan Penelitian: Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pelatihan menentukan status pertumbuhan balita dan tindak lanjutnya terhadap pengetahuan dan keterampilan kader posyandu di Kecamatan Moyudan, Sleman

Metode Penelitian: Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuasi eksperimen dengan rancangan penelitian pretest-posttest design. Penelitian dilakukan bulan Mei-Juli 2014 dengan subjek penelitian kader posyandu yang berjumlah 26 orang dipilih secara acak dengan pengambilan lotre. Variabel bebas adalah pelatihan menentukan status pertumbuhan dan tindak lanjutnya dengan varibel terikat pengetahuan dan keterampilan kader posyandu. Analisis dilakukan dengan uji statistik paired sample t test dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95%.

Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan nilai t pengetahuan = -7,367 (t tabel=2,060), p=0,000 (<0,05). Sedangkan nilai t keterampilan =-9,162 (t tabel=2,060), p=0,000 (<0,05).

Kesimpulan: pelatihan menentukan status pertumbuhan balita dan tindak lanjutnya memberi pengaruh signifi kan terhadap pengetahuan dan keterampilan kader posyandu.

KataKunci: Status pertumbuhan, Tindak lanjut, Pelatihan, Pengetahuan, Keterampilan, Kader Posyandu.

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Gizi Masyarakat

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

DUKUNGAN SUAMI KEPADA IBU DALAM PRAKTIK PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GONDOKUSUMAN I YOGYAKARTA

Warti Anggraini1,Waryana2, Tri Siswati3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi No.3 Banyuraden Gamping Sleman Yogyakarta 55293 (Email: wartianggraini@yahoo.com)

 

ABSTRACT

Background:The percentage oexclusive breastfeeding in Gondokusuman Public Health Center in creased formerly from 35.2in 2012 to 80.23 in 2013. It was caused by high desire mothers to suckle exclusive support by their husbands.

Objective: This research aimed to find out husband’s support and mother’s behavior who able to reach exclusive breastfeeding.

Method: This is observational research with the phenomenology approach, in Gondokusuman I Public Health Center on May-July 2014. Informants were divided into two groups, main informants consisting of husbands and wifes and support informant consisting of someone who lives with husband and wife. Informer determined by purposive sampling. The dimension of research includes husband’s support and mother’s behavior in the attainment of exclusive breastfeeding. Collecting data was used by in depth interviews with aids guidelines interview, stationery and tape recorder. The validity of the data was done by triangulation of sources. Analysis of data started from the transcript to reduction, categorization and synthesis.

Result: The research on conduct mother during exclusive breastfeeding is the nursing that runs on demand infants and fixed lactation although mother travel and work by leaving breastfeeding dairy or just drop it off into a family at home. When mothers were sick, breastfeeding were still given and were more careful in taking medicine.

Conclusion: The results of the research on the forms of husband’s support during their wife exclusively breastfeeding consist s of two, such as emotional support which was reminiscent of the wife for immediate breastfeeding, paying attention to the nutritional intake, buy healthy food and drinks or milk and vitamins for mothers and instrumental support such as helping wife relieve housework includes taking care of the baby and her older child.

 Keywords:ExclusiveBreastfeeding,MaternalBehavior,Husband’sSupport

 ABSTRAK

 LatarBelakang: Prosentase ASI eksklusif di Puskesmas Gondokusuman I mengalami peningkatan dari semula 35.2% di tahun 2012 menjadi 80.23% di tahun 2013. Hal ini disebabkan tingginya keinginan ibu untuk menyusui eksklusif yang didukung oleh suami.

TujuanPenelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dukungan suami dan perilaku ibu yang berhasil mencapai ASI eksklusif.

MetodePenelitian: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Gondokusuman I pada bulan Mei-Juli 2014. Informan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu informan utama yang terdiri dari suami dan istri serta informan pendukung yang terdiri dari orang lain yang tinggal serumah dengan suami istri. Informan ditentukan dengan menentukan kriteria tertentu. Dimensi penelitian meliputi dukungan suami dan perilaku ibu dalam pencapaian ASI eksklusif. Pengambilan data dengan metode wawancara mendalam dengan alat bantu pedoman wawancara, alat tulis dan perekam. Validitas data dilakukan dengan triangulasi sumber. Analisis data dimulai dari tahap transkrip yang dilanjutkan reduksi, kategorisasi dan sintesis.

Hasil: Hasil penelitian pada perilaku ibu selama menyusui eksklusif adalah pelaksanaan menyusui yang berjalan sesuai permintaan bayi dan tetap menyusui walau ibu berpergian dan bekerja dengan meninggalkan ASI perah atau menitipkannya pada keluarga dirumah. Saat ibu sakit, ASI tetap diberikan dan ibu lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi obat.

