FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEMBUHAN PENDERITA BARU TB BTA POSITIF DI KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2011

Ana Susanti*, Tuntas Bagyono**, Bambang Suwerda***

* Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Jl. Kenari No.56 Yogyakarta
email: ummu_mahmudah72@yahoo.co.id
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Gamping, Sleman, DIY 55293
*** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
WHO declared tuberculosis (TB) as global emergency. In 2004, TB cases in Indonesia was esti-mated as much as 539.000 with 140.000 death every year. Based on the evaluation of the im-plementation of TB controlling program, in Yogyakarta City in 2011, two of national indicators had been achieved, i.e. Case Detection Rate and Error Rate. Meanwhile, several factors were suspected as the cause of the fail of the Recovery Rate and the Conversion Rate met the nation-al targets. This study was aimed to analyze factors related with the recovery of new positive BTA cases in Yogyakarta City by conducting survey which followed cross sectional design. As the respondents were 60 new cases of the post-medication program derived from 18 puskesmas throughout the city and sampled by using proportional cluster random sampling method. Data were collected by conducting interview, observation and measurement. Univariate, bivariate and multivariate analysis were employed to reveal the dominant factors. Bivariate analysis of Odds Ratio found that among the observed variables, house illumination and medication compliance were correlated significantly with the recovery of new cases. However, advanced multvariate analysis by conducting logistic regression test only found the medication compliance as the do-minant factor.
Keywords : TB recovery, positive BTA, house illumination, medication compliance
Intisari
WHO mencanangkan penyakit tuberkulosis (TB) sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Pada tahun 2004, jumlah penderita TB di Indonesia diperkirakan sebanyak 539.000 orang dengan 140.000 kematian setiap tahunnya. Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program penanggulangan TB di Kota Yogyakarta pada tahun 2011, indikator nasional untuk program TB yang telah dicapai adalah Case Detection Rate (penemuan kasus/penderita TB) dan Error Rate, sedangkan untuk angka kesembuhan dan angka konversi belum memenuhi target. Beberapa faktor kemungkinan menyebabkan belum tercapainya kesembuhan sesuai target nasional ter-sebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kesembuhan penderita baru TB BTA positif di Kota Yogyakarta pada tahun 2011 dengan meng-gunakan penelitian survey dengan rancangan cross sectional. Responden sejumlah 60 orang penderita baru TB BTA positif yang sudah menjalani pengobatan yang tersebar di 18 puskesmas diambil dengan metoda proportional cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan pengukuran. Data selanjutnya dianalisis secara uni-variat, bivariat dan multivariat. Hasil analisis bivariat dengan Odds Ratio menunjukkan bahwa di antara variabel yang diteliti, pencahayaan rumah dan keteraturan minum obat berhubungan secara signifikan dengan kesembuhan penderita. Namun uji lanjutan dengan regresi logistik me-nemukan bahwa hanya kepatuhan minum obatlah yang paling dominan berhubungan dengan kesembuhan penderita.
Kata Kunci : kesembuhan TB, BTA positif, pencahayaan rumah, kepatuhan minum obat

Full Text

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.4, No.2, November 2012, Hal 51-63

