VARIASI PENCAMPURAN TEPUNG WALUH (Cucurbita moschata) PADA PEMBUATAN COOKIES DITINJAU DARI SIFAT FISIK, SIFAT ORGANOLEPTIK DAN KADAR BETA-KAROTEN

Efriana Ayu Hindartin*, Muhammad Dawam Jamil**,  Agus Wijanarka**

Abstract

Background: Pumpkin fruit (waluh) is foodstuff that contain complete nutrient element, including pro vitamin A. The Productivity of pumpkin plants is ranges from 20-40 ton/hectare. In Indonesia yellow pumpkin consumption was less than 5 kg. The disability farmers cultivates pumpkin makes the price of selling is not permanent. Diversify can become the limitation solution of the way of processing and exploiting pumpkin. One of the examples serves the purpose of addition ingredient in cookies maker.

 Objectives : This study to find out pumpkin flour mixed in making cookies phsysically, organoleptically and beta carotene rate.

Method : This study was experimental study with simple random by four treatments. The processing data of organoleptic result uses Kruskal Wallis analysis. Physically (colour, taste, aroma, and texture) and beta carotene will be analyzed descritivelly.

Result  : There are differences of physic  characteristic, organoleptic and rate of beta carotene with the variation mixture of whole-wheat and pumpkin flour at cookies yielded. The test of physical characteristic, more and more mixing of pumpkin flour hence colour yielded progressively yellow, the taste was sweet, the aroma yielded progressively sharply, and texture yielded flabby progressively. Cookies with the variation of mixing pumpkin flour 20% cookies having average value of result of examination physical  characteristic and nature characteristic of high organoleptic compared to cookies with the other and dissimilar treatment. While the result of beta carotene examination indicates that the cookies with the mixing of pumpkin flour 30% having highest content of carotene. More and more pumpkin flour which is used as mixture was excelsior beta carotene.

Conclusion : The physical characteristic difference, organoleptik characteristic,  and degree of beta carotene that was produced in maker cookies with pumpkin flour mixing.

Keyword : pumpkin, cookies, physically, organoleptic, beta carotene.

Fulltext : Variasi Pencampuran Tepung Waluh

Bibliografi       : Jurnal Teknologi Kesehatan, Vol.6, No.1, Maret  2010, Hal 29-36

Posted by        : admin jurnal

Posted on        :  13 November 2015

Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Pemakaian Gigi Tiruan

E.Nunik Iswarini1, Siti Sulastri2, Dwi Eni Purwati3

email: dwienipurwati79@gmail.com

** Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 Abstrak

Hasil survey kesehatan nasional dalam kurun waktu 10 tahun terakhir menunjukkan 60%-70% prevalensi kesehatan gigi di Indonesia ada dalam tingkatan buruk, maka tidak mengherankan jika trend gigi permanen tanggal atau ompong semakin meningkat. Masalah ini diperberat dengan keadaan sosial ekonomi yang masih rendah bila dihubungkan dengan biaya pembuatan gigi tiruan yang relative mahal. Penyebab lain yaitu kurangnya pengetahuan masyarakat tentang akibat yang akan timbul setelah gigi hilang dan tidak segera diganti dengan gigi tiruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan pemakaian gigi tiruan di puskesmas Imogiri II Bantul. Jenis penelitian ini merupakan survey analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2013 sampai oktober 2013. Lokasi penelitian ini dilakukan di Puskesmas Imogiri II Bantul. Subyek penelitian adalah pasien yang datang ke poli gigi puskesmas Imogiri II Bantul dengan kasus gigi tidak lengkap dan belum memakai gigi tiruan. Tehnik pengambilan sampel secara Quota sampling. Jumlah sampel sebanyak 30 responden. Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk menentukan tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut serta kuesioner pemakaian gigi tiruan. Analisa data dilakukan dengan uji korelasi chi square dengan signifikasi level 0,01. Hasil pengujian menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan pemakaian gigi tiruan di puskesmas Imogiri II Bantul. Pasien dengan kasus gigi tidak lengkap dan belum memakai gigi tiruan di puskesmas Imogiri II Bantul memiliki tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut kategori baik sebanyak 60%. Pasien dengan kasus gigi tidak lengkap dan belum memakai gigi tiruan di puskesmas Imogiri II Bantul memiliki keinginan pemakaian gigi tiruan sebanyak 56,6 %. Semakin baik tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut semakin tinggi keinginan pemakaian gigi tiruan.

