POLA HUBUNGAN HUKUM DALAM PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL

Agus Sarwo Prayogi1, Tata Wijayanta2
1Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta,
Jl. Tata Bumi No,. 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta, Email: saworbali@gmail.com
2Program Studi Hukum Kesehatan, Fakultas Hukum, UGM Yogyakarta (tata_wijayanta@yahoo.com)

ABSTRACT

Research entitled The Legal Relationship Pattern in Traditional Health Careis the empirical juridical research. The purpose of the research is to examine the legal relationship form and review the material substance which is regulated in the legislation which related with legal relationship in the traditional health care of acupuncture treatment. In collecting secondary data of this study, using documentation method of document study instrument. Collecting primary data using unstructured interview with interview guidelines instrument. The relation of acupuncturists as traditional health care with patients is therapeutic relation which is in law was categorized as an alliance which came from treaty. From legal aspects of the relationship that occurs can be described as therapeutic treaty or transaction, and the object is a form of healing and health care which included fulfi llment of rights and obligations between one party to another, and the form is engagemen effor twhose achievements (inspanningverbintenis). The relation characteristic is the existence of treaty (consensual agreement), and the existence of trust (fi duciary), so the contract relationship based on mutual trust to trust each other.
Keywords: legal relationship, tradional health care, acupuncture

ABSTRAK

Penelitian berjudul Pola Hubungan Hukum Dalam Pelayanan Kesehatan Tradisional adalah penelitian yuridis empiris. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bentuk hubungan hukum dan mengkaji substansi materi yang diatur dalam undang-undang yang berkaitan dengan hubungan hukum dalam pelayanan kesehatan tradisional pengobatan akupunktur. Dalam pengumpulan data sekunder dari penelitian ini, menggunakan metode dokumentasi, dengan alat studi dokumen. Pengumpulan data primer menggunakan cara wawancara (interview) tidak terstruktur, alatnya pedoman wawancara. Hubungan akupunkturis sebagai pelayanan kesehatan tradisional dengan pasien merupakan hubungan terapeutik yang dalam hukum dikatagorikan suatu perikatan yang lahir dari perjanjian. Dari aspek hukum maka hubungan yang terjadi tersebut dapat dikatakan sebagai suatu perjanjian atau transaksi terapeutik, dan menjadi yang obyeknya adalah berupa penyembuhan dan pelayanan kesehatan yang didalamnya terdapat pemenuhan hak dan kewajiban antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya, dalam perikatan yang prestasinya berupa upaya atau inspanningverbintenis. Sifat hubungannya adalah adanya suatu persetujuan (consensual agreement), dan adanya suatu kepercayaan (fi duciary), maka hubungan kontrak tersebut berdasarkan saling percaya mempercayai satu sama lain.
Kata Kunci : hukum kesehatan, kesehatan tradisional, akupuntur

Fulltext : hukum dan yankes

Bibliografi : Jurnal Teknologi Kesehatan, Volume 11 Nomor 1, Maret 2015
Posted by : Admin Jurtekkes
Posted On : 4-9-2015

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STIGMA MAHASISWA POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA TERHADAP ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA)

Hesty Widyasih1, Suherni2

1,2Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta,
Jl. Mangkuyudan MJ III/304 Yogyakarta 55143
email: hesty_widya@yahoo.com

ABSTRACT

HIV/AIDS cases in Indonesia have increased. The prevalence of AIDS cases in DIY also increased. HIV and AIDS are often associated with deviant behavior. HIV is incurable and can lead to death, thus causing a negative stigma of people living with HIV/AIDS in the community, including health professionals. Health polytechnic of Yogyakarta’s students as potential health personnel who are required to provide appropriate care for people living with HIV/AIDS patients can not be separated from the stigma. The objective of the study was to determine the factors that infl uence the stigma of Health polytechnic of Yogyakarta’s students against people living with HIV/AIDS. This study was a cross sectional survey. The study was conducted in Health polytechnic of Yogyakarta in June to August 2013. The study population was all students of Health polytechnic of Yogyakarta grade 3. Sampling technique was obtained by random sampling proportional sample of 190 respondents. Data were taken by questionnaire. The analysis was performed by analysis univariate, bivariate (chi-square) and multivariate (logistic regression). There was no relationship between the level of knowledge about HIV/AIDS and stigma against people living with HIV/AIDS (p value=0.075). There was a relationship between the perception of people living with HIV/AIDS and stigma against people living with HIV/AIDS (p value 0.000). There was no relationship between the availability of information about HIV/AIDS and stigma against people living with HIV/AIDS (p value = 0.063). There was a relationship between the experience to meet people living with HIV/AIDS and stigma against people living with HIV/AIDS (p value = 0.034). Students who have experience to meet people living with HIV/AIDS have the opportunity not to stigmatize at 2,047 times greater, while the students who have good perception have the opportunity not to stigmatize 3,516 times greater compared to the ones that have bad perception.
Keywords: Stigma, HIV/AIDS