Post on : 2 November 2012

PENGARUH BERBAGAI VARIASI VOLUME MINYAK GORENG BEKAS TERHADAP STANDAR MUTU DETERJEN CUCI CAIR

Dwi Rahma Wati*, Bambang Suwerda**, Rizki Amalia**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: violetanra@yahoo.co.id
**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
Cooking oil is a food ingredient that is used for daily needs. The re-use of cooking oil for many times is highly not suggested since it may lead to harm human health and pollute the environ-ment. One of efforts to process used cooking oil is to utilize it as base material in liquid detergent making. The purpose of the study was to know the influence of different volume variation of used cooking oil (i.e. 50, ml, 55 ml and 60 ml) toward the quality standard of the detergent yielded, referred to the SNI. The study was a pre-experiment with post-test only design and conducted in three replications. The laboratory measuremnet and panel test, showed that all of the liquid wa-shing detergent produced had fullfiled the standard parameter that consists of: homogenous liquid formation and can dripping, has perfume fragrance, has no-striking color, pH between 10-12, minimum active ingredient 25 %, specific weight between 1,2-1,5; and maximum microbe contamination 1×105. Results of subsequent statistical analysis using kruskal-wallis test at 5% signifcany level showed that the quality of all detergent yielded from the experiment were not significantly different, and 50 ml was decided as the most effective volume of the used cooking oil.
Keywords : liquid washing detergent, used cooking oil
Intisari
Minyak goreng adalah komponen makanan yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Peng-gunaan ulang minyak tidak disarankan karena dapat menimbulkan gangguan bagi kesehatan manusia dan mencemari lingkungan. Salah satu upaya untuk mengolah minyak goreng bekas adalah menjadikannya sebagai bahan pembuatan deterjen cair. Tujuan penelitian ini adalah un-tuk mengetahui pengaruh tiga variasi volume minyak goreng bekas (yaitu 50 l, 55 ml dan 60 ml) terhadap standar mutu dari deterjen cair yang dihasilkan dengan mengacu pada SNI. Penelitian yang dlakukan berjenis pre-eksperimen dengan mengikuti post-test only design dan terdiri dari tiga kali ulangan. Hasil pemeriksaan laboratorium dan uji panel, menyatakan bahwa semua de-terjen cuci cair yang dihasilkan telah memenuhi standar mutu yang diacu, yaitu meliputi: ber-bentuk cair homogen dan dapat menetes, berbau khas wangi parfum, berwarna khas tidak mencolok, pH antara 10-12, bahan aktif minimal 25 %, bobot jenis minimal 1,2-1,5; dan cemaran mikroba maksimal 1×105. Hasil analisis secara statistik dengan menggunakan uji kruskal-wallis pada derajat siginifikansi 5 % menyimpulkan bahwa kualitas deterjen cair yang dihasilkan tidak berbeda secara signfikan, dan volume minyak goreng bekas sebanyak 50 ml adalah yang paling efektif.
Kata Kunci : deterjen cuci cair, minyak goreng bekas

Full Text

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.1, Agustus 2014, Hal 25 – 30

Post on : 2 Agustus 2014

PEMANFAATAN Saccharomyces cereviceae DAN LIMBAH BUAH NANAS PASAR BERINGHARJO YOGYAKARTA UNTUK PEMBUATAN BIOETANOL

Sri Ayu Wahyuni*, Abdul Hadi Kadarusno**, Bambang Suwerda**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: Sriayuwahyuni18@gmail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Abstract

One of the organic waste generated from markets is pineapple waste. Parts of pineapple that can be eaten is only 53 % while the remaining 47 % were dumped as waste. The peels of pine-apple contain 13,65 % sugar, so that can be processed as bioethanol, i.e. ethanol made from biomass containing cellulose or starch component. The preliminary trial found that the fermenta-tion of pineapple waste in four days with four weight variations of Saccharomyces cereviceae obtained the highest level of bioethanol at 27,7289 %, i.e. produced from 15 gram of that yeast The purpose of this research was to know the influence of Saccharomyces cereviceae weight variation (0 %, 20 %, 40 % and 60 %) and fermentation time variation (4 days, 7 days and 10 days) toward the levels of bioethanol produced from pineapple waste of Beringharjo Market, by conducting a post-test only with control group designed experiment. The results show that the highest levels of bioethanol produced was 40,45354 %, i.e. from the use of 60 % weight of Sac-charomyces cereviceae and 10 days fermentation. However, the statistical analysis with two-way anova test at 95 % level of confidence yielded a probability value >0,05 which means that the levels of bioethanol produced from those yeast weight variation and fermentation time variation are not significantly different.
Keywords : bioethanol, Saccharomyces cereviceae, pineapple waste, fermentation