Kata Kunci :  tingkat pengetahuan, pemakaian gigi tiruan.

Fulltext : Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Pemakaian Gigi Tiruan

Bibliografi       : Jurnal Gigi dan Mulut, Vol.2, No.1, Maret  2013, Hal 43

Posted by        : admin jurnal

Posted on        :  11 November 2015

PERBEDAAN SKOR PADA PASIEN PENGGUNA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN DENGAN KLAMER DAN TANPA KLAMER

Elvi Ratnawati1, Siti Sulastri2, Dwi Eni Purwati3

email: dwienipurwati79@gmail.com

** Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstrak

Geligi tiruan merupakan benda asing yang menimbulkan iritasi jaringan lunak. Geligi tiruan yang longgar atau geligi tiruan yang tidak terpoles dengan baik cenderung berfungsi sebagai fokus timbunan plak. Geligi tiruan tisue borme seringkali terbenam ke dalam mukosa dan menekan tepi gingiva, menyebabkan inflamasi dan kerusakan jaringan. Akibat lanjut dari geligi tiruan sebagian dengan desain yang lunak adalah stress oklusal yang berlebihan pada gigi-gigi penyangga, dan faktor ini bersama dengan inflamasi gingiva karena plak adalah penyebab paling umum dari tanggalnya suatu gigi . Gigi Tiruan Sebagian (GTS) ada yang cekat dan ada yang lepasan. GTS lepasan ada yang menggunakan klamer dan tanpa klamer, keduanya dapat mempengaruhi skor plak.

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan di Puskesmas Depok 3 Sleman terhadap 5 pasien pemakai gigi tiruan sebagian dengan klamer didapatkan hasil skor plak  3 orang dengan kriteria sedang, 2 orang kriteria buruk , dan pemeriksaan 5 pasien pemakai GTS tanpa klamer didapatkan hasil skor plak 4 orang kriteria baik dan 1 orang kriteria sedang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan skor plak pada pasien pengguna gigi tiruan sebagian lepasan dengan klamer dan tanpa klamer di Puskemas Depok 3 Sleman. Jenis penelitian ini menggunakan  cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2013 sampai September 2013. Lokasi penelitian ini dilakukan di Klinik Gigi puskesmas Depok 3 Sleman. Subyek penelitian adalah pasien yang datang ke klinik gigi puskesmas Depok 3 Sleman  yang memakai gigi tiruan sebagian lepasan dengan klamer dan tanpa klamer maksimal 4 gigi, jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Tehnik pengambilan sampel secara Quota sampling. Jumlah sampel sebanyak 30 responden terdiri atas 15 pemakai GTSL dengan klamer dan 15 pemakai GTSL tanpa klamer. Penelitian ini dilakukan dengan cara memeriksa skor plak (PHP) dan hasilnya dicatat dengan menggunakan blangko pemeriksaan kedalam format responden memakai GTSL dengan klamer dan format responden memakai GTSL tanpa klamer.

Analisa data dilakukan dengan uji Mann whiteney  dengan signifikasi level 0,05. Hasil pengujian menunjukkan terdapat perbedaan skor plak pada pasien pengguna GTSL dengan klamer dan pasien GTSL tanpa klamer . Rerata skor plak pada pengguna GTSL dengan klamer lebih tinggi dibandingkan pengguna GTSL tanpa klamer. Ada perbedaan yang bermakna antara skor plak pada pengguna GTSL dengan klamer dan skor plak pengguna GTSL tanpa klamer di klinik Gigi Puskesmas Depok 3 Sleman.

