HUBUNGAN KONDISI LINGKUNGAN FISIK RUMAH DAN KEJADIAN ISPA DI KELURAHAN BENER, TEGALREJO, YOGYAKARTA, TAHUN 2014

Deavita Intan Pradani*, Sri Muryani**, Achmad Husein**

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: deavitaintanpradani@gmail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Abstract
As the medium for life development and the place for family member to get on together spending most of their times, a house shoud be healthy and comfortable. Unhealthy house is closely rela-ted with the increase of ARI incidence, which is included in the top 10 diseases among the ser-vice area of Tegalrejo Community Health Centre. A preliminary survey held in Kelurahan Bener, showed that 39% houses were identified unhealthy, 53% less healthy, and only 8% were healthy. This study were aimed to determine the relationship between house physical environment condi-tion and ARI incidence in that kelurahan by conducting a retrospective case-control study. Mem-ber of the case group were 30 new ARI cases sought for medication to the community health centre who were sampled randomly; meanwhile as the control group, 30 non-ARI close neighbors who have similar characteristics with each case were selected. The observation of the physical condition parameters, i.e. ventilation width, and indoor temperature, humidity and lighting, was using proper instruments and were averaged from three measurements. The results show that the parameters under study which have significant association with ARI incidence are: indoor hu-midity (OR: 3,82; 95% CI: 1,15-12,71; p-value: 0,024) and indoor lighting (OR: 4,00; 95% CI: 1,37-11,70; p-value: 0,009); meanwhile, those which are not related, are ventilation width (OR: 1,80; 95% CI: 0,39-8,32; p-value: 0,448) and indoor temperature (OR: 3,79; 95% CI: 0,75-10,33; p-value: 0,117).      
    
Keywords : house physical condition, ventilation width, indoor temperature, indoor humidity
                    indoor lighting, acute respiratory infection
Intisari
Sebagai sarana pengembangan kehidupan dan tempat berkumpul anggota keluarga untuk meng-habiskan sebagian besar waktu, rumah harus nyaman dan sehat. Rumah yang tidak sehat erat kaitannya dengan peningkatan kejadian ISPA. ISPA masuk dalam 10 besar penyakit di wilayah kerja Puskesmas Tegalrejo. Hasil survei pendahuluan di Kelurahan Bener diperoleh hasil 39 % rumah tidak sehat, 53 % kurang sehat, dan hanya 8 % yang sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA di kelurahan tersebut dengan melakukan studi kasus kontrol. Kelompok kasus adalah rumah 30 kasus baru ISPA yang datang berkunjung ke Puskesmas Tegalrejo yang dipilih secara random, sementara kelompok kontrol adalah 30 rumah tetangga dekat kasus yang tidak menderita ISPA dan memiliki karakteristik yang hampir sama. Pengukuran parameter kondisi fisik rumah yang meliputi luas ventilasi, suhu, kelembaban dan pencahayaan di dalam rumah, masing-masing menggunakan instrumen pengukur yang sesuai dan dihitung rerata dari tiga kali pengukuran. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dari keempat parameter yang diteliti, yang berhubungan dengan kejadian ISPA adalah kelembaban (OR: 3,82; 95% CI: 1,15-12,71; p: 0,024) dan pencahayaan (OR: 4,00; 95% CI: 1,37-11,70; p: 0,009), sementara yang tidak berhubungan adalah luas ventilasi (OR: 1,80; 95% CI: 0,39-8,32; p: 0,448) dan suhu di dalam rumah (OR: 3,79; 95% CI: 0,75-10,33; p: 0,117).
     
Kata Kunci : kondisi fisik rumah, luas ventilasi, suhu rumah, kelembaban rumah, pencahayaan rumah, ISPA
ibliografi      : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.4, Mei 2015, Hal 193 -200
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  12 Oktober 2015

HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DI DALAM RUMAH DAN PENGGUNAAN OBAT NYAMUK BAKAR DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN SEMARANG, KECAMATAN BANJARNEGARA, KABUPATEN BANJARNEGARA

Farah Debby Pangestika*, Sigid Sudrayanto**, Yamtana**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: pfarahdebby@gmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract

The incidence of ARI among under five children in Indonesia is still high. It is presumed that one of the causes is indoor pollution due to smoking and mosquito coils using. The purpose of this research was to prove the relationship between both behaviors and ARI incidence among under five children in Kelurahan Semarang Kecamatan Banjarnegara by conducting a case control stu-dy. There were 30 children for each groups and the data were collected by using questionnaire and were analysed by using Odds Ratio calculations at 95% confidence level to identify the magnitude of the risks. The results show that OR for indoor smoking is as much as 3,05 (95% CI: 1,05-8,84) with p-value less than 0,001; and OR for mosquito coils using is 3,14 (95% CI: 1,07-9,27) with p-value less than 0,001, as well. It can be concluded that those two variables un-der study are risk factors for ARI incidence among under five children in the study site.
    