Intisari
Salah satu sampah organik yang dihasilkan dari pasar adalah limbah nanas. Bagian buah nanas yang dapat dimakan hanya sebanyak 53 % dan 47 % sisanya dibuang dan menjadi limbah. Kulit nanas yang mengandung kadar gula sebesar 13,65 % dapat dijadikan bioetanol, yaitu etanol yang terbuat dari biomassa yang mengandung komponen pati atau selulosa. Uji pendahuluan dengan memfermentasikan limbah nanas selama empat hari dengan empat variasi berat Sac-charomyces cereviceae, menghasilkan kadar bioetanol tertinggi sebesar 27,7289 % dari peng-gunaan 15 gram jenis ragi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya pengaruh variasi berat Saccharomyces cereviceae (0 %, 20 %, 40 %, dan 60 %) dan waktu fermentasi (4 hari, 7 hari dan 10 hari) terhadap kadar bioetanol yang dihasilkan dari limbah nanas Pasar Beringharjo, dengan melakukan eksperimen dengan desain penelitian post-test only with control group. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kadar bioetanol tertinggi adalah sebesar 40,45354 % yang di-peroleh dari berat Saccharomyces cereviceae 60 % dan waktu fermentasi 10 hari. Namun demi-kian, hasil analisis statistik dengan uji two-way anova pada derajat kepercayaan 95 %, mem-peroleh nilai probabilitas >0,05 yang menunjukkan tidak signifikannya perbedaan kadar bio-etanol yang terbentuk dari variasi berat Saccharomyces cereviceae dan waktu fermentasi yang digunakan.

Kata Kunci : bioetanol, Saccharomyces cereviceae, limbah nanas, fermentasi

Full Text

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.7, No.4, Mei 2016, Hal 151 – 159

Post on : 2 Mei 2016

EFEKTIFITAS BERBAGAI DOSIS BIO-SLURRY SEBAGAI BUMBU KOMPOS TERHADAP WAKTU PEMBENTUKAN DAN KUALITAS KOMPOS DI DUSUN GADINGHARJO, DONOTIRTO, KRETEK, BANTUL

Catur Bunga Novitamala*, Bambang Suwerda**, Indah Werdiningsih**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: catur.bunga@gmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 

Abstract

 

Organic waste yielded from households in Gadingharjo Village have not been yet treated pro-perly. The utilization that can be implemented is composting. One of activators that can accele-rate the processing time and improve the quality of the compost is bio-slurry. The aim of this research is to know the effectiveness of bio-slurry as compost activator by conducting a post-test-with-control-group designed experiment. The amount of domestic waste that was treated were 75 kg and were obtained with non-random sampling technique. The time of composting formation were counted from the initial process until the compost were mature, based on the following criteria: blackish brown color, soiled smells, and has environment stable temperature. The measurement of N, P, and K substance were carried on at the laboratory of BBTKL Yogya-karta. In the control group, the mean composting time was 34,7 days, meanwhile in the treat-ment groups of 1:1:2; 1:1:3 and 1:1;4 it was 25,3 days, 27,3 days, and 29,7 days. The result of one way anova test obtained p value < 0,001 which is meant that the differences were signifi-cant. The average of N, P, and K concentrations in the control group were 1,0438 %; 0,1880 %; and 1,4045 %. Meanwhile, in treatment group of 1:1:2 they were: 1,4639 %; 0,2699 %; and 1,2320 %; in treatment group of 1:1:3 they were: 1,0465 %; 0,2707 %; and 1,3154 %; and in treatment group of 1:1:4 they were: 0,8865 %; 0,2285 %; and 1,2992 %; respectively. To con-clude, bio-slurry can be used as an activator to speed-up the composting time and to improve the compost quality. The most effective bio-slurry addition is 1:1:2 ratio .

    

Keywords : bio-slurry, activator, compost, domestic organic waste, NPK

 

Intisari

 

Sampah organik rumah tangga di Dusun Gadingharjo belum terolah dengan baik. Pemanfaatan yang dapat dilakukan pada sampah tersebut adalah dengan pengomposan. Salah satu bumbu kompos yang dapat digunakan untuk mempercepat waktu proses dan meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan adalah bio-slurry. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas bio-slurry tersebut dengan melakukan eksperimen menggunakan post test with control group design. Jumlah sampah rumah tangga yang diteliti sebanyak 75 kg yang diambil dengan teknik non random sampling. Lama waktu terbentuknya kompos dihitung dari awal pembuatan sampai kompos menjadi matang dengan kriteria: berwarna coklat kehitaman, berbau tanah, dan men-dekati suhu stabil lingkungan. Pengukuran unsur N, P, dan K dilakukan di laboratorium BBTKL Yogyakarta. Di kelompok kontrol, kompos terbentuk secara rata-rata dalam 34,7 hari, semen-tara di kelompok perlakuan perbandingan 1:1:2; 1:1:3; dan 1:1:4; secara berturut-turut kompos terbentuk dalam 25,3 hari, 27,3 hari, dan 29,7 hari. Hasil uji anava satu jalan menghasilkan nilai p < 0,001 yang berarti bahwa perbedaan tersebut signifikan. Rata-rata kadar N, P, dan K yang dihasilkan oleh kelompok kontrol masing-masing adalah: 1,0438 %, 0,1880 %, dan 1,4045 %. Sementara itu, di kelompok perlakuan 1:1:2 hasilnya adalah: N, 1,4639 %; P, 0,2699 %; dan K, 1,2320 %; kelompok perlakuan 1:1:3; N, 1,0465 %; P, 0,2707 %; dan K, 1,3154 %; serta di ke-lompok perlakuan 1:1:4; N, 0,8865 %; P, 0,2285 %; dan K, 1,2992 %. Dapat disimpulkan bah-wa bio-slurry dapat mempercepat waktu dan meningkatkan kualitas pengomposan, dimana pe-nambahan yang paling efektif adalah dengan menggunakan perbandingan 1:1:2.