 

Kata Kunci :  skor plak, pengguna GTSL dengan klamer dan tanpa klamer.

Fulltext : PERBEDAAN SKOR PADA PASIEN PENGGUNA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN DENGAN KLAMER DAN TANPA KLAMER

Bibliografi       : Jurnal Gigi dan Mulut, Vol.2, No.1, Maret  2013, Hal 38

Posted by        : admin jurnal

Posted on        :  11 November 2015

PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI INFUSA DAUN JAMBU MONYET (Anacardium occidental L.) TERHADAP DAYA HAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus SECAR IN VITRO

Herawati Cahya Ningrum*, Bambang Supriyanta**, Eni Kurniati***

email: eni.kur@gmail.com

** Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 Abstract

 Background: Deture stomatitis is an inflammatory process in the mucosa. Trauma is one of the diseases caused by the bacterium Staphylococcus aureus. Cashew leaves contain flavonoids, tannins and anakardat acids that can be used as medicine. Seeing the many content contained in cashew leaves, then the leaves of cashew research selected as antibacterial test material S. aureus

Objective: to know influence of concentrations infusion of cashew leaf (Anacardium occidental L.) on the inhibition of the growth of S. aureus in vitro

Methods: The kinds of research used True Eksperimental and Post Test with control as design research using sensitivity tests were performed on bacteria S. aureus using five treatment groups f cashew leaf infisuion consentrations 20%, 40%, 60%, 80, % and 100%. The study yielded 30 data were analyzer descriptively with One Way Anova using SPSS 16.00 for windows

Results: infuse cashew leaves have inhibitory effectson the growth of S. aureus bacteria. At concentration 20%, 40%, 60%, 80, % and 100% mean inhibition obtained successively by 14 mm, 15,67 mm, 16m 83 mm, 19,17 mm and 20,83 nn. By One Way ANova test is knwn that there are vatious inhibitory effect concentration cashew leaf infusion on the growth of S. aureus bacteria. From an average concentration 20% to 100%, the results of the linier regression cashew leaf infusion effect on the inhibition of the growth of S. aureus was 83,3%

Conclusion : There is a influences of vaiety infusion cashew leaf (Anacardium occidental L.) on the inhibition of the growth of S. aureus in vitro

 Keywords: Influence. Cashew leaves. Bacterial growth. Staphylococcus aureus. In vitro

 Fulltext : Pengaruh Berbagai Konsentrasi Infusa Daun Jambu Monyet

Bibliografi       : Jurnal Teknologi Laboratorium, Vol.3, No.2, September  2013, Hal 13 – 16
Posted by        : admin jurnal

Posted on        :  11 November 2015

Ringworm-Causing Fungi and Its Growth Inhibition by The Extracts of Ketepeng Cina (Cassia alata L.) Leaves, and Ginger (Alpinia galangal (L.) Swartz)

Eni Kuniati*

email: eni.kur@gmail.com

** Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract

 Ringworm or medical term is called tinea, is a fungal disease in the tissues which contain keratin substances as found in nail, hair, and stratum korneum in the epidermis which is caused by dermatofite, Year after year this disease shows an increase in number in Indonesia. So, this disease has to be overcome immediately

The medicinal treatment of ringworm which is usually done in the society is by using medicines and traditional substances suchs as ketapang d\cina (Cassia alata L.), ginger (Alpina galangal (L.) Swartz), etc. so there should be research to examine the level of effectiveness of those antifungal substances

In this research, identification was done to 15 patients of tinea. From that research it was found that Trichophyton mentagrophytes and Trichophyton rubrum were isolated tinea pedis and tinea unguium. While microsporum gypseum was found in tinea kapitis and Epidermophyton floccosum was found in tinea kruris

The fastest growth of fungal colony was Microsporum gypseum and while the last growth was Trichophyton rubrum

Those fungi were then examined with ketepeng cina (Cassa alata L.), ginger (Alpina galangan (l.) Swartz), and griseofulvin with the concentration oof 30%, 70% and 90%.

