EVALUASI KONDISI SARANA SANITASI YANG DISEDIAKAN DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA DAN TINGKAT KEPUASAN WISATAWAN PANTAI DEPOK, BANTUL, YOGYAKARTA, TAHUN 2016

Layly Aslinda Saraswati*, Indah Werdiningsih**, Purwanto**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: laylyaslinda21@gmail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
The degree of community health can be affected by environmental and human factors. Environ-mental health efforts are aimed to create a quality of healthy environment through the application of public place sanitation, one of which is to provide sanitation facilities in tourism spots. Accord-ing to the preliminary test, various problems regarding to the condition of sanitation facilities and the satisfaction level of tourists were found in Depok Beach of Bantul. The purpose of this study was to determine the condition of the sanitation facilities provided by the Office of Culture and Tourism on that beach as well as the tourists’ satisfaction. This study used survey method with cross sectional design and the results were analyzed descriptively. There were 100 tourists se-lected as the respondents and the instrument used to collect the data was the sanitation inspect-ion questionnaire. Based on the questionnaire, the sanitation condition will be declared ”healthy worthy” if gain minimum score of 650, out of the 1000 maximum score. The results showed that the sanitation condition in Depok Beach is deserve to have “healthy worthy” level since gaining a score of 675. The results also found that the number of tourists who very satisfied with the condi-tion was 1 respondent 91 %); satisfied, 8 respondents (8 %); fairly satisfied, 51 respondents (51 %); not satisfied, 40 respondents (40 %); and none who is very dissatisfied. The condition of sa-nitation facilities in the beach that “healthy worthy” will increase customer satisfaction.
Keywords : sanitation facility, sanitation of tourism spot, tourists’ satisfaction rating
Intisari
Derajat kesehatan manusia dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan manusia itu sendiri. Upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat me-lalui penerapan sanitasi tempat-tempat umum, salah satunya sanitasi tempat wisata. Berdasar-kan uji pendahuluan diketahui ada permasalahan kondisi sarana sanitasi dan tingkat kepuasan wisatawan di Pantai Depok Bantul. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi sarana-sarana sanitasi yang disediakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di pantai tersebut dan tingkat kepuasan wisatawan. Penelitian ini menggunakan metoda survei dengan desain cross sectional yang hasilnya dianalisis secara deskriptif. Ada 100 orang wisatawan yang dipilih menjadi respon-den, sementara instrumen yang digunakan adalah kuesioner inspeksi sanitasi yang menyatakan sarana sanitasi memenuhi kriteria laik sehat jika memperoleh nilai minimal 650 dari nilai masimal 1000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sarana sanitasi di Pantai Depok Bantul di-nyatakan “laik sehat” dengan nilai 675, sementara untuk tingkat kepuasan wisatawan diketahui yang sangat puas sebanyak 1 responden (1 %); puas, sebanyak 8 responden (8 %), cukup pu-as, sebanyak 51 responden (51 %); tidak puas, sebanyak 40 responden (40 %); dan tidak ada yang sangat tidak puas. Kondisi sarana sanitasi yang laik sehat akan meningkatkan kepuasan wisatawan yang berkunjunga ke pantai tersebut.
Kata Kunci : sarana sanitasi, sanitasi tempat wisata, kepuasan wisatawan