Keywords : indoor smoking, mosquito coils, acute respiratory infection, under five children
Intisari
Angka kejadian ISPA pada balita di Indonesia masih tinggi Diduga salah satu penyebabnya adalah polusi dalam ruangan akibat kegiatan merokok dan penggunaan obat nyamuk bakar. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara perilaku merokok di dalam rumah dan penggunaan obat nyamuk bakar tersebut dengan kejadian ISPA pada balita di Kelu-rahan Semarang Kecamatan Banjarnegara dengan melakukan studi kasus kontrol, dengan ma-sing-masing 30 balita di dalam setiap kelompok. Data dikumpulkan dengan menggunakan kue-sioner dan dianalisis menggunakan perhitungan Odds Ratio untuk mengetahui besarnya risiko pada derajat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OR untuk perilaku me-rokok adalah sebesar 3,05 (95% CI: 1,05-8,84) dengan p<0 1=”” 3=”” adalah=”” bagi=”” bahwa=”” bakar=”” balita=”” ci:=”” dan=”” dapat=”” dari=”” dengan=”” di=”” disimpulkan=”” diteliti=”” faktor=”” hasil=”” ispa=”” kedua=”” lokasi=”” menggunakan=”” merupakan=”” nyamuk=”” obat=”” or=”” p=”” pada=”” penelitian.=”” ri-siko=”” sebesar=”” span=”” ter-sebut=”” terjadinya=”” tersebut=”” untuk=”” variabel=”” yang=””>
   

Kata Kunci : merokok dalam rumah, obat nyamuk bakar, ISPA, balita 

Bibliografi      : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.4, Mei 2015, Hal 188 – 192
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  12 Oktober 2015

HUBUNGAN INTENSITAS PENCAHAYAAN DAN PENATAAN KAMAR DENGAN TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR DI RUMAH KOS PUTRI KAJOR, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA

Febi Hidayani*, Tuntas Bagyono**, F. X. Amanto Rahardjo**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: velodixis@gmail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Abstract
Boarding houses rent rooms for temporary stays. For students who living far from parents these places are their second home because almost of their activities are carried out in the room, in-cluded studying which needs high concentration. Based on the preliminary survey held in the fe-male boarding houses located behind the Polytechnic of Health of Yogyakarta, it was found that the average measurement of light intesity was 24,81 lux and most rooms had unsuited room ar-rangement. The purpose of this study was to determine the relationship between light intensity and room arrangement and the level of studying concentration among the Female Boarding Hou-se of Kajor, by conducting a cross sectional approached survey. There were 60 boarding rooms under the study with 60 students occupant who were selected purposively as the respondents. The light intensity was measured by lux meter, the room arrangement was assessed by a check list and the studying concentration was identified by using a questionnaire. The results show that only 46,7% rooms had adequate light intensity, only 48,3% rooms had suited room arrange-ment, and respondents who had bad concentration outnumbered those who had the good ones. Data analysis with using Spearman rank correlation test at 5% significance level, concludes that both light intensity and room arrangement are significantly have high and positive correlations with studying concentration, i.e. the corresponding ρ coefficients were 0,991 and 0,951, respecti-vely, and the all p-values were below 0,001.
    