 

Kata Kunci : bio-slurry, aktivator, kompos, sampah rumah tangga, NPK

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.7, No.2, November 2015, Hal 51 – 58

Full Text

Post On : 2 November 2015

 

EFEKTIVITAS PENAMBAHAN KOAGULAN DAN MEDIA FILTRASI DALAM MENURUNKAN KADAR TSS, AMONIA DAN FOSFAT LIMBAH CAIR RSPAU Dr. SUHARDI HARDJOLUKITO YOGYAKARTA

Donni Septiandi*, Bambang Suwerda**, Adib Suyanto**

 * Akademi Kesehatan Lingkungan Pemprov Sumatera Selatan, Jl. Mawar No.2711, Palembang

email: donniseptiandi21@gmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Gamping, Sleman, DIY 55293

 

Abstract

Activities in hospitals not only bring positive impact to general community, but also potential of reduce the quality of environment and public health, e.g. negative effect from the yielded waste.  Based on the preliminary study on the liquid waste produced by Air Force Hospital Dr. Suhardi Hardjolukito in Yogyakarta, it was found that the concentration of TSS, ammonia and phosphate were exceeding the quality standard regulated by Yogyakarta Governor’s Decree No 07 in 2010. The aim of the study was to understand the effectiveness of the addition of coagulant consisted of lime and alum, with filtration media of 40 cm-thick quartz sand and 40 cm-thick zeolite in reducing the concentration of the three parameters by conducting a true experiment with pre-test post-test with control group design. The object of this research was the processed liquid waste from the hospital and the subsequent waste water sample were obtained by using composite sampling me-thod. The study was carried out in five replications and taken place at Yogyakarta Polytechnic of Health. Meanwhile, the examination of the parameters were conducted in Health Laboratory Office of Yogyakarta. The data were statistically tested by using one way anova, and the results showed that the coagulants and quartz sand could decrease the concentration of TSS, ammonia and phos-phate as much as 30,91 %, 39,32 % and 36,44%, respectively; while the coagulants and zeolite could lower the concentration of TSS by 46,89 %, ammonia by 68,37 %, and phosphate by 68,38 %). Because the following p-values gained from the statistic test were 0,003; 0,007; and <0,001; respectively, it can be concluded that the coagulant and the filtration media were significantly able for reducing TSS, ammonia and phosphate concentration in the liquid waste, and zeolite was de-termined as the most effective filter.

    Keywords : hospital liquid waste, coagulant, lime, alum, filtration media, quartz sand, zeolite, total suspended solid, ammonia, phospate

 