Full Text

Bibliografi : Jurnal Sanitasi Vol. 8, No. 2, Hal.64-72, Edisi November 2016

Post On : 2 November 2016

EFEKTIVITAS APLIKASI LARVASIDA TEMEPHOS 1 % SISTEM MEMBRAN DAN SISTEM TABUR TERHADAP LARVA Aedes sp

Dina Merlynaningrum*, Sardjito Eko Windarso**, Indah Werdiningsih**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: dinanerlynaningrum@gmail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
Dengue haemorrhagic fever is a dangerous disease because may lead to death within a relati-vely short time. The disease is caused by dengue virus that enters human body through the bite of Aedes sp mosquitoes. DHF prevention activity is done by sowing larvicidal granule in water reservoirs that are difficult to clean. Larvicide that is often used by people to eradicate Aedes sp larvae is abate (temephos 1 %). The purpose of this study is to determine the effectiveness of the larvicide application of temephos 1 % with membrane system using paris fabric, compared with the sowing system. The type of the research was an experiment employing post-test with control group design. The sample size of Aedes sp larvae was 1350 in the form of instar III and IV larvae or aged 4-6 days after hatching. The calculation of larvae mortality was conducted af-ter 24 hours contact with temephos 1 % and was performed every two weeks in three months. The data obtained were analysed by using independent t-test at 95 % of confidence level. The results show that the mean mortality percentage due to the application of temephos 1 % with membrane system at bi-weekly observation (first to sixth) were 100 %, 94 %, 80 %, 68 %, 35 %, and 23 %, respectively; while the results from the sowing system as comparative positive control were 100 %, 86 % , 37 %, 23 %, 12 %, and 6 %, respectively. Descriptively, based on the graph of larvae mortality difference, it can be concluded that membrane system application is more effective than the sowing system. However, statistical analysis toward the mortality data of the bi-weekly observation from the first to the sixth found that the percentage difference is not significant (p-value = 0,298).
Keywords : dengue haemorrhagic fever, Aedes sp larvae, larvicide, temephos 1 %,
membrane system application, sowing system application
Intisari
Penyakit demam berdarah dengue merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menye-babkan kematian dalam waktu relatif singkat. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes sp. Kegiatan pencegahan pe-nyakit DBD yang dilakukan di antaranya adalah dengan menabur bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Larvasida yang sering digunakan oleh masyarakat abate (temephos 1 %). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas aplikasi larvasida temephos 1 % menggunakan sistem membran dengan kain paris yang dibandingkan dengan sistem tabur. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan post-test with control group. Sampel larva Aedes sp adalah instar III dan IV atau berumur 4-6 hari se-telah penetasan telur sebanyak 1350 ekor secara keseluruhan. Perhitungan kematian larva di-lakukan setelah 24 jam kontak dengan temephos 1 % yang dilakukan setiap dua minggu sekali selama tiga bulan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t-test bebas dengan derajat kepercayaan 95 %. Hasil memperlihatkan bahwa rerata persentase kematian larva Aedes sp akibat aplikasi larvasida temephos 1 % dengan sistem membran, pada pengamatan dua ming-gu pertama sampai ke enam, secara berturut-turut adalah: 100 %, 94 %, 80 %, 68 %, 35 %, dan 23 %; sedangkan pada aplikasi sistem tabur sebagai kontrol positif adalah 100 %, 86 %, 37 %, 23 %, 12 %, dan 6 %. Secara deskriptif berdasarkan grafik perbedaan kematian larva dapat disimpulkan bahwa aplikasi sistem membran lebih efektif dibandingkan dengan sistem tabur. Namun demikian, analisis statistik terhadap data kematian pada pengamatan dua ming-gu yang pertama hingga ke-enam, menunjukkan bahwa perbedaan persentase rata-rata kema-tian larva Aedes sp dari kedua jenis aplikasi tersebut tidaklah bermakna (nilai p = 0,298).
Kata Kunci : demam berdarah dengue, larva Aedes sp., larvasida, temephos 1 %,
aplikasi sistem membran, aplikasi sistem tabur

