EVALUASI KONDISI SARANA SANITASI YANG DISEDIAKAN DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA DAN TINGKAT KEPUASAN WISATAWAN PANTAI DEPOK, BANTUL, YOGYAKARTA, TAHUN 2016

Layly Aslinda Saraswati*, Indah Werdiningsih**, Purwanto**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: laylyaslinda21@gmail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
The degree of community health can be affected by environmental and human factors. Environ-mental health efforts are aimed to create a quality of healthy environment through the application of public place sanitation, one of which is to provide sanitation facilities in tourism spots. Accord-ing to the preliminary test, various problems regarding to the condition of sanitation facilities and the satisfaction level of tourists were found in Depok Beach of Bantul. The purpose of this study was to determine the condition of the sanitation facilities provided by the Office of Culture and Tourism on that beach as well as the tourists’ satisfaction. This study used survey method with cross sectional design and the results were analyzed descriptively. There were 100 tourists se-lected as the respondents and the instrument used to collect the data was the sanitation inspect-ion questionnaire. Based on the questionnaire, the sanitation condition will be declared ”healthy worthy” if gain minimum score of 650, out of the 1000 maximum score. The results showed that the sanitation condition in Depok Beach is deserve to have “healthy worthy” level since gaining a score of 675. The results also found that the number of tourists who very satisfied with the condi-tion was 1 respondent 91 %); satisfied, 8 respondents (8 %); fairly satisfied, 51 respondents (51 %); not satisfied, 40 respondents (40 %); and none who is very dissatisfied. The condition of sa-nitation facilities in the beach that “healthy worthy” will increase customer satisfaction.
Keywords : sanitation facility, sanitation of tourism spot, tourists’ satisfaction rating
Intisari
Derajat kesehatan manusia dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan manusia itu sendiri. Upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat me-lalui penerapan sanitasi tempat-tempat umum, salah satunya sanitasi tempat wisata. Berdasar-kan uji pendahuluan diketahui ada permasalahan kondisi sarana sanitasi dan tingkat kepuasan wisatawan di Pantai Depok Bantul. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi sarana-sarana sanitasi yang disediakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di pantai tersebut dan tingkat kepuasan wisatawan. Penelitian ini menggunakan metoda survei dengan desain cross sectional yang hasilnya dianalisis secara deskriptif. Ada 100 orang wisatawan yang dipilih menjadi respon-den, sementara instrumen yang digunakan adalah kuesioner inspeksi sanitasi yang menyatakan sarana sanitasi memenuhi kriteria laik sehat jika memperoleh nilai minimal 650 dari nilai masimal 1000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sarana sanitasi di Pantai Depok Bantul di-nyatakan “laik sehat” dengan nilai 675, sementara untuk tingkat kepuasan wisatawan diketahui yang sangat puas sebanyak 1 responden (1 %); puas, sebanyak 8 responden (8 %), cukup pu-as, sebanyak 51 responden (51 %); tidak puas, sebanyak 40 responden (40 %); dan tidak ada yang sangat tidak puas. Kondisi sarana sanitasi yang laik sehat akan meningkatkan kepuasan wisatawan yang berkunjunga ke pantai tersebut.
Kata Kunci : sarana sanitasi, sanitasi tempat wisata, kepuasan wisatawan

