PEMANFAATAN LIMBAH BULU AYAM SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PAKAN UNTUK PERTUMBUHAN (BERAT DAN PANJANG) IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Pipit Ika Lestari*, Yamtana**, Bambang Suwerda***

 * JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: pipitike@gmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 Abstract

 Chicken feather contain protein which is useful for the growth of livestock. The purpose of this study was to determine the effect of the addition of chicken feather waste to fish feed towards the growth (weight and length) of Nila fish. The chicken feather waste and feed preparation was took place at Sekawis Village of Kecamatan Kebonarum in Madiun. The breeding ponds of the fish was located at the Polytechnic of Health of Yogyakarta, in Tata Bumi Street No. 3 Banyura-den, Gamping, Sleman, Yogyakarta. The Nila fish was obtained from “Mina Kepis” fish breeder community in Burikan Sub Village, Sumberadi Village, Mlati Subdistrict, Sleman Regency. The research method used was true experiment with pre-test post-test control group design. As the independent variable was three addition variation of chicken feather waste, i.e. 4 %, 7 %, and 10 %. The number of Nila fish for each feed variation was 20. The measurement of post-test was after 30 days feeding. The results of One Way Anova test  at 95 % significance level show that the growth differences among the three variation of feed were signicant (p-values < 0,001), and the subsequent LSD test concludes that the 10 % addition of chicken feather waste to fish feed is the most effective towards the growth of Nila fish.

    

Keywords : chicken feathers waste, fish feed, nila fish

 

Intisari

 Bulu ayam memiliki kandungan protein yang berguna bagi pertumbuhan ternak. Tujuan peneli-tian ini adalah mengetahui manfaat penambahan pakan yang ditambah dengan limbah bulu ayam terhadap pertumbuhan (berat dan panjang) ikan Nila (Oreochromis niloticus). Pengambil-an limbah bulu ayam dan pengolahan pakan dilakukan di Dusun Sekawis, Kecamatan Kebon-sari, Kabupaten Madiun. Adapun kolam pemeliharaan ikan Nila berlokasi  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3, Banyuraden, Gamping, Sleman. Ikan Nila yang diteliti berasal dari Kelompok Pembudidaya Ikan “Mina Kepis” di Dusun Burikan, Desa Sumberadi, Kecamat-an Mlati, Kabupaten Sleman. Metoda penelitian yang digunakan adalah eksperimen sungguhan (true experiment) dengan rancangan “pre-test post-test with control group”. Sebagai variabel bebas adalah tiga variasi penambahan limbah bulu ayam sebagai bahan tambahan pakan, yaitu sebanyak 4 %, 7 %, dan 10 %. Banyaknya ikan Nila untuk setiap variasi pakan adalah 20 ekor. Pengukuran post-test dilakukan setelah 30 hari pemberian pakan. Analisis data dengan menggunakan uji One Way Anova pada derajat kepercayaan 95 %, menunjukkan bahwa perbedaan pertumbuhan ikan Nila yang dihasilkan dari ketiga variasi pakan yang digunakan, berbeda secara bermakna (nilai-nilai p < 0,001), dan uji lanjutan LSD menyimpulkan bahwa variasi penambahan 10 % limbah bulu ayam ke dalam pakan ikan adalah yang paling efektif bagi pertumbuhan ikan Nila.

 

Kata Kunci : limbah bulu ayam, pakan ikan, ikan nila

 Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8, No.1, Agustus 2016, Hal 22 – 28