Keywords : light intensity, room arrangement, studying concentration, boarding house
Intisari
Rumah kos menyewakan kamar yang digunakan untuk tinggal sementara, di mana bagi maha-siswa perantau, tempat itu merupakan rumah ke dua karena hampir segala jenis kegiatan di-lakukan di dalamnya termasuk aktifitas belajar yang membutuhkan konsentrasi. Berdasarkan survei pendahuluan di rumah kos putri yang berada di belakang kampus Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, diperoleh rerata hasil pengukuran pencahayaan sebesar 24,81 lux dan sebagian besar penataan barang di kamar-kamar kos tersebut kurang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara intensitas pencahayaan dan penataan kamar dengan ting-kat konsentrasi belajar di Rumah Kos Putri Kajor dengan melakukan penelitian survei dengan pendekatan cross sectional. Ada 60 kamar kos yang diteliti dengan 60 orang penghuni sebagai responden yang diambil secara purposive. Intensitas cahaya diukur dengan lux meter, penataan ruang dinilai dengan check list, dan konsentrasi belajar diketahui melalui kuesioner. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa kamar kos yang pencahayaannya memenuhi syarat hanya 46,7% dan yang penataannnya baik hanya 48,3 %, diketahui pula bahwa responden yang konsentrasi belajarnya buruk lebih banyak dibandingkan dengan yang baik. Analisis dengan menggunakan uji korelasi rank Spearman pada taraf signifikansi 5 % menyimpulkan bahwa intensitas pencaha-yaan dan penataan kamar, secara bermakna berhubungan erat dan positif dengan konsentrasi belajar, yaitu masing-masing dengan koefisien ρ sebesar 0,991 dan 0,951, dengan semua nilai p < 0,001.
   
Kata Kunci : intensitas pencahayaan, penataan kamar, konsentrasi belajar, rumah kos
Bibliografi      : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.4, Mei 2015, Hal 181 – 187
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  12 Oktober 2015

PENGARUH VARIASI BERAT Saccharomyces cereviceae DAN WAKTU FERMENTASI KULIT NANGKA TERHADAP KADAR BIOETANOL YANG DIHASILKAN

Rizqi Karina Utami*, Sri Puji Ganefati**, Sarjito Eko Windarso**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: rizqikarinautami@gmail.com
**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Abstract
To suffice the demand of energy consumption, alternative fuels is needed to be developed, such as bioethanol. Bioethanol is chemical solution which is produced from various plants, fruits, or any part of plant which contain starch, glucose and cellulose. Jackfruit rind has 14,752 % glu-cose, where from the preliminary test, with Saccharomyces cereviceae addition, the fruit waste could be fermented for producing bioethanol. The purpose of this study was to know the effect of various weights of Saccharomyces cereviceae (i.e. 0%, 25%, 50% dan 75%) and variation fer-mentation durations (i.e. 4,5 days, 7,5 days, and 10,5 days) of jackfruit rind toward the concen-tration of the yielded bioethanol by conducting a post test with control group designed experi-ment. The maximum concentration of bioethanol obtained was 5,63731 % which was produced by using 50% of Saccharomyces cereviceae and from 7,5 days fermentation. The statistical ana-lysis test using one way anova test at 95% level of confidence, concludes that the differences among the ethanol concentrations produced by those various Saccharomyces cereviceae weight and fermentation time are significant.
Keywords : bioethanol, Saccharomicyes cereviceae, jackfruit rind fermentation
Intisari
Untuk mencukupi kebutuhan akan energi, diperlukan bahan bakar alternatif untuk dikembang-kan, salah satunya adalah bioetanol. Bioetanol adalah cairan kimia yang diperoleh dari bahan tanaman, buah atau bagian tanaman yang bergula, berpati dan berselulosa. Kulit nangka me-miliki kadar gula 14,752 %, di mana dari hasil uji pendahuluan, dengan penambahan Saccha-romyces cereviceae limbah tersebut dapat difermentasi dan menghasilkan bioetanol. Tujuan pe-nelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari variasi berat Saccharomyces cereviceae (yaitu 0%, 25%, 50% dan 75%) dan waktu fermentasi (yaitu 4,5 hari, 7,5 hari dan 10,5 hari) dari kulit nangka terhadap kadar bioetanol yang dihasilkan, dengan melakukan eksperimen dengan desain post test with control group. Kadar bioetanol tertinggi yang diperoleh adalah sebesar 5,63731 %, yaitu dari variasi berat Saccharomyces cereviceae 50% dan pada variasi waktu 7,5 hari. Hasil uji statistik dengan one way anova pada derajat kepercayaan 95%, menyimpulkan bahwa perbedaan kadar bioetanol yang dihasilkan dari berbagai variasi berat Saccharomyces cereviceae dan waktu fermentasi yang diamati, adalah signifikan (p<0 span=””>
Kata Kunci : bioetanol, Saccharomyces cereviceae, fermentasi kulit nangka
Bibliografi      : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.4, Mei 2015, Hal 176 – 180
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  12 Oktober 2015