Based on antifungal analisis, Trichophyton mentagrophytes, Trichophyton rubrum and Epidemophyton floccosum could not grow in media with extracts of ketepeng cina (Cassia alata L.). ginger (Alpina galangal (L.) Swartz), and griseofulvin. Whereas there was the growth inhibition of Microsporum gypseum in all of the those treatments. The highest growth inhibition was found by the extract of ketepeng cina with 90% contentration, whereas the smallest was the extract of ketepeng sina with the concentration of 30%

 

Keywords : tinea, ketepeng cina, lengkuas dan obat griseofulvin.

FulltextRingworm-Causing Fungi and Its Growth Inhibition

Bibliografi       : Jurnal Teknologi Laboratorium, Vol.1, No.2, Agustus 2012, Hal 23 – 26
Posted by        : admin jurnal

Posted on        :  11 November 2015

PENGARUH PEMBERIAN AIR QI SEBAGAI PENGAWET ALAMI PADA BAKSO DAGING SAPI

Eni Kurniati, Suyana*

email: eni.kur@gmail.com

** Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 

Abstract

 Background : Beef meat balls are foods favored by the people because it is accepted by the whole society.  But lately there are anxieties about the use of preservative essences added in the meatballs. Qi water is a material that can be used as a natural food preservative. Qi water is a filtrat obtained from the deposition process water from rice straw ash which  contain several substance  that are used as anti-bacterial. Antibacterial substances contained in the water qi are saponins, alkaloids and essential oils of atsiri.

Objective: To determine the effect of immersion time meatballs at room temperature after qi water is added to the sum of total plate count

Methods: This research is an experimental study with post-test study design with control. The object of this study is using beef meatballs by adding qi water at time of manufacture and the control is meatball without adding qi water. Data were analyzed by descriptive analytic.

Results: The number of ALT on meatballs without the addition of qi water at immersion time 0, 6, 12, 18 and 24 hours was 57.5; 2083; 104 487; 668,266.5; 2857; 52 375; 632 500; 1600000), meatballs with water at a concentration of qi 10% (50; 4860; 39350; 91100; 161 600) and meatballs with water at a concentration of qi15% (119.5 ; 2140; 3810; 29015; 167 400).  organoleptic test the color, smell, taste, and plasticity on the immersion of 0 to 24 hours according to standard. As for appearance of meatballs with mucus without the addition of qi comes after the immersed 12 hours while in meatballs with the addition of qi water appears after 24 hours

Conclusion: The number of ALT in the meatballs with qi water concentration 0% after 12 hours immersion, with qi water concentration 5% after 18 hours immersion, and with qi water concentration 10% and 15% after 24 hours immersion are not meet the Indonesian National Standard (SNI), while the results of organoleptic test only appearance mucus which are not match standard

Keywords : Qi water, Preservative, Meatballs, ALT

 

INTISARI

Latar Belakang : Bakso daging sapi merupakan makanan yang banyak digemari oleh masyarakat. Kehadirannya sangat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun akhir-akhir ini ada kekhawatiran tentang penggunaan pengawet yang ditambahkan dalam bakso tersebut. . Air qi merupakan suatu bahan yang dapat digunakan sebagai pengawet makanan alami. Air qi ini merupakan filtrate yang diperoleh dari proses pengendapan air dari abu merang padi mengandung beberapa zat yang digunakan sebagai anti bakteri. Zat-zat antibakteri yang terkandung dalam air qi yaitu saponin, senyawa alkaloid, dan minyak atsiri.

Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh lama pendiaman bakso pada suhu ruang setelah ditambahkan air qi terhadap jumlah angka lempeng total (ALT).

Metode Penelitian : Penelitian ini termasuk jenis penelitian ekperimental dengan rancangan penelitian post test with control. Obyek dari penelitian ini menggunakan bakso daging sapi dengan menambahkan air qi pada waktu proses pembuatannya dan sebagai kontrolnya bakso tanpa penambahan air qi. Data dianalisa secara diskriptif.