Full Text

Bibliografi : Jurnal Sanitasi Vol. 8, No. 2, Hal.64-72, Edisi November 2016

Post On : 2 November 2016

EFEKTIVITAS APLIKASI LARVASIDA TEMEPHOS 1 % SISTEM MEMBRAN DAN SISTEM TABUR TERHADAP LARVA Aedes sp

Dina Merlynaningrum*, Sardjito Eko Windarso**, Indah Werdiningsih**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: dinanerlynaningrum@gmail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
Dengue haemorrhagic fever is a dangerous disease because may lead to death within a relati-vely short time. The disease is caused by dengue virus that enters human body through the bite of Aedes sp mosquitoes. DHF prevention activity is done by sowing larvicidal granule in water reservoirs that are difficult to clean. Larvicide that is often used by people to eradicate Aedes sp larvae is abate (temephos 1 %). The purpose of this study is to determine the effectiveness of the larvicide application of temephos 1 % with membrane system using paris fabric, compared with the sowing system. The type of the research was an experiment employing post-test with control group design. The sample size of Aedes sp larvae was 1350 in the form of instar III and IV larvae or aged 4-6 days after hatching. The calculation of larvae mortality was conducted af-ter 24 hours contact with temephos 1 % and was performed every two weeks in three months. The data obtained were analysed by using independent t-test at 95 % of confidence level. The results show that the mean mortality percentage due to the application of temephos 1 % with membrane system at bi-weekly observation (first to sixth) were 100 %, 94 %, 80 %, 68 %, 35 %, and 23 %, respectively; while the results from the sowing system as comparative positive control were 100 %, 86 % , 37 %, 23 %, 12 %, and 6 %, respectively. Descriptively, based on the graph of larvae mortality difference, it can be concluded that membrane system application is more effective than the sowing system. However, statistical analysis toward the mortality data of the bi-weekly observation from the first to the sixth found that the percentage difference is not significant (p-value = 0,298).
Keywords : dengue haemorrhagic fever, Aedes sp larvae, larvicide, temephos 1 %,
membrane system application, sowing system application
Intisari
Penyakit demam berdarah dengue merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menye-babkan kematian dalam waktu relatif singkat. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes sp. Kegiatan pencegahan pe-nyakit DBD yang dilakukan di antaranya adalah dengan menabur bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Larvasida yang sering digunakan oleh masyarakat abate (temephos 1 %). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas aplikasi larvasida temephos 1 % menggunakan sistem membran dengan kain paris yang dibandingkan dengan sistem tabur. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan post-test with control group. Sampel larva Aedes sp adalah instar III dan IV atau berumur 4-6 hari se-telah penetasan telur sebanyak 1350 ekor secara keseluruhan. Perhitungan kematian larva di-lakukan setelah 24 jam kontak dengan temephos 1 % yang dilakukan setiap dua minggu sekali selama tiga bulan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t-test bebas dengan derajat kepercayaan 95 %. Hasil memperlihatkan bahwa rerata persentase kematian larva Aedes sp akibat aplikasi larvasida temephos 1 % dengan sistem membran, pada pengamatan dua ming-gu pertama sampai ke enam, secara berturut-turut adalah: 100 %, 94 %, 80 %, 68 %, 35 %, dan 23 %; sedangkan pada aplikasi sistem tabur sebagai kontrol positif adalah 100 %, 86 %, 37 %, 23 %, 12 %, dan 6 %. Secara deskriptif berdasarkan grafik perbedaan kematian larva dapat disimpulkan bahwa aplikasi sistem membran lebih efektif dibandingkan dengan sistem tabur. Namun demikian, analisis statistik terhadap data kematian pada pengamatan dua ming-gu yang pertama hingga ke-enam, menunjukkan bahwa perbedaan persentase rata-rata kema-tian larva Aedes sp dari kedua jenis aplikasi tersebut tidaklah bermakna (nilai p = 0,298).
Kata Kunci : demam berdarah dengue, larva Aedes sp., larvasida, temephos 1 %,
aplikasi sistem membran, aplikasi sistem tabur