Full Text

Bibliografi : Jurnal Sanitasi Vol. 7, No. 3, Hal. 117-124, Edisi Februari 2016

Post On : 2 Februari 2016

KOMPOSISI KERTAS BEKAS DAN KULIT KACANG TANAH DALAM PEMBUATAN KERTAS DAUR ULANG

Retno Arif Utami*, Haryono**, Indah Werdiningsih**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: retno_arifutami@yahoo.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
One of environmental issues that still a problem is waste. One of the waste sources is rempeyek industry in Pelem Madu, Imogiri, Bantul, Yogyakarta Province that produces solid waste in the form of peanut shells and has not yet been processed adequately. Peanut shells contain of 63,5 % cellulose which can be used as additional component in paper recycling process. The purpose of this research was to know the effect of five composition ratio of peanut shells towards the tensile strength and water absorption of the recycled papers, by conducting an experiment which followed post test only with control group design. From the measurement of paper tensile strength, the averages from five times replication for each composition ratio between used pa-pers and peanut shells (i.e. ,1:0,5; 1:1,0; 1:1,5; 1:2,0; and 1:25) were: 0,519 N/mm; 0,751 N/mm; 0,777 N/mm; 0,905 N/mm and 1,118 N/mm, consecutively. Meanwhile, the obtained means from water absorption test for the same composition ratios, were: 71,4 mm; 72,2 mm; 72,8 mm; 65,2 mm and 57,2 mm, respectively. The One Way Anova test at 0,05 level of significance, yielded a p value < 0,001 which means that the composition ratio variation significantly influenced the tensile strength and the water absorption of the yielded papers. The best composition ratio for both parameters is 1:2,5 and it can be concluded that the more peanut shells were added to the process, the produced paper will gain the higher tensile strength and the more able to reduce water absorption.
Keywords : peanut shells, paper recycling, paper tensile strength, water absorption power
Intisari
Salah satu masalah lingkungan yang masih menjadi persoalan adalah sampah. Salah satu sum-ber sampah yaitu industri rempeyek di Dusun Pelem Madu, Imogiri, Bantul, DIY, yang meng-hasilkan limbah padat berupa kulit kacang tanah dan belum dilakukan pengolahan secara maksi-mal. Kulit kacang tanah memiliki 63,5 % selulosa yang dapat digunakan sebagai komponen tambahan dalam proses daur ulang kertas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari lima perbandingan komposisi kulit kacang tanah dalam proses daur ulang kertas terhadap kuat tarik dan daya serap air dari kertas yang dihasilkan. Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimen dengan desain post test only with control group. Hasil pengukuran uji kuat tarik, dari lima kali ulangan, secara berturut-turut diperoleh rerata sebesar 0,519 N/mm; 0,751 N/mm; 0,777 N/mm; 0,905 N/mm dan 1,118 N/mm, untuk masing-masing perbandingan komposisi antara kertas bekas dan kulit kacang tanah 1:0,5; 1:1,0; 1:1,5; 1:2,0; dan 1:2,5. Adapun untuk hasil pengukuran uji daya serap air, diperoleh rata-rata untuk masing-masing komposisi tersebut sebesar 71,4 mm; 72,2 mm; 72,8 mm; 65,2 mm dan 57,2 mm. Dari hasil uji statistik One Way Anova dengan derajat signifikansi 0,05, diperoleh nilai p < 0,001, yang berarti bahwa variasi perbandingan komposisi kulit kacang tanah mempengaruhi kuat tarik dan daya serap air dari kertas hasil daur ulang. Perbandingan komposisi yang paling baik bagi kedua parameter pe-ngukuran di atas adalah 1:2,5. Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kulit kacang tanah yang ditambahkan, maka kertas yang dihasilkan akan semakin tinggi kuat tariknya dan semakin mampu mengurangi penyerapan air.
Kata Kunci : kulit kacang tanah, daur ulang kertas, kuat tarik kertas, daya serap air

Full Text

Bibliografi : Jurnal Sanitasi Vol. 7, No. 1, hAL. 26-35, Edisi Agustus 2015

Post On : 2 Agustus 2015

PENGARUH PENGEMBANGAN KLINIK SANITASI PUSKESMAS MINGGIR TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN MUTU LINGKUNGAN RUMAH PASIEN

PENGARUH PENGEMBANGAN KLINIK SANITASI PUSKESMAS MINGGIR
TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN
DAN MUTU LINGKUNGAN RUMAH PASIEN
Siti Maryati*, Muryoto**, Indah Werdiningsih***
* Puskesmas Minggir, Kabupaten Sleman, Propinsi D.I. Yogyakarta
email: cythus20@yahoo.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Gamping, Sleman, DIY 55293
*** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
Eventhough the prevention efforts for communicable diseases through sanitation clinic has been implemented for a long time, it is still not optimal. As an example, the average number of patients in a month who come for counseling in the sanitation clinic of the Community Health Center (Puskesmas) of Minggir is only four. Meanwhile, in 2011, at the same puskesmas, the number of cases of communicable diseases such as diarrhoea, acure respiratory infection (ARI) and de-ngue haemorrhagic fever (DHF) were still found at high level. Therefore, it is argued that the existing sanitation clinic should be more developed. The study was aimed to know whether the knowledge and the quality of house condition of the patients as well as the revenue of sanitation clinic can be increased by developing the activity of the sanitation clinic itself, by conducting a pre-experiment study which employed one group pre-test and post-test design. The number of sample size was 36 people, which were consisted of 20 diarrhoea patients, 15 ARI patients and 20 DHF patient with his neighbours. The collection of pre-test and post-test data were separated by the activity of the counseling and home visit whose purpose was to improve the environ-mental condition of the patients, by means of chlorine diffuser installation and fly sticker appli-cation, for diarrhoea cases; advice of avoiding smoke from kitchen and the rearrangement of ventilation, for ARI cases; and the distribution of Abate and mosquito trap installation, for DHF cases. Statistical examination on the data by using t-test at 95 % significancy level showed that the counseling raised the knowledge of patients of the environmentally based diseases, and the home visit could also improving the quality of patients’ houses, which was indicated by the re-duction of the MPN E. Coli, the fly density and the ovitrap index. In addition, the increase of re-venue from the sanitation clinic was influenced, as well.
Keywords : sanitation clinic, sanitation counselling, home visit, environmental based diseases
Intisari
Upaya pencegahan penyakit menular melalui upaya klinik sanitasi telah berlangsung lama, akan tetapi dalam pelaksanaannya masih belum optimal. Sebagai contoh, jumlah pasien yang datang untuk konseling di ruang klinik sanitasi Puskesmas Minggir rata-rata hanya empat orang setiap bulan. Sementara itu, data penderita penyakit menular di wilayah kerja puskesmas tersebut pa-da tahun 2011 masih menunjukkan jumlah yang tinggi, sehingga klinik sanitasi yang ada masih perlu dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengetahuan pasien, ku-alitas lingkungan rumah pasien dan pendapatan klinik sanitasi dapat meningkat dikaitkan de-ngan upaya pengembangan klinik sanitasi tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah pra eksperimen dengan menggunakan desain one group pre test and post test. Sampel penelitian berjumlah 36 orang yang terdiri dari 20 orang pasien diare, 15 orang pasien ISPA dan 20 orang pasien DBD beserta tetangganya. Pengambilan data pre-test dan post-test dipisahkan oleh pemberian konseling dan kunjungan rumah untuk upaya perbaikan kualitas lingkungan, yang terdiri dari pemasangan chlorine diffuser dan lem lalat pada penderita diare, serta anjuran untuk menghindari asap dapur dan pengaturan ventilasi pada penderita ISPA, dan pemberian Abate dan pemasangan perangkap nyamuk pada penderita DBD. Pengujian secara statistik terhadap data penelitian dengan menggunakan t-test pada tingkat kepercayaan 95 %, menunjukkan bah-wa pemberian konseling dapat meningkatkan pengetahuan pasien penderita penyakit berbasis lingkungan, dan kunjungan ke rumah juga dapat memperbaiki kualitas lingkungan rumah pen-derita, yang terlihat dari menurunnya angka MPN E. Coli, kepadatan lalat, dan ovitrap index. Di smaping itu, terlihat juga bahwa pendapatan klinik sanitasi turut meningkat.
Kata Kunci : klinik sanitasi, konseling sanitasi, kunjungan rumah, penyakit berbasis lingkungan