ABSTRAK

Kasus HIV/AIDS di Indonesia semakin meningkat. Prevalensi kasus AIDS di DIY juga meningkat. HIV dan AIDS sering dikaitkan dengan perilaku menyimpang. HIV tidak dapat disembuhkan dan dapat menyebabkan kematian, sehingga menyebabkan stigma negatif ODHA di masyarakat termasuk dari tenaga kesehatan. Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta sebagai calon tenaga kesehatan yang dituntut untuk dapat memberikan asuhan yang tepat bagi pasien ODHA tidak terlepas dari stigma tersebut. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stigma mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta terhadap Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2013. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta tingkat 3. Teknik sampel dengan proportional random sampling didapatkan jumlah sampel 190 responden. Pengambilan data dengan kuesioner. Analisis dilakukan dengan analisis Univariate, bivariate (chi square) dan multivariate (regresi logistik). Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma Mahasiswa terhadap ODHA (p value=0.075). Ada hubungan persepsi terhadap ODHA dengan stigma Mahasiswa terhadap ODHA (p value 0.000). Tidak ada hubungan antara ketersediaan informasi tentang HIV/AIDS dengan stigma Mahasiswa terhadap ODHA (p value=0.063). Ada hubungan antara pengalaman pertemu ODHA dengan stigma mahasiswa tentang ODHA (p value= 0.034). Mahasiswa yang berpengalaman bertemu dengan ODHA mempunyai peluang untuk tidak menstigma sebesar 2.047 kali lebih besar sedangkan yang mempunyai persepsi baik mempunyai peluang untuk tidak menstigma sebesar 3.516 kali dibandingkan dengan yang mempunyai persepsi buruk.
Kata Kunci: Stigma, ODHA

Fulltext : ODHA

Bibliografi : Jurnal Teknologi Kesehatan, Volume 11 Nomor 1, Maret 2015
Posted by : Admin Jurtekkes
Posted On : 4-9-2015

JUS SELEDRI (APIUM GRAVEOLENS) MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI ESSENSIAL

Harmilah1, Rosa Delima Ekwantini2, Abdul Majid3
1,2,3Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta,
Jl. Tata Bumi No 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta. 55293.
E-mail:harmilah2006@yahoo.com

ABSTRACT

Hypertension is a common public health problem. Uncontrolled hypertension can lead to degenerative diseases, such as congestive heart failure , kidney failure , and vascular disease . Hypertension is called the “silent killer “. Even tough it’s an incurable disease prevention and management effort can reduce the incidence of hypertension and it’s complication. The objective is to identify the corelation between celery juice (Apium graveolens) consumption and the blood pressure of essential hypertension patient. The study uses quasi experimental with pre-post test with control design. We performed random sampling technique as a sampling method, ad we use Mann-Whitney test for the statistical analysis. The was a mean reduction of blood pressure in essential hypertensive patients after the administration of celery juice with 3.88 g / kg for 7 days following the systolic pressure of 38.87 mmHg in the treatment group and 22.13 mmHg in the control group with p value of 0.000 ( p < 0 , 05 ) and the mean reduction in diastolic pressure of 39.23 mmHg in the treatment group and 21.77 mmHg in the control group with p value of 0.000 ( p < 0.05 ). Conclusion: there is a signifi cant effect of celery juice consumption in lowering the blood pressure in patients with essential hypertensive.
Keywords : celery juice, essential hypertension, patient.

ABSTRAK

Hipertensi adalah masalah kesehatan sering terjadi di masyarakat. Hipertensi tidak terkontrol dapat memicu timbulnya penyakit degeneratif, seperti gagal jantung congestif, gagal ginjal, dan penyakit vaskuler. Hipertensi disebut “silent killer”. Meskipun tidak dapat diobati, pencegahan dan penatalaksanaan dapat menurunkan kejadian hipertensi dan penyakit yang menyertainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jus seledri (Apium Graveolens) terhadap penurunan tekanan darah hipertensi essensial. Penelitian menggunakan desain quasi eksperimen dengan metode pre post test with control design.Penelitian dilakukan di Yogyakarta tahun 2014. Teknik sampling dengan random sampling. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Terjadi penurunan rerata tekanan darah pasien hipertensi essensial setelah pemberian jus seledri dengan 3,88 gr/kg BB selama 7 hari sebagai berikut tekanan sistolik 38,87 mmHg pada kelompok perlakuan dan 22,13 mmHg pada kelompok kontrol dengan p value 0,000 (p < 0,05) dan rerata penurunan tekanan diastolik 39,23 mmHg pada kelompok perlakuan dan 21,77 mmHg pada kelompok kontrol dengan p value 0,000 (p < 0,05) Kesimpulan: Jus seledri menurunkan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi essensial.
Kata kunci: Jus seledri, hipertensi essensial

Fulltext : jus seledri

Bibliografi : Jurnal Teknologi Kesehatan, Volume 11 Nomor 1, Maret 2015
Posted by : Admin Jurtekkes
Posted On : 4-9-2015

PERILAKU YANG MENDORONG KEBERHASILAN ASI EKSKLUSIF PADA WANITA BEKERJA DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA: STUDI POSITIVE DEVIANCE

Wuri Kathleen Herningsih1, Tri Siswati2, Mutiara Tirta P L K1
1Prodi S1 Gizi FK UGM, Jl. Sekip Yogyakarta
2Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jl. Tata Bumi no3, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta 55293.
Email:trisiswati14@gmail.com