Full Text

Bibliografi : Jurnal Sanitasi Vol. 7, No. 3, Hal. 117-124, Edisi Februari 2016

Post On : 2 Februari 2016

KOMPOSISI KERTAS BEKAS DAN KULIT KACANG TANAH DALAM PEMBUATAN KERTAS DAUR ULANG

Retno Arif Utami*, Haryono**, Indah Werdiningsih**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: retno_arifutami@yahoo.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
One of environmental issues that still a problem is waste. One of the waste sources is rempeyek industry in Pelem Madu, Imogiri, Bantul, Yogyakarta Province that produces solid waste in the form of peanut shells and has not yet been processed adequately. Peanut shells contain of 63,5 % cellulose which can be used as additional component in paper recycling process. The purpose of this research was to know the effect of five composition ratio of peanut shells towards the tensile strength and water absorption of the recycled papers, by conducting an experiment which followed post test only with control group design. From the measurement of paper tensile strength, the averages from five times replication for each composition ratio between used pa-pers and peanut shells (i.e. ,1:0,5; 1:1,0; 1:1,5; 1:2,0; and 1:25) were: 0,519 N/mm; 0,751 N/mm; 0,777 N/mm; 0,905 N/mm and 1,118 N/mm, consecutively. Meanwhile, the obtained means from water absorption test for the same composition ratios, were: 71,4 mm; 72,2 mm; 72,8 mm; 65,2 mm and 57,2 mm, respectively. The One Way Anova test at 0,05 level of significance, yielded a p value < 0,001 which means that the composition ratio variation significantly influenced the tensile strength and the water absorption of the yielded papers. The best composition ratio for both parameters is 1:2,5 and it can be concluded that the more peanut shells were added to the process, the produced paper will gain the higher tensile strength and the more able to reduce water absorption.
Keywords : peanut shells, paper recycling, paper tensile strength, water absorption power
Intisari
Salah satu masalah lingkungan yang masih menjadi persoalan adalah sampah. Salah satu sum-ber sampah yaitu industri rempeyek di Dusun Pelem Madu, Imogiri, Bantul, DIY, yang meng-hasilkan limbah padat berupa kulit kacang tanah dan belum dilakukan pengolahan secara maksi-mal. Kulit kacang tanah memiliki 63,5 % selulosa yang dapat digunakan sebagai komponen tambahan dalam proses daur ulang kertas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari lima perbandingan komposisi kulit kacang tanah dalam proses daur ulang kertas terhadap kuat tarik dan daya serap air dari kertas yang dihasilkan. Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimen dengan desain post test only with control group. Hasil pengukuran uji kuat tarik, dari lima kali ulangan, secara berturut-turut diperoleh rerata sebesar 0,519 N/mm; 0,751 N/mm; 0,777 N/mm; 0,905 N/mm dan 1,118 N/mm, untuk masing-masing perbandingan komposisi antara kertas bekas dan kulit kacang tanah 1:0,5; 1:1,0; 1:1,5; 1:2,0; dan 1:2,5. Adapun untuk hasil pengukuran uji daya serap air, diperoleh rata-rata untuk masing-masing komposisi tersebut sebesar 71,4 mm; 72,2 mm; 72,8 mm; 65,2 mm dan 57,2 mm. Dari hasil uji statistik One Way Anova dengan derajat signifikansi 0,05, diperoleh nilai p < 0,001, yang berarti bahwa variasi perbandingan komposisi kulit kacang tanah mempengaruhi kuat tarik dan daya serap air dari kertas hasil daur ulang. Perbandingan komposisi yang paling baik bagi kedua parameter pe-ngukuran di atas adalah 1:2,5. Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kulit kacang tanah yang ditambahkan, maka kertas yang dihasilkan akan semakin tinggi kuat tariknya dan semakin mampu mengurangi penyerapan air.
Kata Kunci : kulit kacang tanah, daur ulang kertas, kuat tarik kertas, daya serap air

Full Text

Bibliografi : Jurnal Sanitasi Vol. 7, No. 1, hAL. 26-35, Edisi Agustus 2015

Post On : 2 Agustus 2015

PENGARUH PENGEMBANGAN KLINIK SANITASI PUSKESMAS MINGGIR TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN MUTU LINGKUNGAN RUMAH PASIEN

PENGARUH PENGEMBANGAN KLINIK SANITASI PUSKESMAS MINGGIR
TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN
DAN MUTU LINGKUNGAN RUMAH PASIEN
Siti Maryati*, Muryoto**, Indah Werdiningsih***
* Puskesmas Minggir, Kabupaten Sleman, Propinsi D.I. Yogyakarta
email: cythus20@yahoo.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Gamping, Sleman, DIY 55293
*** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
Eventhough the prevention efforts for communicable diseases through sanitation clinic has been implemented for a long time, it is still not optimal. As an example, the average number of patients in a month who come for counseling in the sanitation clinic of the Community Health Center (Puskesmas) of Minggir is only four. Meanwhile, in 2011, at the same puskesmas, the number of cases of communicable diseases such as diarrhoea, acure respiratory infection (ARI) and de-ngue haemorrhagic fever (DHF) were still found at high level. Therefore, it is argued that the existing sanitation clinic should be more developed. The study was aimed to know whether the knowledge and the quality of house condition of the patients as well as the revenue of sanitation clinic can be increased by developing the activity of the sanitation clinic itself, by conducting a pre-experiment study which employed one group pre-test and post-test design. The number of sample size was 36 people, which were consisted of 20 diarrhoea patients, 15 ARI patients and 20 DHF patient with his neighbours. The collection of pre-test and post-test data were separated by the activity of the counseling and home visit whose purpose was to improve the environ-mental condition of the patients, by means of chlorine diffuser installation and fly sticker appli-cation, for diarrhoea cases; advice of avoiding smoke from kitchen and the rearrangement of ventilation, for ARI cases; and the distribution of Abate and mosquito trap installation, for DHF cases. Statistical examination on the data by using t-test at 95 % significancy level showed that the counseling raised the knowledge of patients of the environmentally based diseases, and the home visit could also improving the quality of patients’ houses, which was indicated by the re-duction of the MPN E. Coli, the fly density and the ovitrap index. In addition, the increase of re-venue from the sanitation clinic was influenced, as well.
Keywords : sanitation clinic, sanitation counselling, home visit, environmental based diseases
Intisari
Upaya pencegahan penyakit menular melalui upaya klinik sanitasi telah berlangsung lama, akan tetapi dalam pelaksanaannya masih belum optimal. Sebagai contoh, jumlah pasien yang datang untuk konseling di ruang klinik sanitasi Puskesmas Minggir rata-rata hanya empat orang setiap bulan. Sementara itu, data penderita penyakit menular di wilayah kerja puskesmas tersebut pa-da tahun 2011 masih menunjukkan jumlah yang tinggi, sehingga klinik sanitasi yang ada masih perlu dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengetahuan pasien, ku-alitas lingkungan rumah pasien dan pendapatan klinik sanitasi dapat meningkat dikaitkan de-ngan upaya pengembangan klinik sanitasi tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah pra eksperimen dengan menggunakan desain one group pre test and post test. Sampel penelitian berjumlah 36 orang yang terdiri dari 20 orang pasien diare, 15 orang pasien ISPA dan 20 orang pasien DBD beserta tetangganya. Pengambilan data pre-test dan post-test dipisahkan oleh pemberian konseling dan kunjungan rumah untuk upaya perbaikan kualitas lingkungan, yang terdiri dari pemasangan chlorine diffuser dan lem lalat pada penderita diare, serta anjuran untuk menghindari asap dapur dan pengaturan ventilasi pada penderita ISPA, dan pemberian Abate dan pemasangan perangkap nyamuk pada penderita DBD. Pengujian secara statistik terhadap data penelitian dengan menggunakan t-test pada tingkat kepercayaan 95 %, menunjukkan bah-wa pemberian konseling dapat meningkatkan pengetahuan pasien penderita penyakit berbasis lingkungan, dan kunjungan ke rumah juga dapat memperbaiki kualitas lingkungan rumah pen-derita, yang terlihat dari menurunnya angka MPN E. Coli, kepadatan lalat, dan ovitrap index. Di smaping itu, terlihat juga bahwa pendapatan klinik sanitasi turut meningkat.
Kata Kunci : klinik sanitasi, konseling sanitasi, kunjungan rumah, penyakit berbasis lingkungan