Intisari

 Kegiatan rumah sakit tidak saja memberikan dampak positif bagi masyarakat, tetapi mempunyai potensi besar untuk menurunkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat, di antaranya karena limbah yang dihasilkan. Berdasarkan uji pendahuluan terhadap limbah cair yang ada di RSPAU Dr. Hardjolukito Yogyakarta, diperoleh hasil bahwa kadar TSS, NH3 bebas dan fosfat  ma-sih melebihi baku mutu yang diatur oleh SK Gubernur DIY No 07 Tahun 2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penambahan koagulan berupa kapur dan tawas, dengan me-dia filtrasi pasir kuarsa berketebalan 40 cm serta media filtrasi zeolit berketebalan 40 cm dalam menurunkan kadar ke tiga parameter limbah tersebut, dengan melakukan penelitian true experi-ment dengan rancangan pre-test post-test with control group. Obyek penelitian adalah limbah cair terolah RSPAU Dr. Hardjolukito dan cara pengambilan sampel menggunakan metoda composite sampling. Penelitian dilakukan dalam lima kali ulangan di Politeknik Kesehatan Yogyakarta, se-mentara pemeriksaan parameter yang diteliti dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Yogya-karta. Data hasil pemeriksaan diuji dengan one way anova, dan hasilnya menunjukkan bahwa penambahan koagulan dan media filtrasi pasir kuarsa dapat menurunkan kadar TSS sebanyak 30,91 %, amonia sebanyak 39,32 %, dan fosfat sebanyak 36,44 %. Sementara itu, penambahan koagulan dan media filtrasi zeolit dapat menurunkan kadar TSS sebanyak 46,89 %, amonia se-banyak 68,37 %, dan fosfat sebanyak 68,38 %. Nilai p yang diperoleh dari uji anova untuk kadar TSS, amonia dan fosfat, secara berturut-turut adalah sebesar 0,003; 0,007; dan < 0,001; sehingga dapat disimpulkan bahwa penambahan koagulan dan media filtrasi yang digunakan dalam pe-nelitian ini mampu menurunkan kadar TSS, amonia dan fosfat di dalam limbah cair secara ber-makna; dan media filtrasi yang lebih efektif adalah zeolit.

    Kata Kunci : limbah cair rumah sakit, koagulan, kapur, tawas, media filtrasi, pasir kuarsa,  zeolit,  padatan terlarut total, amonia, fosfat.

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.5, No.3, Februari 2014, Hal 132 – 139

Full Text

Post On : 2 Februari 2014

 

PEMANFAATAN LIMBAH BULU AYAM SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PAKAN UNTUK PERTUMBUHAN (BERAT DAN PANJANG) IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Pipit Ika Lestari*, Yamtana**, Bambang Suwerda***

 * JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: pipitike@gmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 Abstract

 Chicken feather contain protein which is useful for the growth of livestock. The purpose of this study was to determine the effect of the addition of chicken feather waste to fish feed towards the growth (weight and length) of Nila fish. The chicken feather waste and feed preparation was took place at Sekawis Village of Kecamatan Kebonarum in Madiun. The breeding ponds of the fish was located at the Polytechnic of Health of Yogyakarta, in Tata Bumi Street No. 3 Banyura-den, Gamping, Sleman, Yogyakarta. The Nila fish was obtained from “Mina Kepis” fish breeder community in Burikan Sub Village, Sumberadi Village, Mlati Subdistrict, Sleman Regency. The research method used was true experiment with pre-test post-test control group design. As the independent variable was three addition variation of chicken feather waste, i.e. 4 %, 7 %, and 10 %. The number of Nila fish for each feed variation was 20. The measurement of post-test was after 30 days feeding. The results of One Way Anova test  at 95 % significance level show that the growth differences among the three variation of feed were signicant (p-values < 0,001), and the subsequent LSD test concludes that the 10 % addition of chicken feather waste to fish feed is the most effective towards the growth of Nila fish.

    

Keywords : chicken feathers waste, fish feed, nila fish

 

Intisari

 Bulu ayam memiliki kandungan protein yang berguna bagi pertumbuhan ternak. Tujuan peneli-tian ini adalah mengetahui manfaat penambahan pakan yang ditambah dengan limbah bulu ayam terhadap pertumbuhan (berat dan panjang) ikan Nila (Oreochromis niloticus). Pengambil-an limbah bulu ayam dan pengolahan pakan dilakukan di Dusun Sekawis, Kecamatan Kebon-sari, Kabupaten Madiun. Adapun kolam pemeliharaan ikan Nila berlokasi  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3, Banyuraden, Gamping, Sleman. Ikan Nila yang diteliti berasal dari Kelompok Pembudidaya Ikan “Mina Kepis” di Dusun Burikan, Desa Sumberadi, Kecamat-an Mlati, Kabupaten Sleman. Metoda penelitian yang digunakan adalah eksperimen sungguhan (true experiment) dengan rancangan “pre-test post-test with control group”. Sebagai variabel bebas adalah tiga variasi penambahan limbah bulu ayam sebagai bahan tambahan pakan, yaitu sebanyak 4 %, 7 %, dan 10 %. Banyaknya ikan Nila untuk setiap variasi pakan adalah 20 ekor. Pengukuran post-test dilakukan setelah 30 hari pemberian pakan. Analisis data dengan menggunakan uji One Way Anova pada derajat kepercayaan 95 %, menunjukkan bahwa perbedaan pertumbuhan ikan Nila yang dihasilkan dari ketiga variasi pakan yang digunakan, berbeda secara bermakna (nilai-nilai p < 0,001), dan uji lanjutan LSD menyimpulkan bahwa variasi penambahan 10 % limbah bulu ayam ke dalam pakan ikan adalah yang paling efektif bagi pertumbuhan ikan Nila.