Hasil : Jumlah ALT pada bakso tanpa penambahan air qi pada pendiaman 0, 6, 12, 18 dan 24 jam adalah 57,5; 2083; 104487; 668266,5; 2495000 CFU/ml. Pada bakso dengan konsentrasi air qi 5% (219; 2857;52375; 632500; 1600000), bakso dengan konsentrasi air qi 10% (50; 4860; 39350; 91100; 161600) dan bakso dengan konsentrasi air qi 15% (119,5 ; 2140; 3810; 29015; 167400). Dari Uji Organoleptis warna, bau, rasa, kekenyalan pada pendiaman 0 sampai dengan 24 jam sesuai standart. Sedangkan untuk penapakan lendir bakso tanpa penambahan air qi muncul setelah pendiaman 12 jam dan bakso dengan penambahan air qi muncul setelah 24 jam.

Kesimpulan : Jumlah ALT pada bakso dengan konsentrasi air qi 0% setelah pendiaman 12 jam tidak memenuhi SNI, konsentrasi air qi 5% setelah pendiaman 18 jam tidak memenuhi SNI, konsentrasi air qi 10% dan 15% setelah pendiaman 24 jam tidak memenuhi SNI. Hasil Uji organoleptis hanya penampakan lendir saja yang tidak sesuai standart.

Kata Kunci : Air Qi, Bakso, Pengawet, ALT  

Fulltext             : AIR QI SEBAGAI PENGAWET ALAMI PADA BAKSO DAGING SAPI

Bibliografi       : Jurnal Teknologi Laboratorium, Vol.3, No.1, Februari 2014, Hal 35 – 43

Posted by         : admin jurnal

Posted on         :  11 November 2015

PERBEDAAN METODA PENYULUHAN DENGAN MENGGUNAKAN LEAFLET DAN VIDEO DALAM MERUBAH PENGETAHUAN SIKAP DAN PERILAKU SISWA SD MENGENAI PEMILIHAN MAKANAN JAJANAN

Wiwit Handayani*, Narto**, Lilik Hendrarini**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: handayaniwiwit@gmail.com

**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract

 

Snackscan not be separable from elementary school children’ daily activities. But, they have to be more selective in choosing the foods because some studies revealed that some dangerous substances were contained. The aim of the study was to know whether leaflet and video used in elucidation have difference effects towards the knowledge, attitudes and behavior of students of Pujokusuman 1 Elementary School of Yogyakarta City in selecting snacks. The type of this research was an experiment followingpre test post test with control group design. As the respon-dents were 169 grade 4 and 5 students who were divided into three groups, i.e. 57 students were assigned to group of leaflet media, another 57 students were assigned to group of video media, and the rest 56 students were assigned to the control group. Students of grade 4 and 5 were chosen as the study sample because they are assumed already had good reading and wri-ting skills as well as can receive information properly. The data obtained were examined by using independent ttest at significance level (α) 0,05 because the assumption of distribution nor-mality was met. The p-values gained from the the test  were less than 0,001 for all tests, so that it can be interpreted that leaflet and video used in the elucidation, improved students’ knowledge, attitude and practice. Since video was also found give better results compared with the leaflet did, the stakeholders are advised to implement this media as one of alternative methods in deli-vering information, in order to make the students can choose the healthy snacks.

 

Keywords : snacks, elucidation methods, leaflets, videos

 

Intisari

 