Full Text

Bibliografi : Jurnal Sanitasi Vol. 4, No.4, Hal. 179-191, Edisi Mei 2013, ISSN, 1978-5763 penerbit JKL Poltekkes Yk.

Post On : 2 Mei 2013

PENGAWETAN DENGAN ASAM SITRAT EKSTRAK DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix D. C) UNTUK MEMPERBAIKI UMUR SIMPAN DAGING AYAM SEGAR

Jantri Nyama Yanti*, Muryoto**, Indah Werdiningsih***
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: jantri_maya@yahoo.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
*** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
Chicken meat is one of perishable foods because of its high protein and water content. There-fore, the addition of food preserving ingredient to extend the preservation time become frequent. In this context, the use of natural ingredient is more advised, one of which is the leaves of citrus hystric or jeruk purut (indonesian). The study was aimed to understand the effect of the addition of different various dose of citric acid which is extracted from citrus hystric leaves towards the preserving time of fresh chicken/broiler meat by conducting an experiment which employed post test only with control group design. The preserving time were determined based on the organo-leptic score gained from color, odor and texture changing observed by ten housewives who were assigned as the panelists. The observation were conducted in three replications. The results showed that the preserving time yielded among the three dose variation of citric acid, i.e. 2 %, 4 % and 6 % were significantly different, and the 2 % dose was the best in improving the preser-ving time, i.e. 15,33 hours in average, compared with only 6,83 hours obtained from the control chicken meat.
Keywords : chicken meat preservation, preserving time, citric acid, citrus hystric leaves
Intisari
Daging ayam adalah salah satu makanan yang mudah rusak karena mengandung protein dan kadar air yang tinggi. Oleh karena itu, penambahan bahan pengawet untuk memperpanjang umur simpan sering dilakukan. Dalam hal ini, penggunaan bahan yang alami lebih dianjurkan, salah satunya adalah daun jeruk purut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penam-bahan variasi dosis asam sitrat yang diekstrasi dari daun jeruk purut terhadap umur simpan daging ayam ras melalui penelitian eksperimen dengan desain post test only with control group. Umur simpan ayam ditentukan dengan mengacu pada skor organoleptik dari perubahan para-meter warna, bau dan tekstur yang diamati oleh sepuluh orang ibu rumah tangga panelis, yang dilakukan dalam tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur simpan daging ayam di antara tiga variasi dosis penambahan pengawet ekstrak daun jeruk purut yang diguna-kan, yaitu 2 %, 4 % dan 6 %, berbeda secara bermakna dan dosis 2 % adalah yang terbaik da-lam meperbaiki umur simpan yaitu rerata selama 15,33 jam dibanding dengan 6,83 jam pada daging ayam kontrol.
Kata Kunci : pengawetan daging ayam, umur simpan, asam sitrat, daun jeruk purut

Full Text

Bibliografi : Jurnal Sanitasi Vol. 4, No.3, Hal. 109-116, Edisi Februari 2013, ISSN, 1978-5763 penerbit JKL Poltekkes Yk.