Kesimpulan: Bentuk dukungan suami selama istri menyusui eksklusif terdiri dari dua yaitu dukungan emosional seperti mengingatkan istri untuk segera menyusui, memperhatikan asupan gizi, membelikan makanan dan minuman sehat atau susu dan vitamin bagi ibu menyusui dan dukungan instrumental seperti membantu istri meringankan pekerjaan rumah tangga termasuk mengurus dan merawat bayi dan kakaknya.

Katakunci: ASI Eksklusif, Perilaku Ibu, Dukungan Suami

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Gizi Masyarakat

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

ASUPAN ENERGI, PROTEIN, VITAMIN C DAN ZAT BESI DENGAN STATUS ANEMIA PADA REMAJA PUTRI MAN YOGYAKARTA III

Muji Rahayu Waluyoati1, Slamet Iskandar2, Noorti Fauzah 3

1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email : iskpande2002@gmail.com)

ABSTRACT

Background:Nutrition problemin Indonesia in cludes PEMironanemiaIDDVAD and obesity. Anemia associated with wrong eating habitslack of energyproteinvitamin and ironIf it happens in the long term will result in iron deficiency anemia.

Objective: The purpose of the study was to determine there lationship of energy intakeproteinvitamin and iron status of anemia in adoles cent girls in Yogyakarta MAN III.

Method: Methods The study is a type of observation of this study is to use a cross sectional design. The respondents were students MAN Yogyakarta III were 70 students. Method of sampling with random sampling technique. Hemoglobin levels were taken with methods and method cyanmethemoglobin Food Frequency Questionnaire (FFQ) to assess the intake of energy, protein , vitamin C and iron .

Result: Statistical analysis using chi square test and regression . The results showed that the samples have less energy intake by 6.7 % and 93.3 % of energy intake either . Samples that have less protein intake by 20 % and 80 % better intake . Samples that have less vitamin C intake by 58.3 % and 41.7 % of energy intake either . Samples that have less iron intake by 21.7 % and 78.3 % iron intake either . Multiple regression analysis showed that only the protein intake has a significant effect on hemoglobin levels in adolescent girls MAN Yogyakarta III .

Conclusion: There is a significant relationship between intake of energy, protein , vitamin C and iron

Keywords:energintakeprotein intakeintake ovitamin Cironanemia status, anemia statusprotein intake hasignificant effect on anemia status.

ABSTRAK

 LatarBelakang: Masalah gizi di Indonesia meliputi KEP, anemia besi, GAKY, KVA dan obesitas. Anemia berhubungan dengan kebiasaan makan yang salah, kekurangan energi, protein, vitamin C dan zat besi. Hal tersebut jika terjadi dalam jangka panjang akan mengakibatkan terjadinya anemia defi siensi besi.

Tujuan Penelitian: untuk mengetahui hubungan asupan energi, protein, Vitamin C dan zat besi dengan status anemia pada remaja putri di MAN Yogyakarta III.

Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah Observasi dengan menggunakan rancangan cross-sectional. Responden penelitian adalah siswi MAN Yogyakarta III sebanyak 70 siswi. Cara pengambilan sampel dengan teknik random sampling. Kadar hemoglobin diambil dengan metode cyanmethemoglobin dan metode Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk mengetahui asupan energi, protein, vitamin C dan zat besi. Analisis uji statistik mengunakan chi square dan regresi.

Hasil penelitian: menunjukkan sampel yang memiliki asupan energi kurang sebesar 6,7% dan 93,3% asupan energi baik. Sampel yang memiliki asupan protein kurang sebesar 20% dan 80% asupan baik. Sampel yang memiliki asupan vitamin C kurang sebesar 58,3% dan 41,7% asupan energi baik. Sampel yang memiliki asupan zat besi kurang sebesar 21,7% dan 78,3% asupan zat besi baik. Analisis regresi ganda menunjukkan bahwa hanya asupan protein yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kadar hemoglobin pada remaja putri MAN Yogyakarta III.

Kesimpulan:Terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi, protein, vitamin C dan zat besi dengan status anemia. Dengan analisis multivariat, asupan protein memiliki pengaruh yang signifikan terhadap status anemia.

KataKunci: Asupan energi, asupan protein, asupan vitamin C, asupan zat besi, status anemia.