Makanan jajanan merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan anak sekolah dasar. Na-mun demikian, siswa SD harus lebih selektif dalam memilihnya karena beberapa hasil penelitian mengungkapkan adanya kandungan bahan-bahan yang berbahaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh metoda penyuluhan dengan media leaflet dan video terhadap perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa SDN Pujokusuman 1 di Kota Yogyakartadalam memilih makanan jajanan. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan pre test post test with control group. Responden penelitian adalah 169 siswa kelas 4 dan 5 dari SDN di atas yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu 57 anak masuk ke dalam kelompok leaflet, 57 anak masuk ke dalam kelompok kelompok video, dan 56 anak masuk ke dalam kelompok kontrol. Murid kelas 4 dan 5 dipilih sebagai sampel karena diasumsi-kan sudah lancar membaca dan menulis, dan dapat menerima informasi dengan baik. Data yang diperoleh diuji dengan ttest bebas pada taraf signifikansi(α) 0,05 karena data memenuhi asum-si normalitas dalam distribusinya. Nilai-nilai p yang dihasilkan dari semua hasil uji lebih kecil dari0,001yang dapat diinterpretasikan bahwa metoda penyuluhan dengan menggunakan media leaflet dan video memberikanresponden perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku yang lebih baik. Karena video juga disimpulkan memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan dengan me-dia leaflet, maka kepada pihak yang terkait, dalam melakukan penyuluhan disarankan untuk me-manfaatkan media tersebut sebagai salah satu alternatif metoda yang digunakan agar siswa dapat memilih makanan jajanan yang sehat.

 

Kata Kunci : makanan jajanan, metoda penyuluhan, leaflet, video

Bibliografi       : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.7, No.1, Agustus 2015, Hal 44 – 50
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  5 November 2015

 

PERANSERTA IBU RUMAH TANGGA DALAM COMMUNITY SELF SURVEY MEMPENGARUHI FREKUENSI PEMBERANTASANSARANG NYAMUK DAN CONTAINER INDEX DI PAKUNCEN KOTA YOGYAKARTA

Sri Handayani*, Lucky Herawati**, Achmad Husein**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: handayanisric4@yahoo.co.id

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract

 

Pakuncen is one of the villagesin Wirobrajan of Yogyakarta City with larva-free index below the national target, i.e. 87%. Thisreflects high container index (CI) and lack of the awareness among housewives in conducting mosquito nest eradication. The research was aimedto know the effect of housewives participation in community self-survey to the frequency of the eradica-tion and container index in thatvillage by conducting a quasi experiment with non equivalent control group design. Subjects of the research were 52 housewives live in RT 28 and RT 29, of RW 6 in Kleben Hamlet, Pakuncen Village, who were then divided into two group, the experi-ment group and the control group. At the beginning of the study, all the housewives were pro-vided with conseling. Later, treatment in the form ofparticipation in community self survey was implemented in the experiment group, meanwhile inthe control group it was not. The instrumentsused were questionnaire andlarvae observation sheet. Data were analyzed with non parametric Kruskal-Wallis test at 0,05 level of significance, and the results showed that housewives participation in the community self-survey influenced the frequency of eradication active-ties (p-value = 0,018). Nonetheless, the study could not prove statistically that the participation had significant effect to CI (p-value= 0,400) even though in the experiment group a decrease of CI was observed.

    

Keywords : housewives participation, community self survey, mosquito nest eradication,

                    container index

 

Intisari

 

Pakuncen adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Wirobrajan Kota Yogyakarta dengan angka bebas jentik  di bawah target nasional yaitu sebesar 87%. Hal itu menunjukkan angka container index (CI) yang tinggi dan kesadaran ibu rumah tangga dalam melakukan Pemberan-tasan Sarang Nyamuk (PSN) yang masih kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peranserta ibu rumah tangga pada community self survey mempengaruhi fre-kuensi PSN dan CI di kelurahan tersebut melalui pelaksanaan penelitian quasi experiment de-ngan desain Non Equivalent Control Group. Subyek penelitian terdiri dari 52 ibu rumah tangga yang tinggal di RT 28 dan RT 29, RW 6 Dusun Kleben, Kelurahan Pakuncen, yang terbagi menjadi dua yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Para ibu rumah tangga tersebut semua diberikan pembekalan dalam bentuk penyuluhan. Selanjutnya, perlakuan berupa peran-serta ibu rumah tangga pada kegiatan community self survey dilakukan pada kelompok ekspe-rimen, sementara di kelompok kontrol hal itu tidak diberikan. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah kuesioner dan formulir pemantauan jentik. Data dianalisis menggunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis pada derajat kebermaknaan 0,05 dan hasilnya menunjukkan bahwa peranserta ibu rumah tangga pada community self survey mempengaruhi frekuensi PSN (p-value = 0,018). Namun demikian, hasil penelitian tidak dapat membuktikan secara sta-tisik pengaruh peranserta tersebut bagi CI (p-value = 0,400), walaupun pada kelompok eks-perimen teramati adanya penurunan.