ABSTRACT

One of the factors which cause the failure of exclusive breastfeeding is the status as a working mother. Positive deviance is a method to fi nd the solution and strategy for working mothers to over come diffi culties in giving exclusive breastfeeding during their working hours. As one of the health institutions that wish to solve the local, national, and global problem, a study on positive deviance among working mothers at Medical School UGM in giving exclusive breast feeding had never been conducted. This research is to fi nd the solutions and strategies for working mothers at Medical School UGM in over coming the diffi culties of providing exclusive breast feeding during working hours. This research is a qualitative-based research on 11 female staff of Medical School UGM who had successfully performing exclusive breast feeding in the last two years. Data is gathered by doing in-depth interviews with theres pondents. Data validation was conducted by triangulation of the method and documentations. Even though being occupied with their works, working mothers still provided exclusive breastfeeding since these mothers were well aware of the benefi ts of breast milk for babies. Breast milk is given by pumping/squeezing the breast milk at their workplaces or breastfeeding during the break. Medical School UGM has not provided the facility which supports the exclusive breastfeeding in order to help the working mothers to provide exclusive breastfeeding by using the existing facilities.In order to cope with workstress, stress management is needed so that breast milk production will not be inhibited. Supports from their husbands, families and co-workers also infl uence the success of providing exclusive breastfeeding during working hours. Establishing lactation room, daycare, and tolerance during working hours are the facilities that can be provided to enable exclusive breast feeding for working mothers. The solutions for working mothers to be able to provide exclusive breastfeeding areby implementing stressmanagement so that
work stress will not interfere with breast milk production; andusing the existing facilities. The strategies that can be implemented are pumping/squeezing the breast milk or breastfeeding during break time and eat nutritious foods.The success of this solutions and strategies is supported by the mothers’ will and knowledge of the importance of breastfeeding and the support from their husbands, families and co-workers.
Keyword: exclusive breastfeeding, workingmother, qualitative research, positive deviance

ABSTRAK

Salah satu faktor penyebab kegagalan ASI eksklusif adalah status bekerja ibu. Positive deviance adalah metode untuk menemukan solusi dan strategi ibu bekerja dalam mengatasi kesulitan pemberian ASI eksklusif selama masa bekerja. Sebagai salah satu institusi kesehatan yang ingin memecahkan masalah lokal, nasional, dan global, studi mengenai positive deviance ibu bekerja di FK UGM dalam memberikan ASI eksklusif belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan solusi dan strategi dari ibu bekerja di FK UGM dalam mengatasi kesulitan pelaksanaan ASI eksklusif selama bekerja. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif terhadap 11 staf wanita FK UGM yang telah berhasil menjalani ASI eksklusif dalam dua tahun terakhir. Data didapat dengan melakukan wawancara mendalam pada responden. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi metode dan dokumentasi. Walaupun sibuk bekerja, ASI eksklusif tetap diberikan karena para ibu mengetahui manfaat ASI bagi bayi. ASI diberikan dengan memerah ASI di tempat kerja atau menyusui bayi secara langsung saat jam istirahat. FK UGM belum menyediakan fasilitas yang mendukung ASI eksklusif sehingga para ibu tetap memberikan ASI eksklusif dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Untuk mengatasi stres bekerja, ibu melakukan manajemen stres agar produksi ASI tidak terhambat. Dukungan dari suami, keluarga dan rekan kerja juga memberi pengaruh pada keberhasilan ASI eksklusif selama bekerja. Penyediaan ruang laktasi, tempat penitipan anak, dan toleransi waktu bekerja merupakan hal-hal yang dapat disediakan untuk mempermudah pemberian ASI ekslusif bagi ibu yang bekerja. Solusi ibu bekerja untuk tetap memberikan ASI eksklusif adalah dengan menerapkan manajemen stres agar stres bekerja tidak mengganggu produksi ASI dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Strategi yang dilakukan adalah dengan memerah ASI atau menyusui saat jam istirahat dan mengkonsumsi makanan bergizi. Keberhasilan solusi dan strategi ini didukung dengan kemauan dan pengetahuan ibu akan pentingnya ASI serta dukungan dari suami, keluarga, dan rekan kerja.
Kata Kunci: ASI eksklusif, ibu bekerja, penelitian kualitatif, positive deviance

Fulltext : ASI Ekslusif

Bibliografi : Jurnal Teknologi Kesehatan, Volume 11 Nomor 1, Maret 2015
Posted by : Admin Jurtekkes
Posted On : 4-9-2015

DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK GARLIC TERHADAP KADAR HAMBAT MINIMUM (KHM) DAN KADAR BUNUH MINIMUM (KBM) STREPTOCOCCUS MUTANS PADA MEDIA AGAR

Wiworo Haryani1, Susilarti2, Siti Hidayati3
1,2,3Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta,
Jl Kyai Mojo 56 Pingit, Yogyakarta, Email: haryaniwiworo@yahoo.co.id