Post On : 02 Februari 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEMBUHAN PENDERITA BARU TB BTA POSITIF DI KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2011

Ana Susanti*, Tuntas Bagyono**, Bambang Suwerda***

* Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Jl. Kenari No.56 Yogyakarta
email: ummu_mahmudah72@yahoo.co.id
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Gamping, Sleman, DIY 55293
*** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
WHO declared tuberculosis (TB) as global emergency. In 2004, TB cases in Indonesia was esti-mated as much as 539.000 with 140.000 death every year. Based on the evaluation of the im-plementation of TB controlling program, in Yogyakarta City in 2011, two of national indicators had been achieved, i.e. Case Detection Rate and Error Rate. Meanwhile, several factors were suspected as the cause of the fail of the Recovery Rate and the Conversion Rate met the nation-al targets. This study was aimed to analyze factors related with the recovery of new positive BTA cases in Yogyakarta City by conducting survey which followed cross sectional design. As the respondents were 60 new cases of the post-medication program derived from 18 puskesmas throughout the city and sampled by using proportional cluster random sampling method. Data were collected by conducting interview, observation and measurement. Univariate, bivariate and multivariate analysis were employed to reveal the dominant factors. Bivariate analysis of Odds Ratio found that among the observed variables, house illumination and medication compliance were correlated significantly with the recovery of new cases. However, advanced multvariate analysis by conducting logistic regression test only found the medication compliance as the do-minant factor.
Keywords : TB recovery, positive BTA, house illumination, medication compliance
Intisari
WHO mencanangkan penyakit tuberkulosis (TB) sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Pada tahun 2004, jumlah penderita TB di Indonesia diperkirakan sebanyak 539.000 orang dengan 140.000 kematian setiap tahunnya. Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program penanggulangan TB di Kota Yogyakarta pada tahun 2011, indikator nasional untuk program TB yang telah dicapai adalah Case Detection Rate (penemuan kasus/penderita TB) dan Error Rate, sedangkan untuk angka kesembuhan dan angka konversi belum memenuhi target. Beberapa faktor kemungkinan menyebabkan belum tercapainya kesembuhan sesuai target nasional ter-sebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kesembuhan penderita baru TB BTA positif di Kota Yogyakarta pada tahun 2011 dengan meng-gunakan penelitian survey dengan rancangan cross sectional. Responden sejumlah 60 orang penderita baru TB BTA positif yang sudah menjalani pengobatan yang tersebar di 18 puskesmas diambil dengan metoda proportional cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan pengukuran. Data selanjutnya dianalisis secara uni-variat, bivariat dan multivariat. Hasil analisis bivariat dengan Odds Ratio menunjukkan bahwa di antara variabel yang diteliti, pencahayaan rumah dan keteraturan minum obat berhubungan secara signifikan dengan kesembuhan penderita. Namun uji lanjutan dengan regresi logistik me-nemukan bahwa hanya kepatuhan minum obatlah yang paling dominan berhubungan dengan kesembuhan penderita.
Kata Kunci : kesembuhan TB, BTA positif, pencahayaan rumah, kepatuhan minum obat

Full Text

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.4, No.2, November 2012, Hal 51-63