   

Kata Kunci : peranserta ibu rumah tangga, community self survey,

                      pemberantasan sarang nyamuk, container index

full text

per review

Bibliografi       : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.7, No.1, Agustus 2015, Hal 36 – 43
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  5 November 2015

KOMPOSISI KERTAS BEKAS DAN KULIT KACANG TANAH DALAM PEMBUATAN KERTAS DAUR ULANG

Retno Arif Utami*, Haryono**, Indah Werdiningsih**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: retno_arifutami@yahoo.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract

 One of environmental issues that still a problem is waste. One of the waste sources isrempeyek industry in Pelem Madu, Imogiri,Bantul, Yogyakarta Province that produces solid waste in the form of peanut shells and has not yet been processed adequately. Peanut shells contain of 63,5% cellulose which can be used as additional component in paper recycling process.The purpose of this research was to know the effect of five composition ratio of peanut shells towardsthe tensile strength and water absorption ofthe recycled papers, by conducting an experiment which followed posttest only with control group design. From the measurement of paper tensile strength, the averages from five times replication for each composition ratio between used pa-pers and peanut shells (i.e. ,1:0,5; 1:1,0; 1:1,5; 1:2,0; and 1:25)were: 0,519 N/mm; 0,751 N/mm; 0,777 N/mm; 0,905 N/mm and 1,118 N/mm, consecutively. Meanwhile, the obtained means from water absorption test for the same composition ratios, were: 71,4 mm; 72,2 mm; 72,8 mm; 65,2 mm and 57,2 mm, respectively. The One Way Anova test at 0,05 level of significance,yielded a p value < 0,001 which means that the composition ratio variation significantly influenced  the tensile strength and the water absorption of the yielded papers. The best composition ratio for both parameters is 1:2,5 and it can be concluded that the more peanut shellswere added to the process, the produced paper will gain the higher tensile strength and the more able to reduce water absorption.

   

Keywords : peanut shells, paper recycling, paper tensile strength, water absorption power

 

Intisari

Salah satu masalah lingkungan yang masih menjadi persoalan adalah sampah. Salah satu sum-ber sampah yaitu industri rempeyek di Dusun Pelem Madu, Imogiri, Bantul, DIY, yang meng-hasilkan limbah padat berupa kulit kacang tanah dan belum dilakukan pengolahan secara maksi-mal. Kulit kacang tanah memiliki 63,5 % selulosa yang dapat digunakan sebagai komponen tambahan dalam proses daur ulang kertas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari lima perbandingan komposisi kulit kacang tanah dalam proses daur ulang kertas terhadap kuat tarik dan daya serap air dari kertas yang dihasilkan. Jenis penelitian yang dilakukan  adalaheksperimen dengan desain posttest only with control group.Hasil pengukuran uji kuat tarik, dari lima kali ulangan,secara berturut-turutdiperoleh rerata sebesar 0,519 N/mm; 0,751 N/mm; 0,777 N/mm; 0,905 N/mm dan 1,118 N/mm, untuk masing-masing  perbandingan komposisi antara kertas bekas dan kulit kacang tanah 1:0,5; 1:1,0; 1:1,5; 1:2,0; dan 1:2,5. Adapun untuk hasil pengukuran uji daya serap air,diperoleh rata-rata untuk masing-masing komposisi tersebut sebesar 71,4 mm; 72,2 mm; 72,8 mm; 65,2 mm dan 57,2 mm. Dari hasil uji statistik One Way Anova dengan derajat signifikansi 0,05, diperoleh nilai p < 0,001, yang berarti bahwa variasi perbandingan komposisi kulit kacang tanah mempengaruhi kuat tarik dan daya serap air dari kertas hasil daur ulang. Perbandingan komposisi yang paling baik bagi kedua parameter pe-ngukuran di atas adalah 1:2,5.Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kulit kacang tanah yang ditambahkan, maka kertas yang dihasilkan akan semakin tinggi kuat tariknya dan semakin mampu mengurangi penyerapan air.