HUBUNGAN DURASI, FREKUENSI DAN POSISI PENGGUNAAN SERTA UKURAN LAPTOP DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Novita Dwi Kurniasari*, Siti Hani Istiqomah**, Lilik Hendrarini**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: hidayatinur27@yahoo.co.id
**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Abstract
Students of Educational Informatics Engineering of State University of Yogyakarta have frequen-cy and duration of laptop use that is higher than students from other departments have. Laptop use which does not properly fit with ergonomical standards may lead to specific adverse health impacts. The purpose of this study was to determine the relationship between duration, frequen-cy, laptop size, and position of laptop use and the musculoskeletal complaints among those stu-dents. The research method was survey with cross sectional approach. The research sample was 86 students from semester IV and VI who were selected by accidental and purposive sam-pling techniques. The data were collected by using a questionnaire and furthermore were analy-sed with chi-square and contingency coefficient at 95 % level of confidence. The results show that only 7,0 % respondents used laptop in low-duration, only 1,1 % used laptop in low-frequen-cy, only 3,5 % used large sized laptop, and only 9,3 % used laptop with good position. There were 45,3 % of respondents who had moderate musculoskeletal complaints. Parts of the body which were most complained are neck, shoulders, and waist meanwhile the least ones are el-bows and arms. From the statistical analyses it is identified that laptop use position has the strongest relationship with the disorders (contigency coefficient = 0,348 and p-value = 0,064). It is advised that information regarding with the correct use of the laptop and the impact of the un-ergonomical laptop use have to be socialized among the students in order to avoid them from unwanted health problems risk.
Keywords : laptop use duration, laptop use frequency, laptop size, laptop use position                
                    musculosketal disorders
Intisari
Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika di UNY memiliki frekuensi dan durasi penggunaan laptop yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa jurusan lain. Penggunaan laptop yang tidak sesuai dengan standar ergonomi menimbulkan gangguan kesehatan tertentu. Tujuan pe-nelitian ini untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan, frekuensi penggunaan, ukuran lap-top, dan posisi penggunaan laptop dengan keluhan muskuloskeletal pada mahasiswa di jurusan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan pendekatan cross sectional dengan sampel penelitian adalah 86 mahasiswa semester IV dan VI yang dipilih dengan teknik accidental purposive sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner dan selanjutnya dianalisis dengan uji chi-square dan koefisien kontingensi pada derajat kepercayaan 95 %. Hasil pene-litian menunjukkan hanya 7,0 % responden yang menggunakan laptop dalam durasi rendah, hanya 1,1 % yang menggunakan laptop dengan frekuensi rendah, hanya 3,5 % yang meng-gunakan laptop dengan ukuran besar, dan hanya 9,3 % yang menggunakan laptop dengan po-sisi yang baik. Ada 45,3 % responden yang mengeluh mengalami gangguan muskuloskeletal sedang, dan bagian tubuh yang paling banyak dikeluhkan adalah leher, bahu dan pinggang, se-mentara yang paling sedikit dikeluhkan adalah bagian siku dan lengan tangan. Dari hasil analisis statistik diketahui bahwa posisi penggunaan laptop adalah yang paling kuat hubungannya (koe-fisien kontingensi =  0,349 dan p = 0,064) dengan keluhan tersebut. Disarankan agar informasi mengenai penggunaan laptop yang benar serta dampak akibat dari penggunaan yang tidak ergonomis perlu disosialisasikan agar para mahasiswa terhindar dari risiko gangguan kesehatan yang tidak diinginkan.
Kata Kunci : durasi penggunaan laptop, frekuensi penggunaan laptop, ukuran latop,

                      posisi penggunaan laptop, keluhan muskuloskeletal

Bibliografi      : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.4, Mei 2015, Hal 165 – 175
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  12 Oktober 2015

HUBUNGAN PERILAKU PENYEHATAN UDARA DI DALAM RUANG RUMAH DAN GANGGUAN KESEHATAN KELUARGA DI KELURAHAN CATURTUNGGAL WILAYAH KERJA PUSKESMAS DEPOK III, SLEMAN, YOGYAKARTA