Full text

Post On : 2 Agustus 2016

EFEKTIFITAS BERBAGAI DOSIS REKASHET UNTUK MENURUNKAN KESADAHAN AIR SUMUR GALI DI DESA JIMBUNG, KALIKOTES, KLATEN

Novi Astrini*, Haryono**, Bambang Suwerda**
* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: natrini@ymail.com
**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Abstract
Jimbung village is a limestone hilly or mountaineous area. This condition causes the dug well water contain lime or have high hardness. The use of hard water continuously can raise several problems, among others: health disorder such as kidney stones disease, economical problem because of the increase use of soaps, and technical problems such as crust on household appliances. The purpose of this research was to know whether the addition of various resin doses affect the decrease of water hardness of the well water. The type of the research was an experiment with pre-post test with control group design. In the control group, the water sample were boiled, meanwhile in the treatment group, in addition to the boiling, Rekashet were also added to the sample water. Rekashet is an abbreviation for cation resin sachet, i.e. resin which is packed practically in a sachet like a tea bag. Data from water hardness measurement between pre-test and post-test were analyzed by using paired sample t-test at 95 % significance level. The results show that p-value obtained for the control group was 0,006; Rekashet dose of 2 gr/L was 0,001; Rekashet dose of 3 gr/L was 0,004; Rekashet dose of 4 gr/L was <0,001; Rekashet dose of 5 gr/L was 0,002; and Rekashet dose of 6 gr/L was 0,004. To conclude, various doses of Rekashet addition influence the decrease of water hardness from water wells in Jimbung Village.
Keywords : resin, ionic resin, cation resin, rekashet, water hardness
Intisari
Desa Jimbung merupakan wilayah berbukit atau bergunung kapur, yang menyebabkan air su-mur gali di sana mengandung kapur atau bersifat sadah. Penggunaan air sadah secara terus-menerus dapat menimbulkan berbagai masalah, antara lain gangguan kesehatan berupa pe-nyakit batu ginjal, gangguan ekonomi berupa meningkatnya penggunaan sabun, dan gangguan teknis berupa munculnya kerak pada alat-alat rumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penambahan berbagai dosis resin berpengaruh terhadap penurunan kesa-dahan air sumur gali di desa tersebut. Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimen de-ngan rancangan pre-post test with control group. Pada kelompok kontrol, sampel air sadah di-rebus, sementara pada kelompok perlakuan, selain perebusan juga ditambahkan Rekashet, yaitu resin yang sudah dikemas secara praktis dalam bentuk sachet seperti teh celup. Data hasil pengukuran kesadahan antara pre-test dan post-test diuji dengan paired sample t-test pada taraf signifikansi 95 %. Dari hasil uji tersebut, diperoleh nilai p untuk kelompok kontrol sebesar 0,006; kelompok Rekashet dosis 2 gr/L sebesar 0,001; Rekashet dosis 3 gr/L sebesar 0,004; Rekashet dosis 4 gr/L sebesar <0,001, Rekashet dosis 5 gr/L sebesar 0,002; dan Rekashet dosis 6 gr/L sebesar 0,004. Dapat disimpulkan bahwa penambahan Rekashet dalam berbagai dosis mem-pengaruhi penurunan kesadahan air sumur gali di Desa Jimbung.

Kata Kunci : resin, resin ionik, resin kation, rekashet, kesadahan

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.7, No.3, Februari 2016, Hal 106 – 110

FULL TEXT

Post on : 2 Februari 2016

PERAN-SERTA PEMILIK INDUSTRI TERHADAP PERILAKU PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA PEKERJA PAHAT BATU DI TAMANAGUNG MUNTILAN

Nurul Asna*, Lucky Herawati**, Sardjito Eko Windarso**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: asna_nurul74@ymail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 

Abstract

 

The working environment of stone carvingworkers in Tamanagung Village of Muntilanhas potentialhazards that may lead to healthproblems. Thosepotential hazardscan be prevented through proper and routine use of personal protective equipments (PPE). However, in practice, most of the workersare notaccustomed to use the PPE. Therefore, the role ofthe owners to remindand to admonishthe workersneeds tobe realized. This research was aimed to prove that the participation of industry owners can improve knowledge, attitude and practice of PPE among the carving stone workers. The research design was a quasi experiment with non-randomized pre-test posttest with control group. As the study subjects were workers of nine industries, i.e. 31 workers from four industries were assigned to experiment group and 32 workers from five industries were assigned to control group. The obtained study results show that the average value of knowledge, attitude and practice in the experiment group increased, respectively at 9.48; 3.42; and 3.54; meanwhile in the control group, they were at 2.69; 1.44; and 2.22; respectively. Nonparametric analysis with Mann Whitney test at 95 % level of significan-cy found that the improvement differences between the experiment and the control groups for knowledge and attitude of PPE use were significant (p-value < 0.05), and not significant (p-value = 0,083) for PPE use practice. Based on the results, it can be concluded that participation of industry owners influences the knowledge and attitudeof PPE use among their stone carving workers.

 

Keywords : industry owner participation, stone carving worker, personal protective equipment

 

Intisari

 

Lingkungankerja pekerja pahat batu di DesaTamanagung, Muntilan, memiliki potensi bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Potensi bahaya tersebut dapat dicegah melaluipemakaian APD yang benar dan rutin.Namundemikian, dalam praktiknya, sebagian besar pekerja di sanatidak terbiasa menggunakannya. Olehkarenaitu, peran pemilik sebagai penanggungjawab untuk mengingatkan dan menegur pekerja perlu diwujudkan. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwaperanserta pemilik industri dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik pekerjadalampemakaian APD. Jenis penelitian yang dilakukanadalah eksperimen semu dengan desain non-randomized pre-test posttest with control group.Subyek penelitian adalah pekerjadari sembilan industri pahatbatu, yakni 31 pekerja dari 4 industri sebagai kelompok ekperimen dan 32 pekerja dari 5 industri sebagai kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan rata-rata nilai pengetahuan, sikap, dan praktik pada kelompok eksperimen, secara berturut-turut sebesar 9,48; 3,42; dan 3,55; danpadakelompokkontrol, secaraberturut-turutsebesar 2,69; 1,44; dan 2,22. Analisissecaranonparametrik dengan uji Mann Whitneypadaderajatsignifikansi 95 % menyatakanbahwaperbedaankenaikan tingkat pengetahuan dan sikapataspemakaian APD oleh pekerjaadalahbermakna (nilai-p < 0,05), sementarauntukperbedaankenaikantingkatpraktik, tidakbermakna (nilai-p= 0,083). Dari hasil tersebutdapat disimpulkan bahwaperanserta pemilik industriberpengaruh terhadap pengetahuan dan sikappekerja pahat batudalammemakai APD.