ABSTRACT

The increased prevalence of active caries in Indonesia is still high at 53.2%. The impacts of dental caries are a disruption in the activity function of oral cavity that affects nutritional status, daily performance and quality of life. Dental caries is tooth decay due to the infl uence of acid from the fermentation of bacteria, which causes the decomposition of dentin and cement that involves digestion of protein matrix by bacteria such as Streptococcus mutans. Preventive measures are necessary to do to combat the high rate of caries prevalence. People are starting to give attention on natural remedy (back to nature). Garlic contains alisin serving as natural anti-bacteria. Garlic extract is an effective agent for the control of methicillin-resistant Staphylococcus and oral pathogenic bacteria such as Streptococcus mutans. This study aimed to determine the effects of garlic extract as anti-bacteria on Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) of Streptococcus mutans on agar media. This was an experimental study with a posttest with control group design. The samples were garlic extract with a concentration of 50%, 25%, 12.5%, 6.25%, 3.125%, and 1.56% and the control obtained by simple dilution method. The microorganisms being used were pure cultures of Streptococcus mutans (S. mutans). The data were presented descriptively to determine the level of turbidity (MIC) and the presence of colony growth (MBC) of S. mutans on agar media. The results of Kruskal Wallis test showed that there was
signifi cant effects of various concentrations of garlic extract on MIC and MBC of S. mutans on agar media (p <0.05).The conclusion is that MIC and MBC of garlic extract against Streptococcus mutans on agar media was at a concentration of 50%.
Keywords: Garlic extract, Streptococcus mutans, Minimum Inhibitory Concentration, Minimum Bactericidal Concentration

ABSTRAK

Peningkatan terjadinya karies aktif pada penduduk Indonesia saat ini masih tinggi yaitu angka prevalensi 53,2% penduduk yang mengalami karies gigi. Dampak karies gigi yang tidak dirawat adalah gangguan pada fungsi aktivitas rongga mulut sehingga mempengaruhi status gizi, kinerja sehari-hari dan kualitas hidup. Karies gigi adalah kerusakan gigi akibat pengaruh asam hasil peragian bakteri, selanjutnya dekomposisi dentin dan semen yang melibatkan pencernaan matriks protein oleh bakteri, Streptococcus mutans adalah salah satu penyebab karies. Upaya preventif diperlukan untuk menanggulangi tingginya tingkat prevalensi dari karies. Masyarakat mulai ada perhatian kembali ke alam (back to nature). Garlic (bawang putih/Allium sativum linn)mengandung alisin berfungsi sebagai antibakteri alami. Ekstrak garlic merupakan agen yang efektif untuk mengontrol methicillin-resistant Staphylococcus dan bakteri patogen mulut seperti Streptococcus mutans.Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh daya antibakteri ekstrak garlic terhadap Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) Streptococcus mutans pada media agar.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan rancangan posttest with control group design. Sampel penelitian adalah ekstrak garlic dengan konsentrasi 50%; 25%; 12,5%; 6,25%; 3,125%;1,56% dan kontrol, yang diperoleh dengan metode dilusi sederhana. Mikroorganisme yang digunakan adalah biakan murni Streptococcus mutans (S.mutans). Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif untuk mengetahui tingkat kekeruhan (Kadar Hambat Minimum/KHM) berbagai konsentrasi ekstrak garlic, serta ada tidaknya pertumbuhan (Kadar Bunuh Minimum/KBM) bakteri S. mutans pada media agar. Hasil uji statistik Kruskal wallis test menunjukkan ada pengaruh berbagai konsentrasi ekstrak garlic terhadap KHM dan KBM bakteri S. mutan pada media agar. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan KHM dan KBM ekstrak garlic terhadap bakteri Streptococcus mutans adalah pada konsentrasi 50%.
Kata Kunci: Ekstrak garlic, Streptococcus mutans, Kadar Hambat Minimum (KHM), Kadar Bunuh Minimum (KBM)

Fulltext : ekstrak garlic

Bibliografi : Jurnal Teknologi Kesehatan, Volume 11 Nomor 1, Maret 2015
Posted by : Admin Jurtekkes
Posted On : 4-9-2015

HUBUNGAN STATUS GIZI BERDASARKAN MINI NUTRITION ASSESSMENT DAN GERIATRIC NUTRITIONAL RISK INDEX TERHADAP LAMA RAWAT INAP PASIEN USIA LANJUT DI BANGSAL BEDAH RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

Susetyowati1, Yosephin Anandati Pranoto2
1,2Bagian Gizi Kesehatan FK UGM,
Jl. Sekip No1, UGM, Yogyakarta, email: susetyowati@gmail.com