Handini Citraswari*, Achmad Husein**, Muryoto**
 * JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: citraswari@gmail.com
**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Abstract
Air as one component of the environment is the most important requirement for maintaining life. Data at Depok III Community Health Centre showed that in 2013 the number of health problems due to air pollution in Caturtunggal Village was 342 cases. Behavior is a determining factor for the occurrence of family health problems. The purpose of this study was to determine the relati-onship between indoor air sanitation behaviors with the corresponding family health problems in the working area of the above community health centre. Method of the study was a cross sectio-nal analytic survey with data collection instrument used was questionnaire guidance for inter-viewing the 210 households sample of the villagers. The data were analysed by using chi-square statitistical test and odds ratio at 95 % confidence level. It was found that the sanitation behavior related with risk factors for the unfulfillness condition of indoor temperature, gained a p-value of 0,112 and OR of 1,58. Meanwhile, for the other four conditions, the results were: humidity, p = 0,048 and OR = 1;771; illumination, p = 0,168 and OR = 1,533; ventilation rate, p = 0,026 and OR = 1,961, and dust, p = 0,037 and OR = 1,875. Therefore, it can be concluded that the risk factors behavior that are not significantly correlated with the corresponding family health pro-blems are those of indoor temperature and illumination, and those that are significant are of in-door humidity, ventilation rate and dust.
Keywords : indoor pollution, air sanitation behavior, family health
Intisari
Udara sebagai salah satu komponen lingkungan merupakan kebutuhan yang paling utama untuk mempertahankan kehidupan. Data di Puskesmas Depok III, pada tahun 2013 menunjukkan jum-lah gangguan kesehatan akibat pencemaran udara di Kelurahan Caturtunggal sebanyak 342 kasus. Perilaku adalah salah satu faktor penentu terjadinya gangguan kesehatan keluarga. Tuju-an dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara perilaku penyehatan udara dalam ru-ang dengan gangguan kesehatan keluarga di wilayah kerja Puskesmas Depok III. Metoda pe-nelitian yang digunakan yaitu survey analitik cross sectional dengan sampel sebanyak 210 KK di Kelurahan Caturtunggal dengan menggunakan alat ukur panduan wawancara. Hasil analisis da-ta dengan uji statistik chi square dan odds ratio pada derajat kepercayaan 95 % menunjukkan bahwa perilaku yang terkait sebagai faktor risiko bagi tidak terpenuhinya keadaan suhu di dalam ruang rumah yang baik, memiliki nilai p sebesar 0,112 dan OR = 1,58. Sementara itu, untuk em-pat kondisi yang lain, hasil uji secara berturut-turut menunjukkan: kelembaban (p = 0,048; OR = 1,771), pencahayaan (p = 0,168; OR = 1,533), laju ventilasi (p = 0,026; OR = 1,961) dan debu (p = 0,037; OR = 1,875), sehingga dapat disimpulkan bahwa yang tidak berhubungan secara ber-makna dengan gangguan kesehatan keluarga adalah perilaku penyehatan suhu dan pencahaya-an, dan yang bermakna adalah perilaku yang terkait dengan penyehatan kelembaban, laju venti-lasi dan debu.
  
Kata Kunci : pencemaran dalam ruang, perilaku penyehatan udara, kesehatan keluarga
Bibliografi      : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.4, Mei 2015, Hal 157 – 164
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  12 Oktober 2015

 

PERBEDAAN DAYA MAKAN IKAN WADER PARI (Rasbora argyrotaenia), IKAN WADER BINTIK DUA (Puntius binotatus), DAN IKAN KEPALA TIMAH (Aplocheilus panchax) SEBAGAI PREDATOR JENTIK NYAMUK Aedes sp.

Muhammad Andy Firmansyah*, Indah Werdiningsih**, Purwanto**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: muhammadandyfirmansyah@ymail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Abstract
Dengue Haemorrhagic Fever is still one of health problems in Indonesia. The transmission of the disease is by the bites of it’s vector insect i.e. Aedes sp. Therefore, the population of this mos-quito must be controlled, one of which is by using larvae-eating fishes. The purpose of the study was to know the difference in ability of three fish species, namely: Aplocheilus panchax, Rasbora argerotaenia and Puntius binotatus, as predator of the mosquito larvae, by conducting a pre-experiment study with pre-test and post-test design. From ten replications, it was identified that Aplocheilus panchax fish ate the Aedes sp larvae more than the other two species did. The pre-dation ability of this species was 34 larvaes for 10 minutes in average, meanwhile the two latter fishes were of 27 and 21 larvaes. Based on the one way anava statistical test at 95 % confidence level, the corresponding p-value was obtained < 0,001, which means that the above differences were significant. So that, it is suggested for the community to benefitted Aplocheilus panchax in the eradicating of Aedes sp.
    