Post on : 2 November 2012

PENGARUH BERBAGAI VARIASI VOLUME MINYAK GORENG BEKAS TERHADAP STANDAR MUTU DETERJEN CUCI CAIR

Dwi Rahma Wati*, Bambang Suwerda**, Rizki Amalia**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: violetanra@yahoo.co.id
**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract
Cooking oil is a food ingredient that is used for daily needs. The re-use of cooking oil for many times is highly not suggested since it may lead to harm human health and pollute the environ-ment. One of efforts to process used cooking oil is to utilize it as base material in liquid detergent making. The purpose of the study was to know the influence of different volume variation of used cooking oil (i.e. 50, ml, 55 ml and 60 ml) toward the quality standard of the detergent yielded, referred to the SNI. The study was a pre-experiment with post-test only design and conducted in three replications. The laboratory measuremnet and panel test, showed that all of the liquid wa-shing detergent produced had fullfiled the standard parameter that consists of: homogenous liquid formation and can dripping, has perfume fragrance, has no-striking color, pH between 10-12, minimum active ingredient 25 %, specific weight between 1,2-1,5; and maximum microbe contamination 1×105. Results of subsequent statistical analysis using kruskal-wallis test at 5% signifcany level showed that the quality of all detergent yielded from the experiment were not significantly different, and 50 ml was decided as the most effective volume of the used cooking oil.
Keywords : liquid washing detergent, used cooking oil
Intisari
Minyak goreng adalah komponen makanan yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Peng-gunaan ulang minyak tidak disarankan karena dapat menimbulkan gangguan bagi kesehatan manusia dan mencemari lingkungan. Salah satu upaya untuk mengolah minyak goreng bekas adalah menjadikannya sebagai bahan pembuatan deterjen cair. Tujuan penelitian ini adalah un-tuk mengetahui pengaruh tiga variasi volume minyak goreng bekas (yaitu 50 l, 55 ml dan 60 ml) terhadap standar mutu dari deterjen cair yang dihasilkan dengan mengacu pada SNI. Penelitian yang dlakukan berjenis pre-eksperimen dengan mengikuti post-test only design dan terdiri dari tiga kali ulangan. Hasil pemeriksaan laboratorium dan uji panel, menyatakan bahwa semua de-terjen cuci cair yang dihasilkan telah memenuhi standar mutu yang diacu, yaitu meliputi: ber-bentuk cair homogen dan dapat menetes, berbau khas wangi parfum, berwarna khas tidak mencolok, pH antara 10-12, bahan aktif minimal 25 %, bobot jenis minimal 1,2-1,5; dan cemaran mikroba maksimal 1×105. Hasil analisis secara statistik dengan menggunakan uji kruskal-wallis pada derajat siginifikansi 5 % menyimpulkan bahwa kualitas deterjen cair yang dihasilkan tidak berbeda secara signfikan, dan volume minyak goreng bekas sebanyak 50 ml adalah yang paling efektif.
Kata Kunci : deterjen cuci cair, minyak goreng bekas

Full Text

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.1, Agustus 2014, Hal 25 – 30

Post on : 2 Agustus 2014

PEMANFAATAN Saccharomyces cereviceae DAN LIMBAH BUAH NANAS PASAR BERINGHARJO YOGYAKARTA UNTUK PEMBUATAN BIOETANOL

Sri Ayu Wahyuni*, Abdul Hadi Kadarusno**, Bambang Suwerda**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: Sriayuwahyuni18@gmail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Abstract

One of the organic waste generated from markets is pineapple waste. Parts of pineapple that can be eaten is only 53 % while the remaining 47 % were dumped as waste. The peels of pine-apple contain 13,65 % sugar, so that can be processed as bioethanol, i.e. ethanol made from biomass containing cellulose or starch component. The preliminary trial found that the fermenta-tion of pineapple waste in four days with four weight variations of Saccharomyces cereviceae obtained the highest level of bioethanol at 27,7289 %, i.e. produced from 15 gram of that yeast The purpose of this research was to know the influence of Saccharomyces cereviceae weight variation (0 %, 20 %, 40 % and 60 %) and fermentation time variation (4 days, 7 days and 10 days) toward the levels of bioethanol produced from pineapple waste of Beringharjo Market, by conducting a post-test only with control group designed experiment. The results show that the highest levels of bioethanol produced was 40,45354 %, i.e. from the use of 60 % weight of Sac-charomyces cereviceae and 10 days fermentation. However, the statistical analysis with two-way anova test at 95 % level of confidence yielded a probability value >0,05 which means that the levels of bioethanol produced from those yeast weight variation and fermentation time variation are not significantly different.
Keywords : bioethanol, Saccharomyces cereviceae, pineapple waste, fermentation

Intisari
Salah satu sampah organik yang dihasilkan dari pasar adalah limbah nanas. Bagian buah nanas yang dapat dimakan hanya sebanyak 53 % dan 47 % sisanya dibuang dan menjadi limbah. Kulit nanas yang mengandung kadar gula sebesar 13,65 % dapat dijadikan bioetanol, yaitu etanol yang terbuat dari biomassa yang mengandung komponen pati atau selulosa. Uji pendahuluan dengan memfermentasikan limbah nanas selama empat hari dengan empat variasi berat Sac-charomyces cereviceae, menghasilkan kadar bioetanol tertinggi sebesar 27,7289 % dari peng-gunaan 15 gram jenis ragi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya pengaruh variasi berat Saccharomyces cereviceae (0 %, 20 %, 40 %, dan 60 %) dan waktu fermentasi (4 hari, 7 hari dan 10 hari) terhadap kadar bioetanol yang dihasilkan dari limbah nanas Pasar Beringharjo, dengan melakukan eksperimen dengan desain penelitian post-test only with control group. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kadar bioetanol tertinggi adalah sebesar 40,45354 % yang di-peroleh dari berat Saccharomyces cereviceae 60 % dan waktu fermentasi 10 hari. Namun demi-kian, hasil analisis statistik dengan uji two-way anova pada derajat kepercayaan 95 %, mem-peroleh nilai probabilitas >0,05 yang menunjukkan tidak signifikannya perbedaan kadar bio-etanol yang terbentuk dari variasi berat Saccharomyces cereviceae dan waktu fermentasi yang digunakan.