ABSTRACT

The prevalence of hospital malnutrition in elderly patients is still quite high at about 40%. Several studies have shown that malnutrition is closely related to the length of hospitalization and postoperative complications. Mini Nutrition Assessment (MNA) and Geriatric Nutritional Risk Index (GNRI) are two methods of screening and assessment of nutritional status that can be used for elderly patients. This research is to compare GNRI with MNA in assesing nutritional status in elderly patients and to analyze the association between nutritional status of patients with the length of Hospitalization. This is an analytic cross sectional study conducted in Adult Surgery Department of RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta on June-November 2012. Sixty seven geriatric surgical patients were assessed using MNA and GNRI. The length of stay were obtained from inpatient admission and discharge from the hospital. Validity test was perfomed by calculating the sensitivity (Se), specifi city (Sp), positive predictive value (PPV) and negative predictive value (NPV), while the bivariate correlation test was performed by using chi square. Based on its validity test obtained Se: 82.14%; Sp: 63.64%; NPP: NPN 92% and 59%. The prevalence of patients at risk of malnutrition and malnutrition by MNA and GNRI was 83.5% and 74.6% respectively . There was no signifi cant relationship between nutritional status and length of stay (P> 0.05). Patients who were at risk of malnutrition by MNA had a longer length of stay by 3.82 days compared to patients who are not at risk of malnutrition. Geriatric Nutritional Risk Index can be used to assess the nutritional status of elderly patients. There was no association between nutritional status and length of stay in geriatric patients assessed with GNRI and MNA.
Keywords: malnutrition, elderly, length of stay, MNA, GNRI

ABSTRAK

Prevalensi malnutrisi di rumah sakit pada pasien usia lanjut di bangsal bedah masih cukup tinggi yaitu sekitar 40%. Banyak penelitian membuktikan bahwa malnutrisi erat kaitannya terhadap lama rawat inap yang panjang dan komplikasi pasca operasi. Mini Nutrition assessment (MNA) dan Geriatric Nutritional Risk Index (GNRI) merupakan dua metode skrining dan penilaian status gizi yang dapat digunakan untuk pasien lansia yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode GNRI dengan MNA dalam menentukan status gizi pada pasien lansia di bangsal bedah serta mengetahui hubungan status gizi dengan lama rawat inap pada pasien lansia yang menjalani operasi. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional yang dilaksanakan di Bangsal Bedah Pasien Dewasa RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada bulan Juni-November 2012. Sebanyak 67 pasien memenuhi kriteria inklusi dan dinilai status gizinya menggunakan MNA dan GNRI, kemudian diikuti dengan pencatatan tanggal keluar masa rawat inap. Uji validitas dilakukan dengan menghitung nilai sensitivitas (Se), spesifi sitas (Sp), Nilai prediktif positif (NPP) dan nilai prediktif negatif (NPN), sedangkan uji hubungan bivariat menggunakan chi square. Berdasarkan uji validitas GNRI terhadap MNA sebagai baku emas didapatkan nilai Se: 82,14%; Sp: 63,64%; NPP: 92% dan NPN 59%. Prevalensi pasien yang berisiko malnutrisi dan malnutrisi berdasarkan MNA adalah 83,5% sedangkan berdasarkan GNRI sebesar 74,6%. Tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi berdasarkan MNA dan GNRI terhadap lama rawat inap (P>0.05). Pasien yang berisiko malnutrisi berdasarkan MNA mempunyai lama rawat lebih panjang 3,82 hari dibandingkan pasien yang tidak berisiko malnutrisi. Metode GNRI dapat digunakan untuk menilai status gizi pasien lansia. Tidak ada hubungan antara status gizi dengan lama rawat inap pasien lansia di bangsal bedah baik dengan metode pengukuran GNRI maupun MNA.
Kata Kunci: malnutrisi, lansia, lama rawat inap, MNA, GNRI

Fulltext : mini nutrition dan geriatric

Bibliografi : Jurnal Teknologi Kesehatan, Volume 11 Nomor 1, Maret 2015
Posted by : Admin Jurtekkes
Posted On : 4-9-2015

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BALITA GIZI BURUK DI KABUPATEN BANTUL

Abidillah Mursyid1, Agus Wijanarka2, Tri Siswati3, Waryana4
1,2,3,4Poltekkes Kemenkes Yogyakarta,
Jl. Tata Bumi No. 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta 55293,
email : trisiswati14@gmail.com

ABSTRACT

Over the years, malnutrition is still a big problem in Indonesia, so it needs seriour effort to eradicate. Children who suffer from malnutrition will affect the quality of human resources, it has some serious effects such as physical growth failure and inoptimal intelligential growth, decreasing of productivity and body immune system against disease that will increase the risk of morbidity and mortality. The objective is to know the determinant factors of malnutrition,i.e. infectious diseases, housing, economic status and caring patern. This research was case control study in Sanden, Bantul in 2013. The case were 23 underfi ve children who suffer from malnutrition, while 23 well nourished children were control. The independent variables were infectious diseases, housing, economic status and caring pattern, whereas the dependent variable was nutritional status, by weight for age WHO, 2008. The data was analyzed by chi square. The research shows that infection, caring pattern and economic status were associated signifi cantly with nutritional status of the children.
Keywords: caring pattern, malnutrition,under fi ve children, infections, housing