Keywords : Aedes larvae predator, Rasbora argyrotaenia, Puntius binotatus,
                    Aplocheilus panchax
Intisari
Demam Berdarah Dengue masih merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah di In-donesia. Penyakit ini penyebarannya melalui gigitan serangga vektornya yaitu nyamuk Aedes sp. Oleh karena itu populasi nyamuk ini harus dikendalikan, di mana salah satu metoda pengen-daliannya adalah dengan memanfaatkan ikan pemakan jentik. Tujuan penelitian ini yaitu diketa-huinya perbedaan daya makan ikan wader pari, ikan wader bintik dua, dan ikan kepala timah se-bagai predator jentik nyamuk Aedes sp melalui penelitian pra-eksperimen dengan rancangan pre-test and post-test. Dari 10 kali ulangan penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa ikan kepala ti-mah lebih banyak memakan jentik nyamuk, yaitu dengan rata-rata 34 ekor per 10 menit, diban-dingkan ikan wader pari yang rata-rata berjumlah 27 ekor dan ikan wader bintik dua yang rata-rata berjumlah 21 ekor. Berdasarkan uji statistik one way anava pada tingkat kepercayaan 95 %, diperoleh nilai p < 0,001 yang berarti bahwa perbedaan rerata di atas adalah bermakna sehingga kepada masyarakat disarankan untuk memanfaatkan ikan kepala timah dalam memberantas lar-va nyamuk Aedes sp.
Kata Kunci : pemangsa larva Aedes, ikan wader pari, ikan wader bintik dua, ikan kepala timah
Bibliografi      : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.4, Mei 2015, Hal 151 – 156
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  12 Oktober 2015

 

PENGARUH VARIASI KETEBALAN MEDIA FILTRASI SISTEM UP-FLOW TERHADAP KADAR Fe, Mn DAN KEKERUHAN AIR SUMUR GALI DI RT 08 RW 02, NGAMPILAN, KOTA YOGYAKARTA

Habibah Nur Rahmatika*, Purwanto**, Narto**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi No. 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: habibahnur.rahmatika@gmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract

 Water is the most important substance for life. Clean water should comply health requirements both in terms of the quality and the quantity. Clean water has to fulfill the quality regulated by the Ministry oh Health’s decree No. 416 in 1990 about physical, chemical, microbiological and radio-activity conditions. Some chemical and physical requirements for clean water are: the maximum thresholds for: Fe concentration 1 mg/l, Mn concentration 0,5 mg/ and turbidity 25 NTU. A preli-minary study conducted at RT 08 RW 02, in Ngampilan of Yogyakarta City, found that a dig well water there was containing Fe of 4,8 mg/l, Mn of 0,6 mg/l and turbidity of 2185 NTU, which were exceeding the permitted limits. The study was aimed to know the influence of variations in the thickness of filtration media, i.e. quartz sand, activated charcoal and zeolite with up-flow system for the concentration reduction of Fe, Mn and turbidity in that area. There were three thickness variations used in the study, namely: Filter A (10 cm, 20 cm and 50 cm), Filter B (20 cm, 20 cm and 40 cm) and Filter C (30 cm, 30 cm and 20 cm), and an experiment with pre-test post-test with control group design were conducted with five replications. The study data were analysed by one way anova and LSD tests at 0,05 significance level. The results showed that Filter B which consisted of 20 cm quartz sand, 20 cm activated charcoal, and 40 cm zeolite, was the most effective filter that was able to reduce 82,12 % Fe, 73 % Mn and 63,6 % turbidity.
    