Kata Kunci : bioetanol, Saccharomyces cereviceae, limbah nanas, fermentasi

Full Text

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.7, No.4, Mei 2016, Hal 151 – 159

Post on : 2 Mei 2016

EFEKTIFITAS BERBAGAI DOSIS BIO-SLURRY SEBAGAI BUMBU KOMPOS TERHADAP WAKTU PEMBENTUKAN DAN KUALITAS KOMPOS DI DUSUN GADINGHARJO, DONOTIRTO, KRETEK, BANTUL

Catur Bunga Novitamala*, Bambang Suwerda**, Indah Werdiningsih**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: catur.bunga@gmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 

Abstract

 

Organic waste yielded from households in Gadingharjo Village have not been yet treated pro-perly. The utilization that can be implemented is composting. One of activators that can accele-rate the processing time and improve the quality of the compost is bio-slurry. The aim of this research is to know the effectiveness of bio-slurry as compost activator by conducting a post-test-with-control-group designed experiment. The amount of domestic waste that was treated were 75 kg and were obtained with non-random sampling technique. The time of composting formation were counted from the initial process until the compost were mature, based on the following criteria: blackish brown color, soiled smells, and has environment stable temperature. The measurement of N, P, and K substance were carried on at the laboratory of BBTKL Yogya-karta. In the control group, the mean composting time was 34,7 days, meanwhile in the treat-ment groups of 1:1:2; 1:1:3 and 1:1;4 it was 25,3 days, 27,3 days, and 29,7 days. The result of one way anova test obtained p value < 0,001 which is meant that the differences were signifi-cant. The average of N, P, and K concentrations in the control group were 1,0438 %; 0,1880 %; and 1,4045 %. Meanwhile, in treatment group of 1:1:2 they were: 1,4639 %; 0,2699 %; and 1,2320 %; in treatment group of 1:1:3 they were: 1,0465 %; 0,2707 %; and 1,3154 %; and in treatment group of 1:1:4 they were: 0,8865 %; 0,2285 %; and 1,2992 %; respectively. To con-clude, bio-slurry can be used as an activator to speed-up the composting time and to improve the compost quality. The most effective bio-slurry addition is 1:1:2 ratio .

    

Keywords : bio-slurry, activator, compost, domestic organic waste, NPK

 

Intisari

 

Sampah organik rumah tangga di Dusun Gadingharjo belum terolah dengan baik. Pemanfaatan yang dapat dilakukan pada sampah tersebut adalah dengan pengomposan. Salah satu bumbu kompos yang dapat digunakan untuk mempercepat waktu proses dan meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan adalah bio-slurry. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas bio-slurry tersebut dengan melakukan eksperimen menggunakan post test with control group design. Jumlah sampah rumah tangga yang diteliti sebanyak 75 kg yang diambil dengan teknik non random sampling. Lama waktu terbentuknya kompos dihitung dari awal pembuatan sampai kompos menjadi matang dengan kriteria: berwarna coklat kehitaman, berbau tanah, dan men-dekati suhu stabil lingkungan. Pengukuran unsur N, P, dan K dilakukan di laboratorium BBTKL Yogyakarta. Di kelompok kontrol, kompos terbentuk secara rata-rata dalam 34,7 hari, semen-tara di kelompok perlakuan perbandingan 1:1:2; 1:1:3; dan 1:1:4; secara berturut-turut kompos terbentuk dalam 25,3 hari, 27,3 hari, dan 29,7 hari. Hasil uji anava satu jalan menghasilkan nilai p < 0,001 yang berarti bahwa perbedaan tersebut signifikan. Rata-rata kadar N, P, dan K yang dihasilkan oleh kelompok kontrol masing-masing adalah: 1,0438 %, 0,1880 %, dan 1,4045 %. Sementara itu, di kelompok perlakuan 1:1:2 hasilnya adalah: N, 1,4639 %; P, 0,2699 %; dan K, 1,2320 %; kelompok perlakuan 1:1:3; N, 1,0465 %; P, 0,2707 %; dan K, 1,3154 %; serta di ke-lompok perlakuan 1:1:4; N, 0,8865 %; P, 0,2285 %; dan K, 1,2992 %. Dapat disimpulkan bah-wa bio-slurry dapat mempercepat waktu dan meningkatkan kualitas pengomposan, dimana pe-nambahan yang paling efektif adalah dengan menggunakan perbandingan 1:1:2.