 

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Gizi Masyarakat

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

ASUPAN SERAT DAN POLA KONSUMSI FAST FOOD SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA OBESITAS PADA REMAJA DI KOTA YOGYAKARTA

Listiana Purnaning Siwi1, Weni Kurdanti2, Nurul Huda Syamsiatun3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No.3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (E-mail: weni.kurdanti@gmail.com, listiana_aurora@yahoo.co.id)

 

ABSTRACT

Background:National obesity prevalence 2007 in people aged ≥ 15 years in Indonesia istill high at10,3%. The high prevalence can becaused alot of thing, some of them are lack of dietary fiber intakeand increasement of fast food consumption patterns, both frequency consumption and amount intakeenergy from fastfood.

Objective:This research aimed to know the risk factors of obesity inteenagersin Yogyakarta City.

Method: This research was an observational study with case control design. The research was conducted on Mei-Juni 2014, in SMA N 6, SMA N 9, SMA Bopkri 1 and SMA Bopkri 2 Yogyakarta. The population of this research were students of class X and XI in SMA N 6, SMA N 9, SMA Bopkri 1, SMA Bopkri 2 Yogyakarta, were grouped by Case: 72 student with obesity status and Control: 72 student with non-obesity status, which is in the same school (peer group). Screening weight and height was done at the beginning of the study for determine the case and control groups. The sampling was determined by purposive sampling with matching age, sex and peer group. Independent variables were dietary fiber intake and fast food consumstion patterns. Dependent variable of this research was status of obesity. Data analysis used chi-square to knowing odds ratio (OR). Analysis result showed that there is an association between dietary fiber intake with obesity (p = 0,032), but dietary fiber intake is not a risk factor of obesity with OR = 0,458 (95% CI :0,223-0,941).

Result: There is a significant association between the frequency of fast food consumption with obesity (p = 0,008). The frequency of fast food consumption is a risk factor of obesity with OR = 2,469 (95% CI :1,264-4,826). There is an association between amount of intake energy from fast food with obesity (p = 0.012), but the amount of intake energy from fast food is not a risk factor of obesity with OR = 0,429 (95% CI :0,220-0,837).

Conclusion: Factor that has a higher risk causing obesity in teenager is frequency of fast food consumption. Teeneger who frequently consume fast food has risk 2,469 times obese than teens who rarely eat fast food. Dietary fiber intake and amount of intake energy from fast food is not a risk factor of obesity in teenager.

Keywords:Obesity, Dietary Fiber Intake, Fast Food Consumption Patterns (Frequency oConsumption Fast Food and Amount oIntake Energy of Fast Food)

ABSTRAK

LatarBelakang: Prevalensi obesitas nasional tahun 2007 pada penduduk umur ≥ 15 tahun di Indonesia masih tinggi yaitu sebesar 10,3%. Tingginya prevalensi tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor, beberapa diantaranya adalah rendahnya asupan serat dan peningkatan pola konsumsi fastfood, baik dari segi frekuensi konsumsi maupun jumlah asupan energi dari fastfood.

Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya obesitas pada remaja di Kota Yogyakarta.

Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan case control. Penelitian dilaksanakan pada Mei-Juni 2014 di SMA N 6, SMA N 9, SMA Bopkri 1 dan SMA Bopkri 2 Yogyakarta, yang dikelompokkan menjadi kelompok Kasus: 72 siswa dengan status obesitas dan Kontrol: 72 siswa dengan status tidak obesitas, yang berada dalam satu sekolah yang sama (peer group). Skrining berat badan dan tinggi badan dilakukan pada awal penelitian untuk menentukan kelompok kasus dan kontrol. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan matching umur , jenis kelamin dan peer group. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square tabel silang 2×2 untuk mengetahui besar odds ratio (OR).

Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan antara asupan serat dengan obesitas (p=0,032), namun asupan serat bukan merupakan faktor risiko terjadinya obesitas dengan OR=0,458 (95% CI:0,223-0,941). Terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi konsumsi fast food dengan obesitas (p=0,008). Frekuensi konsumsi fast food merupakan faktor risiko terjadinya obesitas dengan OR=2,469 (95% CI:1,264-4,826).

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara jumlah asupan energi fast food dengan obesitas (p=0,012), namun jumlah asupan energi fast food bukan merupakan faktor risiko terjadinya obesitas dengan OR=0,429 (95% CI:0,268-1,081). Faktor yang lebih berisiko menyebabkan terjadinya obesitas pada remaja adalah frekuensi konsumsi fast food. Remaja yang sering mengkonsumsi fast food berisiko 2,469 kali mengalami obesitas daripada remaja yang jarang mengkonsumsi fast food. Asupan serat dan jumlah asupan energi fast food bukan sebagai faktor risiko terjadinya obesitas pada remaja.

KataKunci: Obesitas, Asupan Serat, Pola Konsumsi FastFood (Frekuensi Konsumsi FastFood dan Jumlah Asupan Energi FastFood)

 

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Gizi Masyarakat

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015