Keywords : dig well water, Fe concentration, Mn concentration, turbidity,
                    up-flow system filtration, quartz sand, activated charcoal, zeolite
Intisari
Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan. Air bersih harus dapat memenuhi sya-rat-syarat kesehatan secara kualitas maupun kuantitas. Secara kualitas, air bersih harus meme-nuhi persyaratan yang diatur oleh Permenkes RI No. 416 tahun 1990 tentang syarat fisik, kimia, mikrobiologi dan radioaktif. Persyaratan kimia dan fisik untuk air bersih antara lain batas mak-simal kadar Fe 1 mg/l, kadar Mn 0,5 mg/l dan Kekeruhan 25 NTU. Berdasarkan uji pendahuluan terhadap air sumur gali di RT 08 RW 02, Ngampilan, Kota Yogyakarta, terukur kadar Fe sebesar 4,8 mg/l, kadar Mn 0,6 mg/l dan Kekeruhan 2185 NTU, yang berarti melebihi batas yang dipersyaratkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi ketebalan media fil-trasi pasir kuarsa, arang aktif dan zeolit dengan sistem up-flow terhadap penurunan kadar Fe, Mn dan kekeruhan di lokasi di atas. Ada tiga variasi ketebalan filtrasi yang digunakan, yaitu: Filter A (10 cm, 20 cm dan 50 cm), Filter B (20 cm, 20 cm dan 40 cm) dan Filter C (30 cm, 30 cm dan 20 cm). Metoda penelitian yang dilakukan adalah  eksperimen dengan desain pre-test post-test with control group dengan lima kali ulangan. Data penelitian diuji dengan one way anova dan LSD pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Filter B, yaitu ke-tebalan pasir kuarsa 20 cm, arang aktif 20 cm dan zeolit 40 cm adalah yang paling efektif, de-ngan presentase penurunan kadar Fe sebesar 82,12 %, kadar Mn sebesar 73 % dan kadar ke-keruhan sebesar 63,6 %.
   
Kata Kunci : air sumur gali, kadar besi, kadar mangan, kekeruhan, filtrasi sistem up-flow
                      pasir kuarsa, arang aktif, zeolit
Bibliografi      : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.3, Februari 2015, Hal 142 – 150
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  12 Oktober 2015

 

PENGARUH PENYEMPROTAN PUPUK ORGANIK CAIR LIMBAH JEROAN IKAN DAN LIMBAH KULIT NANAS TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI HIJAU (Brassica juncea)

 

Neo Husein Niddal*, Agus Suwarni**, Rizki Amalia**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: neox_2@ymail.com

**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
Wastes from food industries, such as fish entrails and pineapple peels can raise problems in the corresponding processing because they have organic substance. As an effort to overcome the impacts associated with this two waste types, this study utilize them as liquid organic fertilizer and see its effect to growth rate of green cabbage (Brassica juncea). Therefore, a quasi experi-ment with pre-test post-test with control group design was conducted. 30 polybag of green cab-bage were used as the treatment group and another 30 polybag was treated as the control one, i.e. by using liquid organic fertilizer brand “X”. The plant’s growth rate measured was the change of weight and the change of leaf number, between the beginning of the study and at 6th week after fertilization. The average weight increase in the treatment group was 211,80 gr, and that in the control group was 210,26 gr. The average leaf addition in the treatment group was 3,46 sheets, meanwhile in the control group it was 3,63 sheets. Towards the weight change, statisti-cal test result by using independent t-test gained a p-value of 0,683; and towards the leaf num-ber change, Mann-Whitney test yielded a p-value of 0,543. So that, it can be concluded that liqu-id organic fertilizer made of fish entrails and pineapple peels as well as branded “X” liquid orga-nic fertilizer had no different effect on the growrth rate of Brassica juncea.
Keywords : fish entrails waste, pineapple peel waste, liquid organic fertilizer, Brassica juncea
Intisari
Limbah industri pangan, seperti limbah jeroan ikan dan limbah kulit nanas dapat menimbulkan masalah dalam penanganannya karena mengandung bahan-bahan organik. Sebagai upaya un-tuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan dari kedua jenis limbah tersebut, penelitian ini   memanfaatkannya menjadi pupuk organik cair dan melihat pengaruhnya terhadap laju pertum-buhan tanaman sawi hijau (Brassica juncea). Untuk itu, dilakukan penelitian quasi experiment dengan rancangan pre-test post-test with control group. 30 polybag berisi sawi hijau digunakan sebagai kelompok perlakuan dan 30 polybag lainnya sebagai kelompok kontrol yaitu meng-gunakan pupuk organik cair merek “X”. Laju pertumbuhan tanaman yang diukur adalah peru-bahan berat tanaman dan jumlah helai daun antara awal penelitian dan 6 minggu setelah dila-kukan pemupukan. Rata-rata peningkatan berat sawi hijau pada kelompok perlakuan adalah se-besar 211,80 gr, sementara di kelompok kontrol adalah 210,26 gr. Rata-rata penambahan jum-lah daun pada kelompok perlakuan adalah 3,46 helai; dan di kelompok kontrol 3,63 helai. Ter-hadap data perubahan berat tanaman, hasil uji statistik dengan t-test memperoleh nilai p sebe-sar 0,683; dan terhadap perubahan jumlah helai daun, hasil uji statistik dengan Mann-Whittney menghasilkan nilai p sebesar 0,543. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk orga-nik cair dari limbah jeroan ikan dan limbah kulit nanas serta pupuk organik cair merk”X” penga-ruhnya terhadap laju pertumbuhan sawi hijau adalah tidak berbeda.