   

Kata Kunci : kulit kacang tanah, daur ulang kertas, kuat tarik kertas, daya serap air

Bibliografi       : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.7, No.1, Agustus 2015, Hal 26 – 35
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  5 November 2015

 

PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI NYAMUK Anopheles

Nurbaiti*, Yamtana**, Sarjito Eko Windarso**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: arbaatinurbaiti@yahoo.com

**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract

 

One of arthopodborne diseases that can bedangerous and even can cause death in human is Malaria, which is transmitted  through the bite of Anopheles.Mahkota Dewa (Phaleria macrocar-pa) is one of plants that produce saponin, alcoloid and  flavonoids which can be used as bota-nical insecticide. The purpose of this study was to utilize the leaf extract of the plant as insecti-cide for Anopheles by conducting a true experiment with post test only with control group design and took place at  The Vector Laboratory of Environmental Health Department ofYogyakarta Po-lytechnic of Health. The mosquitoes aged  2-4 days tested in the experiment were reared by the researcher and there were three extract concentrations used to spray  the insects, i.e. 30 %, 40 % and 50 %. Confounding variables which were controlled are age and feeds of the mosquitoes,  temperature and the atomizer. The death of the insects was calculated by using Abbott formula. Data which were analyzed  by One Way Anova test at 0,05 level of significance obtained a p-value less than 0,001 which can be interpreted that various  concentrations of Mahkota Dewa leaf extraction give differenteffects on Anopheles mortality. Based on the subsequent LSD  test, it wasfound that the most effective concentration is 50%

 

Keywords : Phaleria mcrocarpa, leave exctract, botanical insecticide, Anopheles

 

Intisari

 

Salah satu penyakit tular vektor atau arthopodborne diseases yang dapat membahayakan bahkan dapat menyebabkan kematian pada manusia adalah Malaria yang penularannya melalui gigitan Anopheles.Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) adalah salah satu tanaman yang daunnya  menghasilkan senyawa saponin, alkoloid dan flavonoid yang dapat digunakan sebagai insektisida nabati. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan ekstrak daun tersebut sebagai in-sektisida bagi nyamuk Anopheles dengan melakukan true experiment yang desain penelitiannya adalah post test only with control group. Lokasi penelitian bertempat di Laboratorium Vektor Ju-rusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta dengan menggunakan nyamuk hasil penangkaran sendiri yang berusia 2-4 hari. Ada tiga konsentrasi ekstrak untuk menyemprot yang digunakan, yaitu 30 %, 40 % dan 50 %. Variabel pengganggu yang dikendalikan meliputi umur nyamuk, makanan nyamuk, suhu, dan alat penyemprot. Data kematian nyamuk dihitung dengan menggunakan umus Abbott. Data yang dianalisis dengan menggunakan uji One Way Anova pada derajat kemaknaan 0,05 menghasilkan nilai p lebih kecil dari 0,001 yang dapat diinterpretasi bahwa variasi konsentrasi ekstrak daun Mahkota Dewa memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kematian Anopheles. Berdasarkan uji LSD diketahui bahwa konsentrasi ekstrak yang paling efektif mematikan Anopheles adalah 50%.

 

Kata Kunci : mahkota dewa, ekstrak daun, insektisida nabati, Anopheles

Bibliografi       : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.7, No.1, Agustus 2015, Hal 19 – 25
Posted by         : admin jurusan kesling
Posted on         :  5 November 2015