ABSTRAK

Kejadian gizi buruk telah mengancam kualitas generasi muda bangsa Indonesia yang merupakan generasi penerus bangsa, sehingga perlu upaya penanggulangan yang serius. Anak yang menderita gizi buruk akan mempengaruhi sumber daya manusia, karena gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Akibat kekurangan gizi pada anak akan menyebabkan beberapa efek serius seperti kegagalan pertumbuhan fi sik serta tidak optimalnya perkembangan dan kecerdasan. Akibat lainnya adalah terjadinya penurunan produktivitas, menurunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit yang akan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian (Soekirman, 2000). Faktor penyebab terjadinya masalah gizi buruk pada balita telah dikaji oleh UNICEF yang meliputi penyebab langsung dan tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyakit infeksi, lingkungan pemukiman, ekonomi dan pola asuh terhadap kejadian Balita gizi buruk di Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul. Penelitian ini adalah penelitian kasus kontrol di Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul Tahun 2013. Kasus adalah balita gizi buruk sebanyak 23 orang, dan kontrol adalah balita gizi baik, sebanyak 23 orang. Variabel bebas adalah penyakit infeksi, lingkungan pemukiman, ekonomi dan pol aasuh, sedangkan variabel terikatnya adalah status gizi, dengan indeks BB/U WHO antropometri 2008. Data dikumpulkan dengan pengukuran berat badan dan wawancara berdasarkan kuesioner. Data dianalisis dengan chi square. Hasil penelitian menujukkan ada pengaruh infeksi, pola asuh, dan status ekonomi dengan kejadian gizi buruk pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sanden. Balita yang menderita infeksi mempunyai risiko menjadi gizi buruk sebesar 5,6 kali dibanding yang tidak menderita infeksi, demikian juga halnya dengan pola asuh. Pada penelitian ini ekonomi/gakin sebagai protektif faktor terhadap kejadian gizi buruk.
Kata Kunci : pola asuh, balita gizi buruk, infeksi, kondisi rumah

Fulltext : balita gizi buruk

Bibliografi : Jurnal Teknologi Kesehatan, Volume 11 Nomor 1, Maret 2015
Posted by : Admin Jurtekkes
Posted On : 4-9-2015

PENGARUH PEMBERIAN MODUL TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG PERNIKAHAN DINI DAN RENCANA UMUR MENIKAH PERTAMA PADA SISWI SMPN 1 WONOSARI GUNUNG KIDUL TAHUN 2014

Heni Puji Wahyuningsih1, Siti Tyastuti2
1,2Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta,
Jl. Mangkuyudan MJ III/304 Yogyakarta 55143,
Email: henipujiw@gmail.com

ABSTRACT

The number of early marriage in Wonosari has increased 88% from the previous year, and contributed 14,40% to the total number of early marriage cases in Gunung Kidul. Early marriage causes a lot of impact, including physical, biological, psychological, as well as social impact. Teenage pregnancy is correlated with the increase of fertility rate and also maternal mortality. The objective of this study is to determine the effect of module given to eighth grade students of SMPN 1 Wonosari to increase knowledge about early marriage among teens. For this research, we use true experimental research using pretest-posttest with control group design as the research method. The research was conducted at SMPN 1 Wonosari as the experiment group and SMPN 1 Paliyan as control group, with female students from eighth grade as the subjects of study. The numbers of sample were 24 respondents for each group. The experiment group were being treated with module as media and the control group were given leafl et media about early marriage. We used questionnaires as the means of data collecting instrument. On average, the pretest and posttest result of the group given module media increased from 64,57 to 91.28, therefore the module media is able to increase the average knowledge about early marriage up to 26,71, p-value 0.00, CI 95%(-16,71 -8,293). While on the group that were given leafl et, the average pretest and posttest result increased from 50,14 to 62,85. Therefore, the leafl et media is able to increase the average knowledge about early marriage up to 12,71, p-value 0.00, CI 95%. The difference in average increase of knowledge in both groups at 7,29 p-value 0.000, CI 95%. About the preference of first marriage plan, 95,8% participants of the experiment group decided that the preferred age for first marriage are >23 to 27 years old. Whereas among the control group given leafl et as media, 66,5% preferred fi rst marriage at that age range. The increase of knowledge in the group given the media module was higher than those who were given leafl ets as media. in conclusion, Module as media is proven to be more than effective to increase the knowledge about early marriage and marriage planning
Keywords: module, knowledge, early marriage