 

Kata Kunci : bio-slurry, aktivator, kompos, sampah rumah tangga, NPK

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.7, No.2, November 2015, Hal 51 – 58

Full Text

Post On : 2 November 2015

 

EFEKTIVITAS PENAMBAHAN KOAGULAN DAN MEDIA FILTRASI DALAM MENURUNKAN KADAR TSS, AMONIA DAN FOSFAT LIMBAH CAIR RSPAU Dr. SUHARDI HARDJOLUKITO YOGYAKARTA

Donni Septiandi*, Bambang Suwerda**, Adib Suyanto**

 * Akademi Kesehatan Lingkungan Pemprov Sumatera Selatan, Jl. Mawar No.2711, Palembang

email: donniseptiandi21@gmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Gamping, Sleman, DIY 55293

 

Abstract

Activities in hospitals not only bring positive impact to general community, but also potential of reduce the quality of environment and public health, e.g. negative effect from the yielded waste.  Based on the preliminary study on the liquid waste produced by Air Force Hospital Dr. Suhardi Hardjolukito in Yogyakarta, it was found that the concentration of TSS, ammonia and phosphate were exceeding the quality standard regulated by Yogyakarta Governor’s Decree No 07 in 2010. The aim of the study was to understand the effectiveness of the addition of coagulant consisted of lime and alum, with filtration media of 40 cm-thick quartz sand and 40 cm-thick zeolite in reducing the concentration of the three parameters by conducting a true experiment with pre-test post-test with control group design. The object of this research was the processed liquid waste from the hospital and the subsequent waste water sample were obtained by using composite sampling me-thod. The study was carried out in five replications and taken place at Yogyakarta Polytechnic of Health. Meanwhile, the examination of the parameters were conducted in Health Laboratory Office of Yogyakarta. The data were statistically tested by using one way anova, and the results showed that the coagulants and quartz sand could decrease the concentration of TSS, ammonia and phos-phate as much as 30,91 %, 39,32 % and 36,44%, respectively; while the coagulants and zeolite could lower the concentration of TSS by 46,89 %, ammonia by 68,37 %, and phosphate by 68,38 %). Because the following p-values gained from the statistic test were 0,003; 0,007; and <0,001; respectively, it can be concluded that the coagulant and the filtration media were significantly able for reducing TSS, ammonia and phosphate concentration in the liquid waste, and zeolite was de-termined as the most effective filter.

    Keywords : hospital liquid waste, coagulant, lime, alum, filtration media, quartz sand, zeolite, total suspended solid, ammonia, phospate

 

Intisari

 Kegiatan rumah sakit tidak saja memberikan dampak positif bagi masyarakat, tetapi mempunyai potensi besar untuk menurunkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat, di antaranya karena limbah yang dihasilkan. Berdasarkan uji pendahuluan terhadap limbah cair yang ada di RSPAU Dr. Hardjolukito Yogyakarta, diperoleh hasil bahwa kadar TSS, NH3 bebas dan fosfat  ma-sih melebihi baku mutu yang diatur oleh SK Gubernur DIY No 07 Tahun 2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penambahan koagulan berupa kapur dan tawas, dengan me-dia filtrasi pasir kuarsa berketebalan 40 cm serta media filtrasi zeolit berketebalan 40 cm dalam menurunkan kadar ke tiga parameter limbah tersebut, dengan melakukan penelitian true experi-ment dengan rancangan pre-test post-test with control group. Obyek penelitian adalah limbah cair terolah RSPAU Dr. Hardjolukito dan cara pengambilan sampel menggunakan metoda composite sampling. Penelitian dilakukan dalam lima kali ulangan di Politeknik Kesehatan Yogyakarta, se-mentara pemeriksaan parameter yang diteliti dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Yogya-karta. Data hasil pemeriksaan diuji dengan one way anova, dan hasilnya menunjukkan bahwa penambahan koagulan dan media filtrasi pasir kuarsa dapat menurunkan kadar TSS sebanyak 30,91 %, amonia sebanyak 39,32 %, dan fosfat sebanyak 36,44 %. Sementara itu, penambahan koagulan dan media filtrasi zeolit dapat menurunkan kadar TSS sebanyak 46,89 %, amonia se-banyak 68,37 %, dan fosfat sebanyak 68,38 %. Nilai p yang diperoleh dari uji anova untuk kadar TSS, amonia dan fosfat, secara berturut-turut adalah sebesar 0,003; 0,007; dan < 0,001; sehingga dapat disimpulkan bahwa penambahan koagulan dan media filtrasi yang digunakan dalam pe-nelitian ini mampu menurunkan kadar TSS, amonia dan fosfat di dalam limbah cair secara ber-makna; dan media filtrasi yang lebih efektif adalah zeolit.

    Kata Kunci : limbah cair rumah sakit, koagulan, kapur, tawas, media filtrasi, pasir kuarsa,  zeolit,  padatan terlarut total, amonia, fosfat.

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.5, No.3, Februari 2014, Hal 132 – 139

Full Text

Post On : 2 Februari 2014