 

Kata Kunci : limbah bulu ayam, pakan ikan, ikan nila

 Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8, No.1, Agustus 2016, Hal 22 – 28

Full text

Post On : 2 Agustus 2016

EFEKTIFITAS BERBAGAI DOSIS REKASHET UNTUK MENURUNKAN KESADAHAN AIR SUMUR GALI DI DESA JIMBUNG, KALIKOTES, KLATEN

Novi Astrini*, Haryono**, Bambang Suwerda**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: natrini@ymail.com
**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Abstract
Jimbung village is a limestone hilly or mountaineous area. This condition causes the dug well water contain lime or have high hardness. The use of hard water continuously can raise several problems, among others: health disorder such as kidney stones disease, economical problem because of the increase use of soaps, and technical problems such as crust on household appliances. The purpose of this research was to know whether the addition of various resin doses affect the decrease of water hardness of the well water. The type of the research was an experiment with pre-post test with control group design. In the control group, the water sample were boiled, meanwhile in the treatment group, in addition to the boiling, Rekashet were also added to the sample water. Rekashet is an abbreviation for cation resin sachet, i.e. resin which is packed practically in a sachet like a tea bag. Data from water hardness measurement between pre-test and post-test were analyzed by using paired sample t-test at 95 % significance level. The results show that p-value obtained for the control group was 0,006; Rekashet dose of 2 gr/L was 0,001; Rekashet dose of 3 gr/L was 0,004; Rekashet dose of 4 gr/L was <0,001; Rekashet dose of 5 gr/L was 0,002; and Rekashet dose of 6 gr/L was 0,004. To conclude, various doses of Rekashet addition influence the decrease of water hardness from water wells in Jimbung Village.
Keywords : resin, ionic resin, cation resin, rekashet, water hardness
Intisari
Desa Jimbung merupakan wilayah berbukit atau bergunung kapur, yang menyebabkan air su-mur gali di sana mengandung kapur atau bersifat sadah. Penggunaan air sadah secara terus-menerus dapat menimbulkan berbagai masalah, antara lain gangguan kesehatan berupa pe-nyakit batu ginjal, gangguan ekonomi berupa meningkatnya penggunaan sabun, dan gangguan teknis berupa munculnya kerak pada alat-alat rumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penambahan berbagai dosis resin berpengaruh terhadap penurunan kesa-dahan air sumur gali di desa tersebut. Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimen de-ngan rancangan pre-post test with control group. Pada kelompok kontrol, sampel air sadah di-rebus, sementara pada kelompok perlakuan, selain perebusan juga ditambahkan Rekashet, yaitu resin yang sudah dikemas secara praktis dalam bentuk sachet seperti teh celup. Data hasil pengukuran kesadahan antara pre-test dan post-test diuji dengan paired sample t-test pada taraf signifikansi 95 %. Dari hasil uji tersebut, diperoleh nilai p untuk kelompok kontrol sebesar 0,006; kelompok Rekashet dosis 2 gr/L sebesar 0,001; Rekashet dosis 3 gr/L sebesar 0,004; Rekashet dosis 4 gr/L sebesar <0,001, Rekashet dosis 5 gr/L sebesar 0,002; dan Rekashet dosis 6 gr/L sebesar 0,004. Dapat disimpulkan bahwa penambahan Rekashet dalam berbagai dosis mem-pengaruhi penurunan kesadahan air sumur gali di Desa Jimbung.

Kata Kunci : resin, resin ionik, resin kation, rekashet, kesadahan

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.7, No.3, Februari 2016, Hal 106 – 110

FULL TEXT

Post on : 2 Februari 2016