Kata Kunci : limbah jeroan ikan, limbah kulit nanas, pupuk organik cair, sawi hijau

Bibliografi      : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.3, Februari 2015, Hal 135 – 141
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  12 Oktober 2015

 

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK BUNGA KAMBOJA (Plumeria alba) DALAM LOTION SEBAGAI REPELLENT TERHADAP DAYA TOLAK NYAMUK Aedes sp

 

Niken Kriswandari*, Haryono**, Adib Suyanto**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: niken.kriswandari@yahoo.com

**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by virus and transmitted by Aedes sp. mosquitoes. Most areas in Indonesia is endemic where frequency of outbreaks is escalating and the disease is one of major health problems in Indonesia. One way to avoid mosquito bites is by using repellent. However, repellent with active ingredients made from synthetic chemicals have side effects that harmful for human health. Therefore, it is a necessity to seek safer natural ingre-dients, one of which is kamboja flowers (Plumeria alba). The purpose of this study is to deter-mine the effect of extract concentration variation of that flower in the lotion as a repellent and to find the most effective one. The research method used was an experiment with post test only with control group design. Kamboja flower extract concentration added into the lotion were 20 %, 30 %, and 40 %. The results were analyzed by statistical tests using two way anova and LSD at 95 % level of confidence. The results showed that the extract concentration variation significantly gave different repellence power (p=0,039) to Aedes sp. and 40 % was found as the most effect-ive concentration. The repellence power of this concentration at the first and the fifth hour of ob-servation were  83,81 % and 3,52 %, respectively.
Keywords : kamboja flowers (Plumeria alba), lotion, repellent, repellence power, Aedes sp.
Intisari
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan ditularkan o-leh nyamuk Aedes sp. Sebagian besar wilayah Indonesia adalah daerah endemis DBD dimana KLB DBD terus meningkat dan menjadi masalah kesehatan yang besar di Indonesia. Salah satu cara untuk menghindari gigitan nyamuk adalah penggunaan repellent. Namun, repellent yang berbahan aktif bahan kimia sintetis memiliki efek samping yang dapat mengganggu kesehatan. Untuk itu perlu dicari bahan aktif alami yang lebih aman, salah satunya dengan memanfaatkan bunga kamboja (Plumeria alba). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ekstrak bunga tersebut di dalam lotion sebagai repellent dan mencari konsentrasi ekstrak yang paling efektif. Metode penelitian yang dilakukan adalah eksperimen dengan desain post test only with control group. Konsentrasi ekstrak bunga kamboja yang digunakan adalah 20 %, 30 %, dan 40 %. Hasil penelitian dianalisis dengan uji statistik two way anova dan LSD dera-jat kepercayaan 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi ekstrak bunga kamboja yang digunakan berbeda secara signifikan (p=0,039) terhadap daya tolak nyamuk Ae-des sp. dimana konsentrasi 40 % adalah yang paling efektif dengan persentase daya tolak pada jam pertama dan ke lima masing-masing sebesar sebesar 83,81 % dan 3,52 %.
Kata Kunci : bunga kamboja (Plumeria alba), lotion, repellent, daya tolak, Aedes sp

Bibliografi      : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.3, Februari 2015, Hal 127 – 134
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  12 Oktober 2015