 

Kata Kunci : peranserta pemilik industri, pekerja pahat batu, alatpelindungdiri

 

full text

pdf

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.7, No.4, Mei 2016, Hal 174 – 180

Posted on : 2 Mei 2016

PENGGUNAAN KURSI ERGONOMIS UNTUK MENGURANGI KELUHAN NYERI OTOT RANGKA (MUSCULOSKELETAL DISORDERS) PADA PEKERJA LAUNDRY DI WILAYAH KOTA YOGYAKARTA

Dian Sugesti Ningsih*, Lucky Herawati**, Agus Suwarni**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: 11diansugesti@gmail.com

**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 

Abstract

 

Musculokeletal disorders is a pain at parts of skeletal muscles felt by a person which is caused by various factors, either internal or external. Musculoskeletal disorders is a common health pro-blem found in industrial sectors, included in the informal ones, such as in laundry business. Iron-ing process in laundry activities takes long duration and is a monotonous work. Many workers experiencing pain in their skeletal muscle after ironing, of which ergonomic factor is considered as one of the causes. Therefore, the research was intended to study about the application of er-gonomic chair in reducing the musculoskeletal disorders among laundry workers in Yogyakarta city by conducting a true experiment with pre-test post-test with control group design. As the study subjects were 30 ironing workers taken from 30 laundry services selected as the sample. They were then divided equally into two groups, i.e. 15 were allocated both in the treatment and the control groups. Proportional cluster random technique was used in the sampling process. The measurement of musculoskeletal pain employed a 15 item questionnaire based on the Nor-dic Body Map questionnaire. The data then were analyzed by using Mann-Whytney test with α=0,05 and obtained a p-value of 0,0001 which shows that the pain difference between the control and the treatment groups was significant. In the treatment group, after using the ergo-nomic chairs, the pain was felt decrease at waist, back, left hand and left foot; meanwhile in the control group, the measurement results in pre-test and post-test were similar. Based on the results, it is advised that coordination between the Licensing Office and laundry owners is need-ed to provide ergonomic chairs for the workers to work comfortably and to avoid the muscular skeletal disorders. For further studies it is recommended to consider nutritional status, psycho-logical state and workload of the workers when applying the ergonomic chairs.

 

Keywords : ergonomic chair, skeletal muscle pain, laundry workers

 

Intisari

 

Gangguan musculoskeletal adalah keluhan pada bagian otot rangka yang dirasakan oleh sese-orang yang  disebabkan oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Keluhan nyeri otot rangka merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi di dunia industri, termasuk yang ber-sifat informal seperti usaha laundry. Proses menyetrika di laundry membutuhkan waktu penger-jaan yang panjang dan bersifat monoton. Banyak pekerja merasakan keluhan nyeri otot rangka sesudah melakukan kegiatan ini, di mana faktor ergonomi merupakan salah satu penyebabnya. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk mengkaji tentang penggunaan kursi ergonomis terha-dap penurunan keluhan nyeri otot rangka pada pekerja laundry di wilayah Kota Yogyakarta de-ngan melakukan eksperimen sungguhan menggunakan rancangan pre-test post-test with control group. Subyek penelitian adalah 30 pekerja penyetrika dari 30 usaha laundry di Kota Yogyakarta yang terambil menjadi sampel. Subyek penelitian dibagi menjadi dua kelompok yaitu masing-masing sebanyak 15 untuk kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Pengambilan sampel me-makai teknik proporsional cluster random sampling. Pengukuran keluhan menggunakan kuesio-ner yang terdiri dari 15 item pertanyaan yang diambil dari kuesioner Nordic Body Map. Data di-analisis dengan Mann-Whitney test pada α=0,05 dan diperoleh nilai p = 0,0001 yang menunjuk-kan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara selisih keluhan pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Pada kelompok perlakuan, setelah menggunakan kursi ergonomis, penu-runan keluhan ditemui untuk pinggang, punggung, tangan kiri dan kaki kiri; sedangkan pada ke-lompok kontrol, hampir semua keluhan pada pengukuran pre-test dan post-test menunjukkan kesamaan. Berdasarkan hasil tersebut, diperlukan koordinasi antara Dinas Perizinan dengan pa-ra pemilik usaha laundry untuk menyediakan kursi ergonomis agar pekerja dapat beraktivitas de-ngan nyaman dan mencegah keluhan nyeri otot rangka. Adapun untuk penelitian lanjutan disa-rankan untuk memperhatikan status gizi, keadaan psikologis dan beban kerja dalam menerap-kan kursi ergonomis

 

Kata Kunci : kursi ergonomis, nyeri otot rangka, pekerja laundry

dalam penggunaan kursi ergonomisng technique was used

full text

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8 No.1, Agustus 2016, Hal 1 – 8

Posted on : 2 Agustus 2016