ABSTRAK

Pernikahan dini di Kecamatan Wonosari menunjukkan trend peningkatan sebesar 88,88% dari tahun sebelumnya. Kehamilan usia muda menimbulkan berbagai dampak; fi sik, biologis, psikologis dan sosial. Kehamilan usia muda berkorelasi dengan laju fertilitas dan juga angka kematian ibu. Peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi dapat dilakukan dengan promosi kesehatan melalui media modul, dikarenakan modul memiliki keunggulan self learning, efi sien serta efektif. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian modul terhadap peningkatan pengetahuan tentang pernikahan dini dan rencana umur menikah pertama pada siswi SMPN 1 Wonosari Tahun 2014. Jenis penelitian true-experiment dengan pretest-postest with control group design. Subjek penelitian untuk kelompok eksperimen adalah siswi kelas VIII SMPN 1 Wonosari dan kelompok kontrol adalah SMPN 1 Paliyan. Jumlah sampel 24 responden untuk setiap kelompok. Teknik sampling dengan random sampling. Kelompok eksperimen diberikan perlakuan pemberian modul, untuk kelompok kontrol diberikan leafl et tentang perkawinan usia muda. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner. Analisis data menggunakan paired sample t-test dan independent sample t-test. Rata-rata, pretest kelompok media modul 64,57 dan posttest 91,28 sehingga pada kelompok yang diberi perlakuan pemberian media modul rata-rata pengetahuan tentang perkawinan usia muda meningkat sebesar 26,71, p-value 0,00, CI 95% (-16,71-8,293). Rata-rata, pretest kelompok media leaflet 50,14 dan posttest 62,85 sehingga media leaflet, rata-rata pengetahuan tentang perkawinan usia muda meningkat sebesar 12,71, p-value 0,00, CI 95%. Selisih peningkatan rata-rata pengetahuan pada kelompok media modul dan media leafl et sebesar 7,29 p-value 0,000, CI 95%. Rencana umur menikah pertama, rata-rata pada kelompok eksperimen sebesar 95,8% pada usia >23 s.d 27 tahun dan pada kelompok leafl et sebesar 66,5% pada usia yang sama. Peningkatan pengetahuan pada kelompok dengan pemberian media modul lebih tinggi dibanding dengan media leaflet. Modul lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan tentang pernikahan dini.
Kata Kunci: pengetahuan, pemberian modul, pernikahan dini

Fulltext : pemberian modul

Bibliografi : Jurnal Teknologi Kesehatan, Volume 11 Nomor 1, Maret 2015
Posted by : Admin Jurtekkes
Posted On : 4-9-2015

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG KACANG MERAH (Vigna angularis) TERHADAP INDEK GLIKEMIK DAN BEBAN GLIKEMIK ROTI TAWAR

Waluyo1, Supartuti2
1,2Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Jl. Tata Bumi No 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogykarta, 55293. Telp. 0274-617601,
Email : waluyogizijogja@ymail.com

ABSTRACT

Food with low Glycemic Index (GI) and Glycemic Loads (GL) can be developed to help regulating the glucose levels of people with diabetes or obesity, athletes, or even healthy individuals. One of the most widely consumed staple foods is white bread which has high GI and GL level. Adding red bean to white bread dough will reduce the composition of carbohydrates and increase the content of protein, fat, and fi ber, which supposedly can lower the glycemic index and glycemic load of white bread. The research aimed to learn how adding red bean fl our could infl uence the glycemic index and glycemic load of white bread. The design of this research was pre-post test with control group design. The research was conducted at Polytechnic of Health Yogyakarta and “Sadewa” Clinical Laboratory Yogyakarta from July to November 2014. The subjects of the research were 40 volunteers who met the requirements which were then divided into four groups with different treatments. There were similar characteristics regarding gender, age, body mass index, and blood sugar level in the four treatment groups (p>0.05). Adding red bean fl our 15% up to 20% could lower the glycemic index of white bread from high to low, even though it was statistically insignifi cant with the value of p=0.189 (p>0.05). Adding red bean fl our can also lower the glycemic load index from medium to low, even though it was also statistically insignifi cant with the value of p=0.179 (p>0.05). Adding red beans fl our into white bread dough could lower the glycemic index category from high to low and also lower glycemic load category from medium to low.
Keywords: red beans, glycemic index, glycemic load, white bread

ABSTRAK

Pangan dengan indeks glikemik (IG) dan beban glikemik (BG) rendah dapat dikembangkan untuk membantu mengatur kadar glukosa penderita diabetes, obesitas, altet, bahkan orang sehat. Salah satu pangan pokok yang sekarang banyak dikonsumsi adalah roti tawar, tetapi memiliki IG dan BG yang tinggi. Pencampuran kacang merah dalam pengolahan roti tawar akan menurunkan komposisi karbohidrat dan meningkatkan kadar protein, lemak dan serat, yang diduga akan menurunkan indeks glikemik dan beban glikemik roti tawar. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh penambahan tepung kacang merah terhadap indeks glikemik dan beban glikemik roti tawar. Rancangan penelitian ini adakah pre-post test with control group design. Penelitian dilakukan di Politeknik Kesehatan dan Laboratorium Klinik “Sadewa” Yogyakarta pada Bulan Juli – Nopember Tahun 2014. Subjek penelitian adalah voluntir yang memenuhi persyaratan sebanyak 40 orang dibagi dalam 4 kelompok perlakuan. Karakteristik jenis kelamin, umur, indeks masa tubuh dan kadar gula darah adalah sama pada keempat perlakuan (p>0,05). Penambahan tepung kacang merah 15% sampai dengan 20% dapat menurunkan indeks glikemik roti tawar dari kategori tinggi menjadi rendah, tetapi secara statistik tidak berbeda p=0,189 (p>0,05) dan menurunkan beban glikemik dari kategori sedang menjadi rendah, tetapi secara statistic tidak berbeda p=0,179 (p>0,05). Penambahan tepung kacang merah pada pengolahan roti tawar dapat menurunkan kategori indeks glikemik tinggi menjadi rendah dan menurunkan kategori beban glikemik sedang menjadi rendah.
Kata kunci : kacang merah, indek glikemik, beban glikemik, roti tawar.