Full Text

Bibliografi : Jurnal Sanitasi Vol. 4, No.4, Hal. 179-191, Edisi Mei 2013, ISSN, 1978-5763 penerbit JKL Poltekkes Yk.

Post On : 2 Mei 2013

PENGAWETAN DENGAN ASAM SITRAT EKSTRAK DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix D. C) UNTUK MEMPERBAIKI UMUR SIMPAN DAGING AYAM SEGAR

Jantri Nyama Yanti*, Muryoto**, Indah Werdiningsih***
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: jantri_maya@yahoo.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
*** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
Chicken meat is one of perishable foods because of its high protein and water content. There-fore, the addition of food preserving ingredient to extend the preservation time become frequent. In this context, the use of natural ingredient is more advised, one of which is the leaves of citrus hystric or jeruk purut (indonesian). The study was aimed to understand the effect of the addition of different various dose of citric acid which is extracted from citrus hystric leaves towards the preserving time of fresh chicken/broiler meat by conducting an experiment which employed post test only with control group design. The preserving time were determined based on the organo-leptic score gained from color, odor and texture changing observed by ten housewives who were assigned as the panelists. The observation were conducted in three replications. The results showed that the preserving time yielded among the three dose variation of citric acid, i.e. 2 %, 4 % and 6 % were significantly different, and the 2 % dose was the best in improving the preser-ving time, i.e. 15,33 hours in average, compared with only 6,83 hours obtained from the control chicken meat.
Keywords : chicken meat preservation, preserving time, citric acid, citrus hystric leaves
Intisari
Daging ayam adalah salah satu makanan yang mudah rusak karena mengandung protein dan kadar air yang tinggi. Oleh karena itu, penambahan bahan pengawet untuk memperpanjang umur simpan sering dilakukan. Dalam hal ini, penggunaan bahan yang alami lebih dianjurkan, salah satunya adalah daun jeruk purut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penam-bahan variasi dosis asam sitrat yang diekstrasi dari daun jeruk purut terhadap umur simpan daging ayam ras melalui penelitian eksperimen dengan desain post test only with control group. Umur simpan ayam ditentukan dengan mengacu pada skor organoleptik dari perubahan para-meter warna, bau dan tekstur yang diamati oleh sepuluh orang ibu rumah tangga panelis, yang dilakukan dalam tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur simpan daging ayam di antara tiga variasi dosis penambahan pengawet ekstrak daun jeruk purut yang diguna-kan, yaitu 2 %, 4 % dan 6 %, berbeda secara bermakna dan dosis 2 % adalah yang terbaik da-lam meperbaiki umur simpan yaitu rerata selama 15,33 jam dibanding dengan 6,83 jam pada daging ayam kontrol.
Kata Kunci : pengawetan daging ayam, umur simpan, asam sitrat, daun jeruk purut

Full Text

Bibliografi : Jurnal Sanitasi Vol. 4, No.3, Hal. 109-116, Edisi Februari 2013, ISSN, 1978-5763 penerbit JKL Poltekkes Yk.

Post On : 02 Februari 2013