Fulltext : indek glikemik

Bibliografi : Jurnal Teknologi Kesehatan, Volume 11 Nomor 1, Maret 2015
Posted by : Admin Jurtekkes
Posted On : 4-9-2015

RED TRAY STRATEGI MENINGKATKAN STATUS GIZI PASIEN MALNUTRISI DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

Ida Mardalena1, Umi Istianah2, Maria H Bakri3
1,2,3Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Jl. Tata Bumi no.3 Banyuraden Gamping Sleman Yogyakarta.
Email : ida.mardalena@yahoo.co.id.

ABSTRACT

Malnutrition among hospital patients are related to the length of hospitalization, the change in clinical condition, the increasing usage of hospital support resources, and the increasing risk of complication. The malnutrition cases among hospital patients are widely reported. Whirter & Pennington discovered that out of 500 hospitalized patients, 200 of them suffered from malnutrition while 112 patients, after reexamination before being discharged, experienced weight loss of 5.4%. According to the data from various hospitals in Indonesia, the prevalence of malnutrition is still relatively high. At RSCM Jakarta the rate of malnutrition among digestive patients was 40%-60%. In 2007, by using the parameter of Subjective Global Assessment (SGA), Body Mass Index (BMI), hemoglobin, hematocrit, and albumin, it was discovered that the prevalence rate of malnutrition were 52%, 15%, 55%, 26%, and 93% (PDGKI, 2012). A study in England also found that a short message asking to monitor the weight to the community had aided in identifying the risk of malnutrition and the Ministry of Health could provide assistance to prevent malnutrition on people with risks. The study is to investigate the infl uence of red tray strategy on the nutritional status of malnutrition patients. This research was a quasi experiment with pretest post test with control groups design. The study was conducted at RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta in 2014. The subjects of the research were malnutrition patients age 18 and above with albumin level ≤ 3.5 g/dL and/or BMI ≤ 18.5 kg/m2. The samples were collected with simple random sampling with 50 respondents who were divided into two 25-person groups, the fi rst one was the treatment group while the other was the comparison group. There were 77 subjects at the beginning of the research but 27 of them dropped out. Red tray method is the labeling of subjects’ food trays with red background color with the instruction “this patient need more calories and protein” written in yellow, and also stating the importance of fi nishing the meal, for fi ve consecutive days. The levels of albumin serum and food intake before and after the treatment were then measured. The data were presented in the form of frequency distribution and analyzed with paired t-test with 95% CI. There was a signifi cant difference on the average level of albumin serum before and after the application of red tray strategy with 0.04 p value. There was also a difference on the average food intake before and after applying red tray strategy with 0.005 p value. The level of albumin serum and food intake as indicators of nutritional status evaluation on patients with malnutrition increased signifi cantly with red tray strategy.
Keywords: Malnutrition, Red Tray, Nutritional Status

ABSTRAK

Malnutrisi pada pasien di rumah sakit diketahui ada hubungannya dengan peningkatan lama hari rawat inap, perubahan kondisi klinis, peningkatan penggunaan sumber dukungan rumah sakit, dan meningkatnya risiko komplikasi. Penelitian di Inggris menemukan bahwa pesan singkat untuk memonitor berat badan pada masyarakat telah membantu mengidentifi kasi risiko malnutrisi dan Departemen Kesehatan dapat memberikan bantuan untuk mencegah terjadinya malnutrisi pada orang-orang yang berisiko tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh red tray strategi terhadap status gizi pasien malnutrisi. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperimen dengan desain “pre test-post test with control groups design”. Penelitian dilaksanakan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Tahun 2014. Subyek adalah pasien malnutrisi dengan nilai albumin <3,5 g/dL dan atau Indeks Massa Tubuh <18,5 Kg/m2 berusia > 18 tahun. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Sampel dibagi dua kelompok, 25 subyek untuk kelompok perlakuan dan 25 subyek untuk kelompok pembanding Keseluruhan subyek yang telah berpartisipasi berjumlah 77 responden, 27 subyek dinyatakan droup out. Metode red tray adalah tray makan subyek
ditempel label dengan warna dasar merah dengan tulisan “Pasien ini butuh lebih banyak kalori dan protein” berwarna kuning serta tulisan “Penting untuk menghabiskan makanan ini” selama lima hari berturut-turut. Kadar albumin serum dan asupan makan diukur sebelum dan sesudah perlakuan. Data yang didapat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi, analisis menggunakan uji t berpasangan. Terdapat perbedaan yang bermakna rata-rata kadar serum albumin sebelum dan sesudah penerapan metode red tray strategi dengan nilai p 0,04. Terdapat perbedaan rata-rata sisa asupan makan sebelum dan sesudah penerapan metode red tray strategi dengan p 0,005. Kadar albumin serum dan asupan makan sebagai indikator penilaian status gizi pada pasien malnutrisi meningkat secara signifi kan dengan diterapkannya metode red tray strategi.
Kata Kunci : Malnutrisi, Red tray, Status gizi.

Fulltext : malnutrisi

Bibliografi : Jurnal Teknologi Kesehatan, Volume 11 Nomor 1, Maret 2015
Posted by : Admin Jurtekkes
Posted On : 4-9-2015